
Anya terbangun ketika rasanya sinar matahari sedang berusaha menerobos gorden jendelanya.
Ia merasakan pagi hari yang sangat cerah tak seperti biasanya. Anya menebak, sore atau malam nanti pasti akan turun hujan.
Karena ini weekend, Anya bisa bermalas-malasan sebentar di kasur. Apalagi tubuhnya terasa sangat lelah.
Tok tok tok
''Non Anya, sudah bangun?"
Anya sudah bisa menebak jika itu adalah Mbok Mirah, bahkan dari bunyi ketukan pintu pun itu sudah sangat jelas.
''Iya Mbok, udah." sahut Anya.
''Non Anya, dipanggil Nyonya buat sarapan di bawah,'' ucap Mbok Mirah masih di balik pintu.
''Oke Mbok,'' balas Anya.
Dengan malas, Anya bangkit dari kasur. Sebelum turun ke bawah Anya menyempatkan untuk ke kamar mandi membasuh mukanya.
Anya menuruni anak tangga sembari mengamati ruangan yang berada cukup jauh namun masih bisa dijangkau mata.
Ruang apa lagi kalau bukan kamar tamu yang ditempati oleh Bryan untuk menginap.
Namun pintu kamar itu tertutup rapat. Tidak seperti tadi malam yang sedikit terbuka.
Anya sampai di meja makan, namun sepertinya ada yang kurang.
Tidak ada Bryan di sini. Atau mungkin pria itu sudah pulang lebih pagi?
"Om Bryan udah pulang, Ma?" tanya Anya pada Renata yang sedang sibuk menata hidangan dengan dibantu oleh Mbok Mirah.
''Om Bryan? Itu orangnya,'' jawab Renata sambil matanya menunjuk seseorang di belakangnya.
Anya pun menoleh ke belakang, dan memang sudah berdiri sosok Bryan di sana dan di susul Jonatan yang sudah lebih dulu duduk di kursinya.
''Kamu cari saya?" tanya Bryan.
''Eng-Engga Om. Cuma nanya,'' jawab Anya gelagapan.
Bryan kemudian menarik sebuah kursi dan duduk di sana. Namun Anya masih diam mematung. Ia baru menyadari penampilannya.
Jika tahu Bryan masih di sini, Anya pasti akan mandi dulu sebelum turun ke sini.
''Bau jigong pasti gue,'' batin Anya menggerutu sambil sedikit mengecek badannya bau atau tidak.
''Anya? Kenapa berdiri terus?" tegur Renata melihat putrinya berdiri mematung sambil melamun.
''Hah? Oh iya, Mah.''
Anya pun duduk di kursi yang berada di sebelah Bryan.
Berada di samping Bryan membuat ingatan tentang semalam terus berputar di kepala Anya.
Mereka pun makan dengan tenang, tak ada perbincangan apapun.
Setelah selesai makan, Renata tiba-tiba menghampiri Anya yang baru saja akan naik ke kamar.
''Anya, kamu siap-siap gih,'' ucap Renata.
''Siap-siap apa, Mah? Anya latihannya nanti sore,'' ujar Anya.
''Kamu sama Bryan diajak Eyang jalan-jalan,'' ucap Renata.
''Kok Mama baru bilang?" protes Anya.
''Mama kelupaan,'' ucap Renata.
''Hari ini kamu izin libur dulu ya latihannya?'' lanjut Renata.
''Engga bisa, Ma. Ini udah H min berapa aja masa aku ga latihan?"
''Tapi kamu kan ada acara sama Eyang, dan itu ngga mungkin sebentar.''
''Nanti Anya bisa latihan habis sama Eyang,''
''Apa kamu ngga kecapean nanti?" tanya Renata khawatir.
Anya menggeleng. ''Engga, Mah.''
Jika Anya sudah berniat, maka Renata pun tidak bisa berkutik.
''Tapi Mama juga belum tau Eyangmu mau ngajak kamu kemana,'' ucap Renata.
Eyang memang selalu melakukan ini pada cucu-cucunya yang akan menikah.
***
Bryan menjemput Anya dan kini mereka berdua sedang menuju ke kediaman Geraldo.
Suasana di dalam mobil seperti biasa hening. Bahkan tak ada suara musik atau apapun.
Anya juga masih sedikit merasa canggung. Namun ia masih penasaran siapa yang memindahkannya ke kamar.
''Om,'' ucap Anya membelah keheningan.
''Hm?" jawab Bryan fokus menyetir tanpa menoleh barang sebentar pun ke arah Anya.
''Ga jadi deh,'' ucap Anya mengurungkan niatnya untuk bertanya tentang tadi malam.
