My Om

My Om
Part 9 : Ikut



Sarapan kali ini terasa begitu berbeda dari biasanya. Padahal momen-momen sarapan bersama cukup jarang, dan kali ini malah seperti momen yang kurang dinikmati di meja makan keluarga Geraldo.


''Makan sarapanmu, Mama sudah siapkan yang lain buat jadi bekalmu,'' ucap Renata yang sesekali mengeluarkan kata-kata yang tidak terlalu penting, sekedar untuk sedikit mencairkan suasana.


''Biarkan saja kalau dia tidak ingin sarapan,'' ujar Jonatan terdengar begitu dingin.


Anya yang sedang mengunyah sepotong roti tiba-tiba menghentikan aktivitasnya itu. Namun dengan cepat Anya memasukkan potongan roti lainnya ke dalam mulut hingga terasa penuh.


''Pelan-pelan makannya, sayang,'' ucap Renata memperhatikan apa yang dilakukan putrinya.


''Anya berangkat,'' ujarnya berdiri dari kursi lalu memasukkan kotak bekal yang sudah disiapkan ke dalam tasnya.


''Loh, ga nungguin Papa?'' ucap Renata ikut berdiri.


''Udah telat,'' ujar Anya sambil melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kanannya.


''Ya udah, hati-hati ya,'' pesan Renata.


''Hm,''


Anya berjalan melewati kursi yang diduduki oleh Jonatan. Matanya melirik sebentar ke arah ayahnya yang masih sibuk dengan sarapan.


Anya masih merasa kesal dengan kata-kata ayahnya malam tadi. Dan sekarang, masih di pagi hari, ayahnya kembali membuat awal hari Anya hancur hanya dengan sepatah dua patah kata yang keluar dari mulutnya.


Anggap saja sekarang dirinya tengah merajuk dan Anya bertekad untuk tidak akan mengajak bicara ayahnya terlebih dahulu.


Masih cukup pagi hari ini Anya sampai di sekolah. Momen yang cukup langka pikirnya.


Saat berjalan di koridor, Anya tersentak ketika seseorang merangkulnya secara tiba-tiba.


''Hey!'' reflek Anya menghentikan langkahnya.


Saat melihat seseorang yang merangkulnya itu, Anya merasa lega. Pasalnya ia mengira itu adalah Renan.


''Astaga, Rey, gue kaget anjir,'' ujar Anya lega.


''Sorry, Nya, gue ga maksud buat lo kaget,'' ucap Rey menjadi merasa tak enak.


''Gapapa kok, gue cuman kaget aja,''


Mereka berdua pun kembali melangkahkan kaki mereka.


''Lagi mikirin apa sih, sampe kaget gitu?"


Anya tersenyum simpul. ''Kalo gue bilang ga ada kayanya boong banget ya? Tapi gue tetep mau jawab, ga mikirin apa-apa,''


Giliran Rey terkekeh. ''Random banget lo,''


Anya hanya membalas dengan senyuman dan kembali menatap ke depan.


Saat mereka tiba di persimpangan koridor menuju ruang kelas masing-masing.


''Mau jalan-jalan dulu bentar? Mumpung masih banyak waktu,'' ajak Rey sambil memeriksa jam di ponselnya.


Anya pun mengangguk setuju. ''Boleh deh, gabut banget rasanya jam segini udah di kelas,''


Rey pun tersenyum senang karena ajakannya diterima oleh Anya.


''Lo punya temen, Nya?'' tanya Rey membuka percakapan.


''Punya,'' jawab Anya.


''Siapa?" tanya Rey penasaran.


''Lo,'' jawab Anya dengan mantap.


''Terus?''


Anya menggeleng. ''Ga ada,''


''Gue ga tau mau seneng apa sedih dengernya,''


''Lo kudunya bangga lah karena ga mudah jadi temen gue loh,'' ucap Anya sombong.


Rey terkekeh. ''Bener juga, sih,''


''Kalo lo?'' Anya berbalik tanya.


''Ga ada,'' jawab Rey.


Anya langsung menoleh pada Rey dan memberikan tatapan tak percaya pada cowok itu.


''Lah gue bukan temen lo, nih?" sindir Anya yang kecewa dirinya tak dianggap teman balik oleh Rey.


''Bukan, lo itu pacar gue,'' ucap Rey dengan lantang hingga membuat Anya menatap Rey serius.


''Bhahahahaha,'' tiba-tiba tawa Rey pecah membuat Anya menatap aneh cowok itu.


''Becanda, Nya,'' ucap Rey.


Anya pun bernapas lega.


''Eh, kalo lo mau ga papa sih,'' lanjut Rey dan langsung mendapat tatapan tidak bersahabat dari Anya.


''Ga!'' ucap Anya lalu berjalan lebih cepat meninggalkan Rey di belakangnya.


Anya yang sadar mereka menjadi sorotan murid-murid lain, memilih untuk tidak menoleh. Namun Rey berhasil mengejarnya, bahkan tangannya sudah berada dalam genggaman Rey.


