
Plak
Baru saja menginjakkkan kaki di rumah dan sebuah tamparan keras mendarat di pipi sebelah kiri Anya.
Anya yang tak siap menerima tamparan itu pun badannya sampai terhuyung hampir jatuh jika saja pria di sebelahnya tidak menahannya.
''Papah!" teriak Renata reflek melihat suaminya menampar putrinya.
Pipi Anya sekarang terasa nyeri dan sedikit kebas akibat tamparan yang diberikan ayahnya.
Belum puas dengan satu tamparan, tampak Jonatan akan melayangkan tamparan lagi namun berhasil ditahan oleh pria yang membawa pulang Anya.
''Cukup tamparannya. Biarkan dia duduk,''
Jonatan yang hampir kesetanan itu pun sedikit mendengarkan perkataan itu.
Renata langsung menepuk space kosong di sebelahnya dan Anya pun langsung duduk di sana.
Tanpa aba-aba, Anya langsung memeluk Renata dengan sangat erat. Dirinya sekarang ingin sekali menangis, namun sekuat tenaga ditahan demi harga dirinya di depan keluarga.
''Kamu gapapa sayang?" tanya Renata khawatir.
''Ngga papa, Mah. Anya aman kok,'' jawab Anya sambil tersenyum, padahal dalam hati dirinya mati-matian agar tidak sampai mengeluarkan air matanya.
''Syukurlah,'' ucap Renata sambil mengelus bahu Anya dengan penuh sayang.
Setelah itu keadaan berubah menjadi hening. Tak ada seorang pun yang bersuara. Anya menatap satu per satu wajah orang yang sekarang berkumpul bersama di ruang tamu.
Anya tidak menyangka jika sebagian besar keluarganya ada di sini. Papa, Mama, dan Eyang. Namun ada dua orang asing yang bukan keluarganya berada di sini. Yap, dua pria yang menjemputnya tadi.
''Bagaimana?" tanya Jonatan, namun bukan kepada Anya melainkan pria tadi.
''Hasil pemeriksaan, negatif. Aku sudah membereskannya dengan polisi,''
Jonatan tampak mengangguk, namun wajahnya masih belum berubah seperti saat Anya baru saja masuk.
''Anya, Papa kecewa,'' ucap Jonatan dengan suara rendah. Anya merasakan suara ayahnya begitu berbeda. Dan dipastikan kali ini ayahnya benar-benar kecewa pada dirinya.
''Sekarang kamu tau, kenapa Papa ga pernah bebasin kamu kan?'' ucap Jonatan.
Anya hanya bisa menunduk, karena dirinya juga merasa salah.
''Kamu sangat ceroboh! Kali ini kamu beruntung, tapi kedepannya Papa ga tau.'' lanjut Jonatan.
''Kamu lupa, kamu siapa? Kalau sampai ada orang lain yang mengenalmu dan mereka menyebarkan ini, keluarga kita bisa terancam.''
''Papa sudah sangat sangat kecewa, dan Papa akan mencabut semua izinmu.'' tukas Jonatan.
Mata Anya langsung membulat penuh. Itu berarti dirinya sudah tidak bisa dance lagi. Oh, tidak bisa dibiarkan. Dirinya bahkan baru saja akan memulai sebuah projek.
''Pah, jangan, Pah!"
''Pah, setidaknya biarin Anya buat dance, itu aja.'' Anya terus memohon.
''Tidak, Papah tidak akan izinkan. Kalau kamu sampai masih dance sembunyi sembunyi, Papah ga akan segan segan menghancurkan klub dance mu.''
''Jangan, Pah! Pah, Anya mohon Pah,'' Anya bahkan sudah berlutut di depan ayahnya.
Namun bagaimanapun usaha Anya memohon, tampaknya Jonatan tidak tergoyah sedikit pun.
''Pah, Anya bakal lakuin semua yang Papa suruh. Tapi biarin Anya tetep dance, Pah. Anya mohon banget sama Papah,''
Namun Jonatan masih belum bereaksi apapun dan semakin membuat Anya frustasi.
''Papah, Anya janji! Papah mau aku masuk perusahaan kan? Oke, Anya mau Pah. Tapi biarin Anya ikut dance, Pah!''
Kali ini sepertinya tidak sia-sia tawaran yang Anya berikan pada ayahnya.
''Kamu yakin?" tanya Jonatan memastikan.
Anya pun langsung mengangguk dengan mantap. ''Anya janji, Pah.''
''Ada satu lagi,'' ucap Jonatan yang mampu membuat raut wajah sumringah Anya berubah kembali.
