My Om

My Om
Part 11 : Tertangkap Polisi



Anya kini tengah duduk bersama beberapa orang yang Rey katakan adalah teman-temannya.


Berbagai jenis alkohol sudah tersedia di meja. Anya sudah mencoba beberapa gelas, dan kepalanya sekarang sedikit merasa pusing.


Beberapa teman-teman Rey pergi ke dance floor. Sedangkan Anya sedang menahan mati-matian pusing di kepalanya, apalagi jika dirinya ikut berjoget di tengah-tengah kerumunan dengan cahaya remang-remang yang cukup membuat matanya sakit.


''Mau ikut?" tanya Rey dan dibalas gelengan kepala oleh Anya.


''Rey, kepala aku pusing banget,'' adu Anya bertingkah manja. Bahkan di sini Anya mengganti kata 'gue'  menjadi 'aku' membuat Rey tersenyum gemas mendengarnya.


Rey pun langsung merentangkan tangan kirinya, memberi kode pada Anya.


Anya dengan cepat merapatkan tubuhnya dengan Rey dan menyandarkan kepalanya di dada cowok itu.


Anya dapat merasakan bau tubuh Rey yang sangat manis, membuatnya sangat betah berlama-lama di sana.


Tak hanya itu, Anya dengan kesadisannya yang masih tersisa pun mengamati bagian tubuh Rey. Dada bidang dengan tonjolan yang pas, serta garis wajah Rey yang tegas.


Hingga pandangannya turun ke bagian leher Rey yang putih bersih. Anya sedikit tertarik dengan jakun Rey, apalagi beberapa kali jakun tersebut bergerak karena Rey menegak minumannya. Menurut Anya itu sangatlah menggoda.


Rey yang tahu berpikir untuk menggoda Anya. ''Mau pegang ga?"


"Boleh?" tanya Anya dengan menunjukkan puppy eyes nya.


Rey tertawa. ''Pegang aja,'' ucap Rey memberikan izin.


Seketika wajah Anya terlihat sangat senang. Ia dengan sedikit rasa ragu mengulurkan tangannya untuk menyentuh jakun Rey.


Saat sudah berhasil menyentuhnya, tiba-tiba Anya menarik tangannya dengan cepat karena salah tingkah. Bahkan sekarang wajahnya sudah dibenamkan di dada Rey karena menahan malu.


''Mau lagi ga?" tanya Rey menggoda.


Anya menggeleng dengan masih menenggelamkan wajahnya di dada Rey.


Rey langsung mendekap Anya dengan sangat erat karena sangking gemasnya. Sesekali Rey juga memberi kecupan di kepala Anya.


''Rey, Anya mau minum lagi,'' rengek Anya seperti anak kecil sedang minta permen.


''Mau yang apa?" tanya Rey.


''Emm, yang kaya Rey tadi,'' jawab Anya.


''Engga, itu terlalu strong buat lo,'' tolak Rey membuat Anya langsung kecewa.


Tiba-tiba seorang pria datang ke meja menghampiri mereka.


Pria itu tampaknya bukan orang asing, karena teman-teman Rey semua mengenalnya.


''Siapa, Rey?" tanya Anya pada Rey.


''Temen-temen gue kalo ke sini,'' jawab Rey.


Anya pun mengangguk paham dan tidak bertanya lebih detail lagi.


Tiba-tiba pandangan pria itu beralih pada Anya. ''Wah kayanya ada wajah baru,'' celutuk pria itu.


''Temen gue,'' ucap Rey menanggapi.


Pria itu menganggukkan kepalanya. ''Mau nyoba ini, cantik?" pria itu mengeluarkan sebuah bungkus plastik bening berukuran kecil dan berisi serbuk putih yang Anya pikir itu mirip soda kue.


Rey mendengar itu langsung menatap pria itu dengan tatapan yang kurang bersahabat.


''Itu apa, Rey?" tanya Anya dengan sangat polos karena terpengaruh alkohol.


''Jangan coba-coba, Nya,'' ucap Rey memperingati Anya.


Anya mengangguk patuh. ''Kalo sama Rey ga boleh aku ga bakalan nyoba kok,''


''Kenapa Rey? Lo juga mau?" goda pria itu yang sepertinya sadar dengan ketidaksukaan Rey padanya.


''Simpan aja buat lo, gue ga butuh,'' tolak Rey diakhiri dengan senyum miring.