''Rey, diliat yang lain ish!" protes Anya sambil berusaha melepaskan genggaman tangan Rey.


Bukannya menuruti Anya, Rey malah semakin erat karena merasa senang menggoda Anya.


''Ish, sengaja banget ih!" kesal Anya ketika melihat ekspresi wajah meledek Rey.


''Anya?''


Itu bukanlah suara Rey yang memanggil, melainkan dari seorang cowok yang baru saja datang menghampiri mereka.


''Renan?'' ucap Anya dan tiba-tiba mengeratkan genggaman tangannya pada Rey.


''Gue perlu bicara sama lo, bisa?" ucap Rey terdengar sangat berhati-hati.


''Gue pikir lo ga budek waktu itu. Inget kan gue pernah bilang apa ke lo?" ujar Anya dengan nada dan ekspresi yang dingin. Bahkan Rey pun berpikir Anya yang sekarang terlihat menyeramkan.


Renan, cowok itu tampak tak percaya Anya mengucapkan kata-kata yang bisa dibilang cukup kejam baginya setelah sekian lama kenal.


''Lo cowo barunya, Anya?" kini giliran Renan bertanya pada Rey.


''Kenapa?" tanya Rey merasa tertantang dengan cowok di hadapannya.


''Gue mau ngomong sesuatu sama Anya, bentar. Gue perlu waktu berdua,'' ucap Renan.


Rey pun tersenyum remeh lalu menarik Anya memperpendek jarak mereka.


''Pacar gue ga nyaman sama lo, kalo mau ngomong di sini aja ga papa,'' ucap Rey.


Merasa keadaan menjadi semakin rumit, Renan pun memilih menyerah.


''Kalo lo ga mau sekarang, gapapa kok Nya. Gue nunggu sampe lo siap aja,'' ucap Renan dengan menatap Anya.


Anya tak membalas tatapan Renan, dia memilih untuk menatap ke arah lain karena dirinya tidak ingin goyah jika sampai berkontak mata dengan cowok itu lagi.


''Semoga lo bisa bikin Anya lebih nyaman,'' pesan Renan pada Rey.


''Gue ke kelas dulu,'' pamit Renan lalu pergi begitu saja.


Setelah kepergian Renan, Anya akhirnya bisa benapas lega.


''Gapapa, Nya?" tanya Rey khawatir karena Anya terlihat tidak biasa.


Anya mengangguk. ''Aman, kok,'' ucapnya sambil memberikan senyum.


''Yuk, jalan lagi,'' ajak Anya ketika merasa dirinya lebih stabil dari sebelumnya.


Mereka pun kembali berjalan menyusuri koridor yang mulai di penuhi oleh murid-murid yang berangkat.


''Rey, gue mau ke rooftop,'' ucap Anya.


"Gue temenin,'' ujar Rey dan selanjutnya tidak mendapat penolakan dari Anya.


Beruntung tak ada orang di rooftop. Apalagi sudah mulai mendekati bel masuk, pasti banyak yang sudah bergegas masuk ke dalam kelas.


Mereka duduk di sebuah bangku panjang. Anya terduduk diam tanpa melakukan apapun.


Rey merogoh saku dalam jaket kulit yang dipakainya dan mendapatkan sesuatu lalu menyodorkannya pada Anya.


''Gue ga nyebat, lo aja,'' ucap Anya menolak tawaran Rey.


Rey pun menyalakan rokok untuk dirinya sendiri sembari menemani Anya hingga sudah habis hampir putung ketiga. Dan bel masuk sudah berbunyi sejak beberapa menit yang lalu.


''Lo ga masuk kelas?" tanya Anya pada Rey.


''Lo sendiri? Mau masuk apa kaga?" Rey berbalik tanya.


Anya menggeleng. ''Nanti aja abis istirahat pertama,''


''Ya udah sama,'' ucap Rey.


''Apaan sih ikut-ikut mulu,'' cibir Anya.


Rey terkekeh dengan ekspresi yang dibuat Anya. ''Bersyukur nih lo punya temen baik kaya gue yang nemenin lo bolos dan kaga cepuan,''


''Tawaran lo kemarin masih berlaku?" tanya Anya tiba-tiba.


Seketika wajah Rey berubah sedikit lebih serius. ''Jelas masih,''


''Gue ikut,'' ucap Anya dengan cepat.


''Lo yakin?" malah giliran Rey yang terlihat ragu.


''Yakin lah. Gue pengen nyoba,'' ucap Anya meyakinkan.


''Gue janji ga bakal ngrepotin lo," lanjut Anya sambil menunjukkan jari kelingkingnya.


Rey mengangguk-angguk. ''Oke, ntar gue jemput lo di rumah?"


"Eh, jangan! Jemput gue di studio aja, soalnya jadwal latihan gue hari ini,''


Rey pun mengangguk.