''A-Apa lagi, Pah?" tanya Anya merasa tidak enak.
''Tapi Papa rasa kamu tidak akan mau. Jadi—"
"Anya mau, Pah!" Anya menyela perkataan Jonatan dengan sangat lantang seperti tidak memiliki beban saat mengatakannya.
''Anya bakalan turutin semuanya, asalkan Papa izinin aku tetap dance. Aku janji!'' lanjut Anya dengan sangat serius.
Anya membulatkan mata dengan sempurna seakan bola matanya akan terlepas dari tempat sebenarnya.
Apakah kali ini telinganya mengalami gangguan sehingga bisa salah dengar?
Tapi Anya benar-benar menginginkan jika dirinya memang salah dengar.
''A-Apa, Pah? Me-Menikah? Aku pasti salah dengar kan?" ucap Anya sambil memaksakan tertawa.
''Engga, kamu ngga salah dengar, sayang,'' ucap Renata menimpali.
Mendapat validasi dari Renata, membuat Anya percaya jika dirinya memang tidak salah dengar dengan itu.
''T-Tapi menikah dengan siapa, Pah?" tanya Anya.
Jonatan tampak terdiam, namun matanya menatap lurus. Bukan ke Anya, melainkan seseorang yang berada di belakangnya.
Anya pun mengikuti arah pandangan ayahnya yang tertuju pada orang di belakangnya.
Pantas saja perasaan Anya sudah tidak enak sejak tadi dengan keberadaan dua pria yang asing baginya.
Anya tanpa sengaja berkontak mata dengan pria itu namun segera saja ia akhiri.
''Pah, dia siapa? Bahkan Anya ga tau!" ucap Anya.
''Dia Bryan, om mu Anya,'' ucap Jonatan.
''Om? Kapan aku punya Om? Bukannya Papah anak tunggal?" kini giliran Anya menatap Eyangnya.
Geraldo pun berdehem. ''Bryan anak angkat Eyang. Dia adalah cucu dari sahabat kakek dulu,''
Anya bahkan masih terkejut dengan fakta yang baru saja ia ketahui.
Mulai dari tertangkap polisi, dibebaskan dari polisi oleh orang asing, ditampar oleh ayahnya, disuruh menikah dengan orang asing, dan ternyata orang asing itu adalah cucu sahabat kakeknya.
Bukankah ini seperti sangat disengaja?
"Aku masih sekolah, dan bahkan aku belum kuliah, Pah." ucap Anya mencoba berbagai alasan untuk membatalkan rencana ini.
''Tidak masalah. Kita bisa sembunyikan status pernikahanmu sampai kamu lulus. Dan kuliah, kamu juga masih bisa kuliah setelah menikah. Itu tidak ada larangan.'' ucap Jonatan.
Anya meringis, merasa nasib dirinya adalah yang paling nahas dibanding kakak-kakaknya.
''Kenapa ga nunggu aku lulus sekalian, Pah?!"
"Tadinya Papah ingin begitu, tapi karena kejadian ini Papah rasa pernikahan ini memang harus dipercepat.'' ucap Jonatan.
Anya sudah tak habis pikir dengan keluarganya yang menurutnya sangat gila.
Bahkan Mamanya tak berkata apapun mendengar dirinya akan dinikahkan dengan seseorang.
Anya menatap pria yang kini ia tahu namanya adalah Bryan dan kebetulan dia adalah Om nya.
''Om? Om ngga mau nolak pernikahan ini? Om yakin mau nikah sama bocil kaya gue?" tanya Anya pada Bryan.
Wajah Bryan tampak tenang, tak ada beban sedikit pun di sana.
''Saya tidak keberatan,'' jawab Bryan dengan santai.
Anya terkejut dengan jawaban yang Bryan berikan.
''Om takut sama Papah? Atau sama Eyang? Om dipaksa 'kan?"
''Anya!" tegur Geraldo.
Anya tak menggubris, dia tetap berusaha untuk menanyai Bryan.
''Om ngomong aja di sini. Om dipaksa 'kan sama mereka?" tanya Anya sekali lagi karena masih belum mendapatkan jawaban yang dirinya inginkan.
''Anya! Jangan kelewat batas! Papah dan Eyangmu tidak pernah melakukannya!" ucap Jonatan.
''Om, please?"
''Tidak, saya tidak dipaksa sama siapapun.'' jawab Bryan membuat Anya seketika kecewa.
Tubuh Anya terasa sangat lemah, hingga dirinya terduduk luruh di lantai.
Tuhan, bercanda-Mu sangat tidak lucu.