
Anya baru memutuskan untuk kembali ke kelas karena jam pelajaran baru sudah dimulai.
Saat sedang keluar dari toilet, Anya tak sengaja berpapasan dengan Rey yang sepertinya akan masuk ke toilet.
Baik Anya maupun Rey saling menatap dengan wajah sama-sama terkejut.
"Rey? Ngapain Lo ke sini?" tanya Anya menaruh penuh curiga.
Rey yang merasa terintimidasi menjadi kebingungan, bukannya seharusnya dia yang bertanya seperti itu?
"Gue mau ke toilet lah. Lo sendiri abis ngapain di toilet cowok?"
"To-toilet cowok?! Yang bener?!"
Anya gelagapan, apa tadi karena buru-buru jadi dia asal masuk toilet cowok?
Anya memperhatikan sekitar, dan dia baru menyadari jika itu toilet putra apalagi sudah terpampang jelas gambar laki-laki.
"Astaga! Untung aja ngga ada yang masuk!" lega Anya.
"Lo kenapa sampe salah masuk toilet cowo, Nya?" tanya Rey.
"Oh, a-anu tadi aku lagi di hukum tapi kebelet banget jadi asal masuk toilet aja hehe." jawab Anya yang terlihat canggung.
Rey menaruh curiga dengan gerak-gerik Anya yang terlihat gelisah. Namun ia tak ingin berpikir yang tidak-tidak.
Rey mengangguk paham sambil ber-ooh ria.
"Eh, ya udah gue duluan ya mau masuk kelas!" ucap Anya berusaha mempersingkat waktu, agar ia tak mati canggung di toilet.
"Oke, hati-hati."
Tiba-tiba Anya menghentikan langkahnya, ketika ia mendengar suara gerombolan cowok.
Bukan apa, mereka adalah teman sekelas Anya yang biasanya akan nongkrong di depan toilet.
Buru-buru Anya masuk ke dalam salah satu bilik kamar mandi.
Dan Anya kembali terkejut ketika melihat Rey di dalamnya.
Anya pun buru-buru membuka pintu kembali, namun saat tubuhnya sudah setengah keluar dirinya melihat dua orang temannya masuk ke dalam sambil menyalakan rokok.
Anya pun kembali masuk ke dalam bilik yang sama dengan Rey dan menguncinya. Beruntung Rey sudah memakai celananya.
Napas Anya masih tersengal-sengal, baru saja tadi dirinya di hukum lari lapangan sekarang dirinya terjebak di toilet cowok karena salah masuk.
"Bentar, jangan keluar dulu," ucap Anya pada Rey dengan suara lirih.
"Kenapa emang?" tanya Rey.
"Ada gerombolan cowo kelas gue,"
Rey pun mengangguk paham. Dia kemudian duduk di atas toilet sedangkan Anya masih berdiri membelakangi pintu.
"Ga cape?" tanya Rey pada Anya.
"Hah?"
"Duduk sini," ucap Rey sambil menepuk pahanya.
"Lo gila?! Eng–"
Tanpa meminta persetujuan lagi, Rey langsung menarik tangan Anya hingga gadis itu terduduk di pangkuannya
Anya berusaha untuk berdiri, namun tubuhnya ditahan oleh Rey.
"Diem aja udah di sini," ucap Rey tepat di telinga Anya membuat bulu kuduk Anya meremang.
Posisi seperti ini bukankah terlalu dekat, pikir Anya. Membuat gadis itu tampak gelisah.
Rey tiba-tiba meletakkan dagunya di bahu Anya, sambil tangannya melingkar di perut Anya.
Anya pun sudah risih dan akan menyingkirkan kepala dan tangan Rey.
"Bentar aja, gue suka bau lo," ucap Rey.
"Iya."
Anya pun akhirnya membiarkan posisi mereka seperti itu.
Namun lama-kelamaan Rey mulai mengecup kecil leher Anya, membuat cewek itu merasa geli.
"Rey, hey..." jangan pikir Anya tidak tahu, dia sangat tahu tapi membiarkannya selagi tidak kelewat batas.
Namun Rey tak menggubris, dia malah semakin gencar menelusuri leher Anya sambil memberi kecupan-kecupan kecil.
Rey pun kemudian berhenti dan kembali merapikan rambut Anya yang ia singkirkan tadi.
"Mereka udah pergi, lo mau balik ke kelas sekarang?" ucap Rey.
"Gue balik ke kelas dulu," balas Anya bangkit dari pangkuan Rey.
"Anya?"
Jantung Anya langsung berdebar kala Rey memanggilnya dengan nada yang sulit ditebak.
"I-iya, Rey?"
"Nanti pulang bareng?"
Anya tampak berpikir dulu. Lagian nanti ia pasti dijemput. Papa dan Mamanya tak pernah membiarkan dia pulang sekolah sendiri.
Mungkin jalan-jalan sebentar dengan Rey nggak terlalu buruk
"Kalo lo ngga mau gapapa kok Nya."
"Eh, enggak kok gue mau Rey!"
"Syukurlah. Nanti gue jemput ke kelas lo ya?!"
