My Om

My Om
Part 21: Berhasil



Terik matahari masih setia menemani Anya dan Bryan memetik apel. Padahal biasanya matahari tak akan betah lama lama menampakkan diri. Namun kali ini sepetinya mereka ingin menemani pasangan yang tengah memetik apel itu.


Bruk


Bryan menaruh apel yang dipetiknya ke dalam keranjang. Di sampingnya ada Anya yang sedang duduk sambil mengipasi dirinya sendiri.


''Katanya mau cepat selesai?" ucap Bryan menyindir Anya.


''Istirahat bentar om, capek banget,''  balas Anya.


Tak berkata apapun, Bryan kembali pergi meninggalkan Anya.


Anya terus mengipasi dirinya menggunakan topi namun tak berpengaruh apapun.


''Ahh, panas banget,'' keluh Anya sambil melihat ke sekitar kebun apel. Siapa tahu ada pekerja yang tak sengaja lewat dan dia bisa meminta bantuan.


Namun tiba-tiba sebotol air mineral berada tepat di depan matanya.


Anya menoleh, dan ternyata itu adalah Bryan yang menyodorkannya botol.


''Ngga mau minum? Tadi katanya kepanasan?" ucap Bryan menyadarkan Anya yang hanya diam.


Anya yang tersadar pun langsung menerima botol dari Bryan kemudian dibukanya dan meminumnya hingga hampir setengah botol.


''Makasih, Om,'' ucap Anya.


Bryan mengangguk kemudian kembali memetik apel. Walaupun sebenarnya ia juga bingung kenapa mau mau saja melakukan ini.


Setelah beberapa lama memetik apel tak terasa bajunya sudah cukup penuh untuk menampung, ia pun segera kembali ke keranjang untuk meletakkan apelnya.


Sampai di keranjang, rupanya masih ada Anya di sana.  Namun kali ini gadis itu malah sedang ketiduran sambil bersandar pada keranjang apel.


Bryan mengambil posisi duduk di sebelah Anya. Kemudian pria itu dengan perlahan memindahkan kepala Anya yang semuka bersandar pada keranjang, berganti bersandar di bahunya.


Bahkan Anya tak terganggu sedikitpun. Malah ia semakin menyamankan diri untuk tidur.


Hingga tak terasa Bryan pun ikut memejamkan mata hingga masuk ke alam mimpi.


Sudah lama Geraldo berbincang dengan pengelola kebun apel. Bahkan waktu hampir menunjukkan waktu makan siang namun Anya dan Bryan belum juga kembali.


Akhirnya Geraldo memutuskan untuk mencari mereka ke kebun.


Namun sebuah pemandangan yang sangat asing nampak di hadapan Geraldo.


Yap, pemandangan Anya dan Bryan yang ketiduran di kebun apel.


''Ck, ku kira mereka tidak akan bisa akur secepat ini,'' ujar Geraldo lirih sambil tersenyum melihat keduanya.


''Perlu saya bangunkan, Tuan?" tanya asisten Geraldo.


''Jangan, biarkan saja. Jangan ganggu mereka,'' ucap Geraldo kemudian meninggalkan kebun apel kembali dan diikuti oleh asistennya.


''Bagaimana dengan rencana awal? Apa akan Tuan lanjutkan?" tanya sang asisten.


Geraldo tampak berpikir sebentar sebelum akhirnya benar-benar memutuskan.


''Sepertinya aku batalkan saja. Mereka sudah lolos ujianku dan bisa segera menikah.'' jelas Geraldo dengan sebuah garis lengkung di wajahnya yang sudah bergaris dimakan usia.


''Dan, habis ini kita pulang saja.'' lanjut Geraldo.


''Baik, Tuan.''


Anya terbangun saat wajahnya tiba-tiba terkena sebuah tetesan air.


Ia tak kalah terkejut ketika mendapati dirinya dan Bryan ternyata ketiduran bersama di sini.


Ingin mengomel pada Bryan, namun sebuah tetesan air kembali jatuh menimpanya.


Anya pun reflek mendongak ke atas untuk mengecek bagaimana kondisi langit saat ini.


Dan ternyata langit sudah sangat gelap. Berbeda dengan sebelum dirinya ketiduran di mana langit masih terlihat cerah dan matahari pun terlihat dengan jelas.


''Om, bangun om.'' ucap Anya sambil menggoyangkan tubuh Bryan.


