My Om

My Om
Part 18 : Terbawa Suasana



Anya telah menyelesaikan perjanjian pernikahan dengan Bryan. Dan sekarang dirinya akan kembali ke kamar.


''Gue balik ke kamar dulu, Om.'' pamit Anya lalu beranjak dari atas kasur.


Namun dengan cepat tangannya sudah dicekal oleh Bryan.


Anya menoleh bingung. ''Kenapa si Om, gue mau tidur nih!'' protes Anya.


''Tidurlah di sini,'' ucap Bryan sambil menunjuk kasur yang didudukinya dengan gerakan mata.


''Ngga mau!" tolak Anya cepat.


Bruk


Bryan menarik Anya dengan sekali hentakan membuat Bryan terlentang di kasur hingga tubuh Anya dengan mudah sudah berada di atas Bryan.


Anya terus bergerak, berusaha keras agar dirinya bisa lepas dari Bryan.


''Jika kau seperti itu, kau akan membangunkan sesuatu yang tertidur,'' ucap Bryan tepat di telinga kanan Anya.


Anya sedang mencerna kalimat yang dikatakan Bryan itu. Dia tidak polos, dia tahu apa maksud Bryan dan akhirnya memilih untuk berhenti bergerak.


Dan tiba-tiba posisi mereka dibalik dengan Bryan yang berada di atas dan Anya yang sekarang di bawah kungkungan Bryan.


Bryan dapat melihat wajah Anya yang tenang berada di bawahnya. Dan sebaliknya. Anya dapat melihat wajah Bryan yang di atasnya. Tampak dari angel ini, Anya mengakui jika Bryan benar-benar tampan walaupun umurnya sudah bukan lagi seorang ABG.


Mereka saling menatap wajah satu sama lain untuk mengagumi namun tidak mereka ungkapkan.


Bryan mengulurkan satu tangannya ke atas kepala Anya dan satunya untuk menopang tubuhnya agar tidak menimpa Anya.


Ia mengelus rambut Anya yang terasa sangat lembut dan halus. Sesekali Bryan juga menyingkirkan beberapa helai rambut yang menutupi wajah Anya.


Hingga sekarang ibu jarinya turun ke sudut bibir Anya dan sedikit membelai di sana.


Anya yang sadar sekarang tatapan Bryan sepenuhnya, seketika memasukkan bibirnya.


Bryan tersenyum tipis dan kemudian mengusap puncak kepala Anya kembali. Membuat Anya merasa aman dan mengeluarkan kembali bibirnya.


Cup


Dengan gerakan tiba-tiba dan tidak terbaca oleh Anya, tiba-tiba Bryan mendaratkan sebuah kecupan di bibir Anya.


Hanya sebuah kecupan singkat, namun efeknya tidak ramah untuk kesehatan jantung Anya.


Anya merasa gugup karena Bryan tengah menatapnya. Bahkan untuk menelan saliva pun ia kesusahan.


Bibir Anya terbuka sedikit namun hal itu membuat Bryan tidak bisa menahan lagi dan kembali mendaratkan bibirnya kembali.


Bryan menarik tubuh Anya semakin merapat padanya.


Pada situasi seperti ini Anya teringat dengan drama dan film romantis yang pernah dirinya tonton.


Jika pemeran wanita menghadapi hal ini, maka ia akan mengalungkan tangannya pada leher pemeran pria.


Anya pun kemudian mengalungkan kedua tangannya pada leher Bryan.


Seakan-akan mendapat persetujuan, Bryan pun kembali memperdalam ciumannya.


Ciuman Anya memang masih terasa amatir, namun entah mengapa hal itu membuat Bryan semakin gemas. Ia terus menuntun Anya perlahan untuk mengikuti ciumannya hingga gadis itu tidak kaku lagi.


Bahkan sekarang kamar tamu ini sudah dipenuhi oleh suara-suara ciuman mereka yang cukup nyaring.


Hingga akhirnya Bryan melepaskan ciuman mereka setelah merasa beberapa pukulan di dadanya semakin keras.


Anya hampir kehabisan napas karena ciuman keduanya yang berlangsung cukup lama. Untuk pemula seperti Anya, dia cukup merasa engap dengan durasi itu.


Ibu jari Bryan bergerak mengusap bibir Anya yang mengkilap akibat pertukaran saliva mereka tadi.