Bryan tak membalas apapun dan itu malah membuat Anya cukup kesal dibuatnya.
''Kenapa Eyang tiba-tiba ngajak kita?" tanya Anya mencoba mencairkan suasana dan menghilangkan rasa canggungnya.
''Karena kita akan menikah,'' ucap Bryan.
Anya pun mengingat-ingat kembali tentang kedua kakaknya, Aldo dan Alista.
Jika dipikir-pikir lagi ternyata memang sama. Dulu Kak Alista dan suaminya pun pernah diajak pergi bersama Geraldo untuk menemaninya memancing.
Bahkan Kak Alista pernah bercerita padanya jika ia sampai kesemutan menunggu Eyang memancing dari pagi sampai menjelang sore, namun tak ada satu pun ikan yang didapat.
Anya bahkan masih ingat betul bagaimana kondisi Alista setelah pulang. Kakaknya itu terus merengek karena seharian kulitnya terpapar sinar matahari, lalu banyak nyamuk di sana, jalan untuk menuju Eyang memancing pun cukup sulit dijangkau kendaraan sehingga mereka harus berjalan di jalan bebatuan yang kotor.
Setelah itu bahkan Alista meminta manajernya untuk memundurkan jadwalnya selama seminggu untuk dirinya memulihkan kulit.
Sedangkan untuk kakaknya, Aldo. Sebentar, beri Anya waktu untuk mengingatnya.
Oh ya! Anya sudah mengingatnya sekarang.
Bahkan untuk Kak Aldo, Anya merasa itu lebih parah dari pada Kak Alista yang menemani Eyang memancing seharian.
Kak Aldo dan calon istrinya pada saat itu diajak oleh Eyang ke kebun teh. Namun, mereka disuruh untuk ikut memetik teh sampai terisi penuh.
Kak Aldo dan istrinya pun bahu-membahu untuk memetik teh dengan diajari oleh Eyang.
Kelihatannya ini lebih mudah dari Alista, tapi nyatanya tidak.
Istri Kak Aldo harus mengalami gatal-gatal akibat terkena ulat atau serangga di sana. Bahkan Kak Aldo harus didiami oleh kakak ipar selama dua minggu. Dan pernikahan mereka terancam gagal. Namun Kak Aldo berhasil meluluhkan kembali hati calon istrinya.
''Itu sih udah jelas, tapi om ga penasaran kita bakal dibawa kemana sama Eyang?" ucap Anya.
''Buat apa penasaran? Nanti kita juga bakal tau kalau udah sampai di rumah Eyang,'' ujar Bryan. Bahkan sekarang dirinya mengubah panggilannya kepada Geraldo jika sedang bersama Anya. Bukan apa, hanya ingin menyesuaikan dengan gadis itu saja.
Anya pun memanyunkan bibirnya. Apakah Bryan emang selalu seperti itu jika diajak berbicara?
Tidakkah ingin sekali-kali jika Anya bertanya atau membahas sesuatu dia tampak excited? Setidaknya untuk menghibur Anya supaya tidak merasa kecewa.
Menyebalkan memang, tapi bagaimana lagi. Dirinya akan menikah dengan pria ini.
Tak lama kemudian, mobil Bryan sudah sampai di pelataran rumah Geraldo. Yang jika di lihat ketika matahari masih bersinar, ini terlihat sangat luas.
Mereka berdua turun dari mobil dan menghampiri Eyang yang sedang bersiap-siap dengan dibantu asisten-asistennya.
''Akhirnya sudah datang,'' sambut Geraldo ramah pada anak dan cucunya.
''Iya, Yah.'' balas Bryan sambil berjabat tangan dengan Geraldo.
''Halo, Eyang!" sapa Anya dengan ceria.
''Anya, Eyang masih tak menyangka kau sudah sebesar ini. Dulu kau hanya setinggi ini,'' ucap Geraldo sambil tangannya ke bawah menunjukkan tinggi Anya pada saat masih kecil.
Anya pun hanya tersenyum.
''Baiklah, karena kalian sudah di sini kita langsung jalan saja.'' ucap Geraldo.
''Kita bakalan kemana?'' tanya Anya penasaran.
Bahkan sedari tadi Anya sudah sangat deg degan. Ia membayangkan kakeknya akan membawanya kemana kali ini.
Tanpa Anya ketahui, Bryan yang sedari tadi terlihat tenang justru tak berbeda dari Anya.
Bryan juga merasa terus deg degan. Karena Bryan juga tahu tentang ayahnya yang dulu selalu mengajak cucu dan calon mereka pergi dan apa yang terjadi setelahnya.