Bryan pun melenguh karena tidurnya terganggu.


Mata Bryan pun terbuka. ''Om, ayo keranjangnya kita bawa. Udah mau ujan ini,'' ucap Anya tepat di depan wajah Bryan.


Melihat langit dan kondisi kebun yang sangat gelap akhirnya membuat Bryan bangun dan berusaha mengembalikan kesadarannya.


Bryan dan Anya pun saling memegang keranjang dan mengangkatnya bersama.


Mereka berjalan menuju tempat di mana Geraldo berteduh di sana.


Namun, masih di tengah jalan tiba-tiba hujan deras mengguyur mereka berdua.


''Kamu duluan saja Anya, ini biar saya yang bawa,'' ucap Bryan menyuruh Anya untuk cepat berteduh.


''Ngga mau, gue mau bantu bawa,'' tolak Anya.


''Tapi ini bakalan lama, nanti kamu kedinginan,'' ucap Bryan khawatir.


''Ga papa, Om. Gue sering ujan ujanan, kok. Seneng juga sih,'' ucap Anya jujur.


''Engga, nanti kamu sakit. Cepet kamu nyusul Eyang. Terus minta ke Pak Barak buat ambil tas saya di mobil. Di sana ada kaos, kamu bisa pake itu buat ganti.'' ucap Bryan memaksa.


''Engga mau Om,'' tolak Anya mentah mentah.


''Ayolah Anya, nanti kamu sakit.'' bujuk Bryan.


''Om cerewet banget deh. Kalo gini nanti ga bakalan nyampe.'' protes Anya.


Kemudian gadis itu menyeret keranjang apel sendirian. Bryan pun langsung mengejarnya.


Bryan kembali mengangkat keranjang itu. Kali ini dia yang membawanya seorang diri sambil sedikit berlari menembus hujan yang semakin deras.


Bukannya ikut menyusul, Anya malah terbengong dengan apa yang dilihatnya barusan.


''Wow,'' mulut Anya bahkan sampai melongo melihatnya.


Namun saat tersadar, Anya langsung berlari mengejar Bryan.


Akhirnya mereka sampai bersama di tempat Geraldo berteduh.


Di sana ada Pak Barak, asisten Geraldo yang baru saja akan mengantarkan payung pada mereka namun terlambat karena mereka sudah lebih dulu sampai di sana.


Kemudian Pak Barak memberikan mereka handuk masing masing untuk mengelap tubuh mereka yang sudah basah kuyup dari ujung rambut hingga ujung kaki.


''Tolong ambilkan tas saya di mobil,'' bisik Bryan pada asisten Geraldo.


Sang asisten pun mengangguk dengan hormat dan langsung menjalankan perintah Bryan.


Geraldo pun mendekat ke arah mereka. ''Kalian tidak membawa baju ganti?" tanyanya.


''Bawa Yah, sedang diambilkan.'' jawab Geraldo.


Geraldo mengangguk.


''Tolong kirimkan ini ke rumah Jonatan,'' ucap Geraldo pada pengelola kebun.


''Baik, Tuan.''


Sepertinya Geraldo memang sudah sangat mengenal pengelola kebun apel ini. Dan ternyata sang pengelola kebun apel dulunya adalah sekretaris Geraldo yang setelah Geraldo pensiun dirinya ikut mengundurkan diri. Dan Geraldo memberinya pekerjaan sebagai pengelola kebun apel untuk mengisi waktu pensiun.


Setelah itu asisten Geraldo kembali dengan membawakan tas milik Bryan dan menyerahkannya.


Bryan pun langsung membongkar isi tasnya dan mengeluarkan beberapa pakaian yang ia bawa.


Ia memberikan sebuah kaos dan celana pendek miliknya yang mungkin akan sedikit kebesaran untuk Anya.


Kemudian Anya pun langsung pergi ke kamar mandi untuk berganti pakaian.


Karena kamar mandi yang terbatas membuat Bryan harus bergantian dengan Anya.


Anya keluar dari kamar mandi dengan pakaian yang tadj diberikan Bryan.


Kaosnya menjadi oversize hingga hampir menutupi celana pendeknya. Namun itu terlihat bagus di Anya.


Setelah itu barulah Bryan masuk ke dalam untuk mengganti pakaiannya dengan style yang sama dengan Anya yaitu kaos dan celana pendek.