Anya menjadi salah tingkah dengan perlakuan Bryan. Apalagi mengingat apa yang baru saja mereka lakukan membuat jantung Anya berdebar.


Tak ingin semakin salah tingkah, dengan kekuatan yang dimiliki ia berusaha mendorong Bryan dari atas tubuhnya hingga pria itu jatuh di sebelahnya.


Anya kemudian bangun dari atas kasur. "G-Gue mau balik ke kamar," ucapnya dengan gugup sambil membenarkan pakaiannya. Bahkan saat mengatakan itu Anya sama sekali tidak berani menatap ke arah Bryan.


Bryan yang melihat gelagat Anya pun tahu jika gadis itu sedang merasa gugup. Ia tersenyum melihat gadis yang selalu berani menatapnya ini, sekarang malah mencoba mengindari kontak mata dengannya.


Belum juga melangkahkan kaki, Anya harus kembali ambruk di atas kasur karena Bryan menariknya kembali.


"Om!" teriak Anya reflek.


Anya menyingkirkan jari telunjuk Bryan dan mendorong pria itu agar sedikit menjauh darinya.


"Lagian om d-duluan sih!"


Bryan tersenyum melihat Anya yang malah menjadi gagap tiba-tiba.


"Saya duluan apa? Kalau duluan nyium kamu sih iya," ucap Bryan santai namun membuat Anya membulatkan matanya penuh.


Anya membungkam mulut Bryan dengan telapak tangannya.


"Om jangan ngomong sembarangan deh, ini lagi di rumah," ucap Anya sedikit berbisik karena takut kalau ada yang dengar.


Bryan memegang tangan Anya yang menutupi mulutnya dan memindahkannya ke samping kepalanya sehingga posisi Anya sekarang sedang mengungkung Bryan.


Anya begitu terkejut dengan posisi seperti ini. Namun ia mencoba untuk bersikap biasa saja.


"Berarti kalau lagi ngga di rumah boleh dong?"


"Y-Ya ngga gitu maksud g-gue, om. Anu–"


Anya terdiam, ia tak bisa memikirkan kata-kata lagi. Apalagi sedari tadi Bryan terus menatapnya.


Entah mengapa tatapan Bryan begitu membuatnya menjadi menciut dan gugup seketika.


"Kembali ke kamar mu," Bryan bangun dari posisinya begitu juga dengan Anya.


Anya terdiam duduk di atas kasur membuat Bryan berusaha menyadarkan gadis itu.


"Mau menginap di sini hm?" ucap Bryan tepat di telinga Anya.


Anya seketika merasakan bulu kuduk di sekujur tubuhnya berdiri.


Bryan menjauhkan wajahnya sambil memasang senyum namun hal itu membuat Anya bergidik.


Buru-buru Anya turun dari kasur dan dengan berlari ia keluar dari kamar Bryan.


Anya berlari menaiki tangga secepat mungkin hingga sampai di kamarnya. Tak lupa ia juga segera mengunci pintu kamarnya.


Jantung Anya berdetak begitu kencang akibat berlari tadi.


"Anya bodoh bodoh bodoh," Anya memukul kepalanya merutuki dirinya sendiri.


"Bisa-bisanya tadi..."


"Enggak enggak!"


"Ngga terjadi apa apa tadi,"


"Ya, aku akan anggap seperti itu,"


"Tadi malem ngga terjadi apapun antara aku dan si om-om itu."


"POKOKNYA NGGA ADA YANG TERJADI ANTARA KALIAN"


Anya pun mulai berjalan menuju ranjangnya. Namun yang terjadi adalah sebaliknya. Ia malah terus berjalan mondar mandir sambil menggigit kuku jarinya.


"Ngga bisa, itu ciuman! Ciuman gue direbut sama si om lagi!"


"Gue ngga bisa tinggal diem,"


"Terus apa yang harus gue lakuin?"


"Ck, apa si om juga bakal inget ciuman ini?"


"Gue rasa ngga si. Udah beribu wanita pasti yang pernah dicium sama dia,"


"Anya lo ngga boleh gini!"


"Jangan lo doang yang harus ngerasa ciuman ini sesuatu yang harus dipikirin,"


"Lo juga harus bisa bersikap biasa aja. Anggap aja ciuman itu khilaf ya kan."


Anya menarik napas dalam kemudian menghembuskannya perlahan.


Setelah sedikit tenang Anya pun naik ke atas ranjang bersiap untuk tidur.