
''Menikahlah dengan cucuku, maka aku akan membantu perusahaanmu,'' ucap seorang pria yang sudah tampak jelas garis keriput di wajahnya.
Bryan, pria itu sangat terkejut dengan syarat yang diberikan.
''Ayah, i-itu tidak bisa,'' tolaknya dengan cepat.
''Aku terlanjur menganggapmu seperti anakku sendiri, dan aku ingin memperkuatnya dengan kau menikahi cucuku,'' ucap Geraldo.
''Bukankah Alista juga sudah menikah? Bahkan sudah punya anak,"
"Masih ada Anyala,''
''Anyala? Kak Jo punya anak lagi?" tampak raut wajah terkejut dari Bryan.
''Kau tidak tahu?" Eyang Geraldo menaikkan sebelah alisnya.
Bryan menggeleng. ''Aku hanya tahu Kak Jo punya dua anak, Alista dan Aldo.''
''Dia memiliki satu putri lagi, dia masih SMA,'' ujar Geraldo.
Bryan lagi-lagi menampilkan wajah terkejutnya. ''SMA? Ayah yakin ingin membuatku seperti pedofil?"
Geraldo terkekeh. ''Ck, kau masih muda bahkan dengan Alista pun hanya terpaut lima tahun tahun.''
''T-Tapi aku tidak bisa menikahi gadis SMA,''
''Tinggal beberapa bulan lagi anak itu akan lulus, kau bisa menikahinya.''
Bryan kembali menggeleng. ''Berikan aku syarat lain. Akan aku turuti,''
Giliran Geraldo yang menggeleng. ''Aku sudah punya semua, hanya itu keinginan terakhirku sebelum meninggalkan dunia ini,''
''Jangan berbicara seperti itu,''
''Aku ini sudah sangat tua, bahkan teman seusiaku sudah tidak tersisa lagi,''
''Jika aku setuju, belum tentu Kak Jo juga setuju,''
''Kalau begitu kau pikirkan caranya agar Jo menyetujuinya,"
Bryan seketika terdiam. Memikirkan hubungannya dengan Jonatan yang kurang baik, membuat Bryan harus memutar otak lebih keras.
Geraldo bangkit dari duduknya dengan dibantu asistennya.
''Ayah mau kemana?"
''Pulang, aku ingin memberimu waktu untuk memikirkannya,'' ucap Geraldo kemudian memakai topi koboi kebangsaannya.
Bryan ikut bangkit dari duduknya berniat untuk mengantar Geraldo.
"Tidak usah mengantarku,'' tolak Geraldo.
Bryan membungkukkan badannya sedikit. ''Hati-hati, ayah.''
Setelah kepergian Geraldo dari kantornya, Bryan juga menyusul keluar dari ruangannya.
Ia tak sengaja berpapasan dengan Adrianus.
"Eh, mau kemana?" tanya Adrianus yang bingung melihat Bryan pergi masih dijam kerjanya.
''Ada urusan di luar, tolong handle perusahaan dulu,'' jawab Bryan lalu menepuk bahu Adrianus dan kembali melanjutkan langkahnya keluar.
Bryan keluar dari tempat parkir, melaju dengan mobilnya membelah jalanan yang cukup ramai.
Hingga kini mobilnya sudah terparkir di sebuah gedung yang cukup besar.
Pintu mobilnya terbuka dan Bryan keluar. Sebuah gedung megah milik Geraldo Group itu sudah tidak asing baginya. Sudah lama sekali dirinya tidak datang ke tempat ini.
Selama beberapa menit tampak Bryan masih berdiri di depan mobilnya sembari menatap gedung di hadapannya sebelum akhirnya ia memutuskan untuk masuk ke dalam.
''Ada yang bisa kami bantu?'' tanya seorang resepsionis.
''Saya mau bertemu dengan Jonatan,'' jawab Bryan.
''Maaf, sebelumnya dengan siapa?" tanya sang resepsionis kembali.
''Katakan saja, Bryan Adhitama,''
''Baik, bisa ditunggu sebentar ya,''
Resepsionis tersebut kemudian menelepon sekretaris Jonatan.
''Tuan, anda sudah ditunggu di ruangan Direktur Jo. Ruangannya ada di lantai tujuh sebelah kiri,'' ucap sang resepsionis.
Bryan mengangguk. ''Terimakasih,''
Bryan cukup paham dengan tata letak perusahaan ini. Bahkan tata letaknya hampir sama dengan sepuluh tahun yang lalu.
Tok tok
''Masuk,'' terdengar suara dari balik pintu.
''Apa kabar Kak Jo?" sapa Bryan.
Jonatan menyudahi kegiatannya yang berkutat dengan dokumen-dokumen di mejanya.
''Baik, duduklah,'' balas Jonatan mempersilakan Bryan untuk duduk di sofa yang sudah disiapkan.