Rey merasa suasana sudah tidak aman karena pria itu datang. Ia pun berniat untuk mengajak Anya pergi.


''Nya, kita pergi aja ya?"


''Pergi kemana Rey?" tanya Anya.


Namun, saat Rey baru saja akan bangkit dari duduknya, tiba-tiba segerombolan polisi datang.


Tiba-tiba pria itu melempar sebuah kantong keresek kepada Anya dan Rey.


Rey pun semakin marah dan balik melemparkannya pada pria itu.


''Jangan bergerak!"


Tangan Rey terhenti di awang-awang saat salah satu polisi menodongkan pistol. Dan satu persatu polisi yang lain mengepung meja mereka.


''Jangan bergerak!''


Rey mengangkat tangannya hingga menjatuhkan kantong keresek yang tadi akan dilemparnya.


Anya yang masih belum mengerti dengan kondisi yang ada pun hanya mengikuti Rey mengangkat kedua tangannya.


Pria itu tiba-tiba melarikan diri. Seketika beberapa polisi pun langsung mengejarnya.


Adegan kejar kejaran itu membuat club menjadi sangat berantakan.


Akhirnya Rey, Anya, dan kelima teman yang tersisa pun dibawa ke kantor polisi.


Sesampainya di kantor polisi, satu per satu dari mereka di wawancara. Kemudian akan dilakukan juga tes urine untuk mengecek penggunaan narkoba.


Kabarnya,  pria yang tadi lari sekarang sudah tertangkap. Rey pun merasa lega, pasalnya dirinya dijebak oleh pria itu.


Dan hasil dari tes urine menyatakan Anya dan Rey tidak mengonsumsi narkoba. Sedangkan kelima temannya yang tertangkap dinyatakan positif mengonsumsi narkoba dan diperkuat dengan kantong keresek yang polisi temukan di tkp.


Namun sayangnya Anya dan Rey belum diperbolehkan untuk pulang karena akan dibutuhkan untuk memberi pernyataan.


Sekarang sudah lewat dari tengah malah, dan ponsel Anya sepertinya tertinggal di club. Sedangkan dirinya tidak bisa mengabari orang tuanya.


Namun, tiba-tiba dua pria masuk ke dalam kantor polisi.


Satu pria menghampiri salah satu polisi yang mewawancarai Anya tadi, sedangkan satunya menghampiri Anya.


Anya menatap pria yang menghampiri dirinya. Dia seperti tidak asing dengan pria itu.


''Anya?" ucap pria itu.


Seketika Anya pun teringat siapa pria itu. Pria itu adalah om-om yang mengantar Anya dari mall dan merebut first kiss nya.


''Om?! Kok di sini?" tanya Anya penasaran sekaligus masih bingung.


''Pulang sekarang,'' ucap pria itu tanpa menjawab pertanyaan Anya.


''Pulang? Gue belum boleh pulang,''


Pria yang satunya kini ikut menghampiri mereka. ''Anya boleh pulang, dan kamu harus di sini dulu. Tapi tenang aja, kamu bakal bebas,'' ucap pria itu.


''Ayo pulang,'' ucap pria yang Anya panggil Om.


''Kok sama om? Ga mau,'' tolak Anya yang sejujurnya Anya juga tidak percaya dengan pria itu.


''Ayahmu yang menyuruh saya untuk membawamu pulang,'' ucap si Om.


''Papah? Om kenal Papa ku?" tanya Anya terkejut.


''Pulang sekarang dan kamu boleh bertanya sepuasnya ketika di rumah,'' jawab si Om lalu berjalan keluar kantor polisi meninggalkan Anya.


Anya pun menatap Rey yang juga tengah menatapnya.


''Rey, gue duluan gapapa?''


''Gapapa, lo duluan aja. Gue juga harus ngurusin temen-temen gue dulu,''


Anya pun mengangguk.


''Sorry ya, Nya.'' ucap Rey.


''Ga papa, kita ga salah kok.'' balas Anya sambil tersenyum.


''Gue duluan ya,'' pamit Anya kemudian mengikuti pria satunya keluar dari kantor polisi.


Anya masuk ke dalam mobil dan duduk di jok belakang bersama dengan si Om. Sedangkan pria satunya lagi menyetir di depan.


Tak ada perbincangan selama perjalanan, Anya hanya sedang pasrah dengan apa yang akan terjadi padanya di rumah.