
Anya kini tengah sibuk di meja belajarnya. Tugas matematika akan membuat malam Seninnya begadang.
"Aish! Tugasnya kaga ada akhlak!" gerutu Anya sambil memukul buku matematika.
"Kenapa susah banget sih? Apa gue pura-pura sakit aja ya besok?"
"Aish Mama sama Papa nggak bakalan percaya kalo gue belum cengep-cengep!"
"Ya Tuhan, tolong berikan keajaiban untuk otakku agar bisa mengerjakan soal matematika ini,"
Anya mulai mencoba mengerjakan soal matematikanya, hingga jam sudah menunjukkan pukul 01.00. Anya benar-benar belum mengerjakan satu soal pun.
Tong sampah yang ada di sebelah meja belajarnya sudah penuh dengan kertas-kertas yang Anya remas-remas.
Sekitar 4 jam Anya berusaha mengerjakan soal matematika namun tak ada yang selesai barang satu soal pun.
"Anjir udah jam satu! Mana tugas belum selesai! Argh!!!!!!"
Anya terus berteriak frustasi. Ia tak tau kenapa otaknya tak seencer kakak-kakaknya.
Kak Aldo yang selalu mendapat nilai tertinggi hingga sekarang dirinya menjadi seorang dokter yang juga cukup terkenal.
Sedangkan Kak Alista walaupun tak secerdas Kak Aldo, dia selalu mendapat peringkat terbaik di kelasnya. Kak Alista juga memiliki paras yang sangat cantik. Dari SD ia juga sudah berkecimpung di dunia model dan mendapatkan uang. Hingga di umurnya yang ke 25 tahun, Kak Alista memutuskan untuk berhenti dari dunia permodelan dan menikah dengan kekasihnya yang seorang produser sekaligus CEO perusahaan hiburan terkenal di Indonesia.
Dan sekarang Kak Alista akan membuka sebuah restoran makanan cepat saji yang akan segera disahkan.
Hingga tanpa sadar Anya tertidur dengan posisi masih duduk di kursi dan kepalanya yang bertumpu pada meja belajar.
"Non, bangun Non. Sudah jam 6 Non harus berangkat ke sekolah."
Karena seseorang membangunkannya, dengan terpaksa Anya mulai membuka matanya dengan rasa kantuk yang belum hilang. Seakan tidurnya selama 5 jam masih kurang.
"Mbok, Anya masih ngantuk." ucap Anya yang sudah sadar namun enggan membuka matanya.
Mbok Mirah lalu membuka jendela kamar Anya. Membuat sinar matahari masuk dan membuat Anya membuka mata.
"Ini sudah jam 6 Non, nanti kalo Non telat berangkat sekolah gimana?" bujuk Mbok Mirah dengan suaranya yang sangat lembut.
"Mama sama Papa udah pulang, Mbok?" akhirnya Anya mau beranjak dari kursinya.
"Belum Non. Tadi Mbok di telfon sama Nyonya, katanya pulangnya diundur karena mau jalan-jalan dulu."
"Jalan-jalan mulu anaknya ditinggal terus,'' gerutu Anya.
"Mungkin Nyonya sama Tuan pengin sering jalan-jalan. Dulu waktu muda kan mereka jarang banget jalan-jalan karena terlalu sibuk ngurusin perusahaan." Mbok Mirah terus mencoba memberi pengertian pada Anya.
"Iya Mbok, Anya paham. Lagian di sini kan ada Mbok yang selalu perhatian sama Anya. Makasih ya, udah setia banget sama keluarga Anya. Dari zaman Eyang Anya sampe ke Papa, Mbok masih di sini." kemudian Anya memeluk Mbok Mirah seperti dengan keluarganya sendiri.
"Sama-sama Non. Mbok seneng Non sekarang udah mulai dewasa." balas Mbok senang.
"Harus dong Mbok, apalagi udah mau lulus nih."
"Ya sudah, segera mandi Non, Mbok udah siapin sarapan di bawah. Biar belajarnya semangat."
"Hahaha siap Mbok siap!"
Anya kemudian masuk ke kamar mandi dan melakukan ritual seperti biasa.
"Hari ini PR nggak ada yang selesai, ketemu Mita sama Renan lagi! Akh!"
Sambil memakai pakaian lalu berdandan, Anya terus-menerus menggerutu.