"O-Oke, gue ke kelas dulu."
"Iya."
Apa gue suka sama Rey?
Ah ga mungkin!
Eh, mari kita lihat saja nanti!
Anya masuk ke dalam kelas. Beruntung guru yang kali ini adalah kesayangan murid-murid. Dia hanya meminta izin untuk masuk dan langsung diperbolehkan.
Namun sudah di dalam kelas, Anya tak bisa fokus terhadap pelajaran. Ia malah bengong memikirkan Rey sambil memainkan pulpen yang dipegangnya.
Setelah menunggu waktu yang seperti berjalan lama, akhirnya bel pulang berbunyi. Anya berdiri dari duduknya sambil menggendong tas.
Ia memilih untuk berjalan paling belakang. Semakin mendekati pintu kelas, jantungnya tiba-tiba berdegub kencang. Apalagi saat dia melihat tubuh tinggi Rey yang terlihat dari jendela tengah menatap pintu kelasnya seperti sedang menunggunya keluar.
Dan tibalah Anya di depan pintu kelas. Matanya saling bertatapan dengan mata Rey. Rey melemparkan senyum manisnya yang bisa membuat siapa saja meleleh.
"Udah nunggu lama?" tanya Anya untuk berbasa-basi padahal dia tahu kalau Rey sudah menunggunya jauh sebelum bel pulang berbunyi.
"Enggak kok, baru aja." jawab Rey.
Satu persatu kelas mereka lewati, membuat banyak pasang mata tertuju pada mereka. Banyak yang menatap kagum dengan keduanya, tapi tak jarang juga yang sambil berbisik ular.
Namun mereka terus berjalan, menanggapi mereka bukanlah hal yang penting. Walaupun sebenarnya Anya sedikit terganggu dengan ucapan mereka. Apalagi para ciwi-ciwi yang mengatakan Anya tak cocok dengan Rey.
Rey yang peka terhadap itu langsung melingkarkan tangannya di pundak Anya. Ia sedikit menyeret Anya agar menempel padanya.
Anya sebenarnya terkejut dengan perlakuan Rey itu. Namun Rey memberinya kedipan mata. Membuat Anya langsung ikut melingkarkan tangannya di pinggang Rey.
Kini mereka sudah sampai di tempat parkir motor. Cukup banyak juga teman-temannya yang pulang berboncengan dengan pacar mereka.
Rey memberikan helm untuk Anya dan membantunya.
"Maaf, gue bawa motor." ucap Rey sebelum Anya naik.
"Gapapa, gue malah suka naik motor." balas Anya jujur. Ya dia memang suka naik motor, hanya saja Papa dan Mamanya tak pernah mengizinkan hal itu.
Anya menapakkan kakinya. Tangannya berpegangan pundak Rey, dengan tangan Rey ikut menahan tangan Anya. Sampai Anya berhasil naik dan mereka langsung melesat pergi.
Dan sampailah mereka di depan rumah Anya.
"Mau masuk dulu, Rey?" tanya Anya.
"Kapan-kapan aja." jawab Rey.
Anya mengangguk sambil tersenyum. Entahlah, tiba-tiba dia merasa awkward dengan Rey.
"Besok, pulang bareng lagi?" tanya Rey.
Anya tampak sedikit berpikir, lalu ia mengangguk.
"Boleh. Ngga ngrepotin?"
"Engga lah! Malah seneng gue."
"Oke lah."
"Masuk sana gih, entar kepanasan kalo kelamaan di sini."
"Beneran lo ngga mau masuk dulu?"
"Engga, buruan masuk sana gih."
"Oke, gue duluan ya! Lo ati-ati di jalan, Rey."
"Oke, Anya."
Anya kemudian masuk ke dalam pintu gerbang yang sudah dibuka oleh satpam.
Sebelum masuk ke dalam, Anya membalikkan badannya dan melambaikan tangan kepada Rey.
Rey pun membalas lambaian tangan Anya dengan senyumnya.
Tak lama setelah masuk rumah, Rey membalikkan motornya dan melaju meninggalkan rumah Anya.
"Non?" panggil Mbok Mirah yang melihat Anya tengah bersandar di depan pintu sambil melamun.
"Non?" panggil Mbok Mirah sekali lagi sambil melambaikan tangannya.
"Astaga!" kaget Anya.
"Mbok Mirah ngagetin aku aja." ucap Anya masih memegang dadanya karena kaget.
"Lagian Non Anya ngelamun sendiri, Mbok takut ada apa-apa."
"Anya ngga papa kok, Mbok hehe."
"Hmm, pasti ada sesuatu nih Non Anya."
"Hehehe, tau aja Mbok Mirah ih."
"Apa si yang bikin Non Anya seneng, hm?"
"Coba tebak, Mbok."
"Emm, balikan sama Mas Renan?"
"Bukan."
"Dapet cowok baru?"
"Emm, hampir betul. Cuman baru temenan si Mbok, tapi tadi aku pulang bareng sama dia!!"
"Siapa namanya, Non?"
"Rey!"