Tak lama Jonatan pun ikut menyusul Bryan duduk di sofa.
Suasana tampak hening dan canggung. Terakhir kali mereka berinteraksi sudah sangat lama dan bisa dibilang kurang baik.
"Sudah pasti ada sesuatu yang membuatmu datang ke sini secara langsung,'' ucap Jonatan membuka percakapan.
''Berikan putrimu untukku,'' ujar Bryan terus terang.
Jonatan yang mendengarnya seketika mengeluarkan tawanya. ''Kau ini masih sama, tidak bisa berbasa-basi,''
''Untuk apa aku memberikannya untukmu?" tanya Jonatan, sekarang raut wajahnya berubah serius.
''Aku ingin menikahinya,'' ucap Bryan dengan lantang.
Jonatan lagi-lagi tertawa. ''Kau ingin menikahi gadis SMA? Astaga, ada apa dengan adikku ini?"
"Aku tak akan mengungkit masa lalu, jadi tolong izinkan aku menikahi putrimu,'' ucap Bryan cukup serius.
''Tidak ada untungnya juga aku menikahkannya denganmu,''
''Tolong, ini keinginan terakhir ayah,''
''Ayah? Dia yang memintamu?"
"Ayah bersedia membantu perusahaanku, asalkan aku menikah dengan Anyala,''
''Aku akan membantu perusahaanmu tanpa kau harus menikah dengannya,'' ucap Geraldo.
''Bagaimana dengan ayah?''
''Itu akan menjadi urusanku,''
Sepulang dari kantor, Jonatan memilih untuk mampir ke kediaman ayahnya.
''Apa yang membuatmu datang kemari?" tanya Geraldo.
''Ayah ingin Bryan menikahi Anya?" ucap Jonatan.
''Bryan sudah mendatangimu?" tanya Geraldo.
"Sudah. Dan ayah tak perlu memberi syarat seperti itu, aku akan membantu Bryan.'' jawab Jonatan.
''Aku hanya ingin cucuku itu dijaga oleh orang yang tepat. Baru aku akan tenang untuk mati,'' ucap Geraldo.
''Ayah, ini bukan jaman dahulu. Dia masih terlalu muda, ayah.''
''Ini juga bukan jaman dulu, menikah sudah tidak membatasi seseorang. Dengan menikah Anyala bisa lebih fokus dengan bisnis dan melupakan hobinya itu,''
Jonatan tampak gusar.
''Apa kau sudah melihat video anak itu lagi? Kali ini dia mengikuti event di mall dan dia malah melabrak pacarnya yang selingkuh. Sungguh memalukan,'' ujar Geraldo.
"Ck, aku tak mau cucuku dikhianati." lanjutnya
Jonatan kembali terkejut. ''Anya ikut dance lagi?!''
''Ya, saat kemarin kau dan istrimu pergi. Itulah mengapa aku setuju supaya Anya lebih cepat menikah.'' jelas Geraldo.
''Tapi tetap saja, dia terlalu muda ayah.''
''Dia sudah cukup, lagi pula sebentar lagi akan lulus.''
Jonatan bergeming.
''Lupakan masa lalumu dengan Bryan, itu hanya kesalahpahaman diantara kalian dulu. Ayah melakukannya bukan karena sekedar bisnis, tapi Ayah ingin menepati janji Ayah pada kakek Bryan.'' ucap Geraldo.
Geraldo dengan kakek Bryan adalah sahabat sejak kecil. Geraldo bisa memiliki perusahaan sebesar ini juga tak lepas dari bantuan kakek Bryan. Mereka bahkan berjanji akan menikahkan anak mereka, namun sayangnya mereka sama-sama memiliki anak laki-laki sehingga tidak bisa menikahkannya.
Tak putus asa, untuk terus menjaga hubungan baik hingga ke turunan mereka, Geraldo dan kakek Bryan pun berniat menjodohkan cucu mereka.
Hingga suatu hari, satu keluarga Bryan mengalami kecelakaan. Dan saat itu hanya Bryan yang masih berusia lima tahun yang selamat dari insiden mengerikan itu.
Dan sejak saat itu hak asuh Bryan diambil oleh Geraldo, sejak saat itu Bryan selalu memanggil Geraldo dengan sebutan Ayah.
''Dulu kau tidak setuju jika Alista dengan Bryan, dan sekarang adalah waktunya Anyala dengan Bryan,'' lanjut Geraldo.
Jonatan masih setia termenung. Mencerna kata-kata yang diucapkan oleh ayahnya.
''Akan aku pikirkan lagi, Ayah.'' ucap Jonatan pada akhirnya menyerah.
Geraldo hanya mengangguk.
''Kalau begitu, aku pamit dulu. Jaga kesehatan ayah,'' pamit Jonatan.