Untuk pertama kalinya ia merasa sangat dikhianati oleh seseorang.
Bukan mengapa, hanya saja Anya terlalu sulit bergaul dengan sembarang teman. Dan Mita adalah satu-satunya teman perempuan yang sangat ia percayai, namun ternyata dia tak beda dengan teman perempuan yang lain.
Jika ia mencari teman cowok itu sangatlah sulit, rata-rata dari mereka akan melibatkan perasaan dalam hubungan pertemanan yang membuat renggang.
Kini ia benar-benar merasa sendiri. Anya merasa takut untuk membuka hati kembali. Namun ia sadar, ia tak mungkin akan terus menutup diri. Bagaimanapun ia harus tetap bangkit dari semua ini.
Masalah tak akan selesai jika kita tidak mau menghadapinya. Hidup kita akan jalan di tempat jika tak mau menghadapi masalah.
Sambil melihat pantulannya di cermin, Anya menarik nafas dan menghembuskannya dengan bertujuan untuk merilekskan tubuhnya.
"Semangat Anya! Pasti bisa! Tetap tenang, dan jangan terlalu emosi. Belajar bersikap dewasa, dan tidak terlalu mengumbar masalah." ucapnya untuk diri sendiri.
Pukul 06.45 Anya turun dari kamarnya. Karena takut terlambat, ia tak sempat untuk sarapan. Untuk menghargai Mbok yang sudah memasak, ia memilih untuk membawa bekal.
"Anya berangkat, Mbok!" pamit Anya dari dalam mobil.
"Hati-hati, Non!" balas Mbok Mirah yang berdiri mengantar Anya sampai teras depan rumah.
Pak Jarwo merupakan supir keluarga Anya. Ia yang sering mengantar Papa dan Anya ketika akan berangkat ke kantor dan ke sekolah.
Untuk pulang sekolah, terkadang Anya akan diantar oleh Renan atau kadang ikut di mobil Mita. Namun sekarang, sepertinya ia akan memilih untuk naik taksi.
Pukul 07.05 Anya sampai di gerbang sekolahnya. Ia lalu turun dan menutup pintu mobil. Tak lupa ia mengucapkan terimakasih pada Pak Jarwo.
Saat sedang berjalan di koridor kelas, tiba-tiba sebuah tangan menarik lengannya dengan tiba-tiba hingga tubuhnya terseret ke belakang.
"Astaga Renan!" kaget Anya ketika mengetahui yang menariknya adalah mantan kekasihnya itu.
"Anya, please kasih gue kesempatan?" mohon Renan.
"Kesempatan apa?" tanya Anya yang sebenarnya malas membahas masalah ini.
"Yang kemarin. Jujur gue sebenernya nggak mau jalan sama Mita, cuman dia terus ngajakin gue buat jalan. Jadi gue nggak enak buat nolak dia." alasan Renan namun Anya tak lagi mempercayai perkataan seseorang yang sudah pernah berbohong padanya.
"Jadi kalo semua cewe ngajak lo jalan, Lo juga akan mau gitu? Inget Re, cewe nggak akan ngejar kalo cowo nggak ngasih harapan!"
"Maafin gue Anya,''
"Udah ya Re. Lagian gue juga udah rela kalo lo sama Mita, jadi manfaatin itu. Tunjukin ke Mita kalo lo bener-bener sayang sama dia." ucap Anya sambil menunjuk dada Renan dengan cukup keras hingga dia sedikit terdorong ke belakang.
"Nggak usah cari gue lagi Re, kita udah nggak ada hubungan apa-apa. Gue juga nggak mau nganggep lo musuh, kita tetap seperti biasa sebelum kita pacaran." tambah Anya, namun Renan masih setia bungkam.
"Gue ke kelas dulu, bentar lagi bel. Bye, Re makasih buat waktu lo selama ini."
Anya lalu pergi tanpa menunggu balasan dari Renan. Dan Renan hanya bisa menatal punggung Anya yang semakin lama semakin menjauh.
Ya, kini dia merasa menyesal sudah mengkhianati cewek seperti Anya. Bosan memang sifat yang manusiawi. Tapi dalam hubungan bosan menjadi sebuah rintangan untuk mengetahui seberapa pantas kita untuk menjadi pasangan yang baik.