
Anya pun segera mengguyur tubuhnya di bawah percikan air hangat dari shower.
Rasanya sangat segar sekali ketika badannya yang lengket tersentuh air. Tubuhnya menjadi sedikit terasa ringan.
Setelah selesai dengan mandinya, seperti biasa Anya memilih piyama yang biasa digunakan untum tidur.
Tak lupa dengan rangkaian skincare rutin Anya sebelum tidur. Walaupun Anya pun terkadang kelupaan karena saking mengantuk dan lelahnya.
Anya menatap dirinya di depan cermin sembari mengamati wajahnya sendiri.
''Gue masih unyu gini masa iya mau nikah?" ucap Anya sambil berpose dengan satu tangan menyangga dagu.
Mungkin kalian yang melihatnya akan merinding sendiri dengan tingkah Anya tadi. Padahal wajah Anya jauh dari kata unyu. Wajahnya lebih ke cantik yang khas dan tidak membuat mata bosan.
''Nikahnya sama om om lagi,'' lanjutnya sambil membayangkan dirinya berjalan di altar dengan menggandeng tangan Bryan.
''Apa engga kaya bapak bapak nuntun anaknya ya?" ucap Anya setelah mendapat bayangan dari dirinya sendiri.
Kini Anya pun mengubah ekspresi dan gayanya menjadi cool.
Anya memperhatikan kembali dirinya yang berada di kaca.
''Nah kalo kaya gini kan ga kaya ABG yang kebelet nikah,'' ucap Anya merasa puas mendapatkan solusi dari permasalahan yang sebenarnya Anya pikirkan namun belum ada orang yang menurutnya sreg untuk diajak ngobrol.
Namun, saat dilihat-lihat lagi wajahnya sangat tidak cocok seperti sekarang.
''Engga engga deh, jelek banget gue kalo kaya gini,'' ucap Anya dan kembali memasang wajah seperti biasa.
Namun Anya tiba-tiba langsung melompat ke atas kasur dan menarik selimut ketika suara ketukan pada pintu kamarnya terdengar.
''Anya?" Rupanya itu adalah suara Renata.
''I-Iya, Mah?'' balas Anya masih berada di atas kasur.
Ceklek
Renata dapat membuka pintu kamar Anya yang sebenarnya memang tidak dikunci sedari tadi.
''Udah selesai mandinya? Ayo turun, temenin Papah sama Om Bryan ngobrol.'' ucap Renata.
''Anya mau tidur, Mah. Cape banget,'' ucap Anya yang sebenarnya dengan jujur.
''Turun aja dulu, nemuin Om Bryan bentar aja. Habis itu mau balik ke kamar juga ga papa,'' ucap Renata membujuk Anya.
''Engga, Ma. Anya cape,'' balas Anya diakhiri dengan menguap lebar.
Karena tak tega memaksa putrinya yang terlihat sangat kelelahan, akhirnya Renata pun langsung membiarkan Anya untuk beristirahat.
''Ya udah, Mama turun ke bawah ya,'' pamit Renata dan diangguki oleh Anya.
Setelah Renata keluar dan pintu tertutup, Anya langsung mencoba untuk tidur.
Anya sudah mencoba mengubah posisi namun tetap saja tidak bisa tidur, walaupun biasanya ia sudah sangat mengantuk jam jam segini.
Namun Anya juga ingin mendengar perbincangan orang tuanya dengan Bryan.
Anggap saja Anya terlalu gengsi untuk melakukannya. Padahal tadi Renata sudah mengajaknya untuk keluar, namun Anya malah beralasan ingin segera tidur.
Setelah cukup lama berpikir, tak terasa mata Anya terlelap dengan sendirinya.
Baru sekitar dua jam tertidur, Anya tiba-tiba terbangun kaget.
''Astaga!"
Anya sedikit merasa pusing karena lampu kamar belum dimatikan. Ia tidak terbiasa tidur dalam kondisi terang.
Anya merasa tenggorokannya sangat kering. Namun ternyata air di kamarnya sudah habis, terpaksa Anya harus turun sendiri ke dapur.
Berani?
Tentu saja ia sangat berani jika hanya turun ke dapur. Karena Anya termasuk anak yang tidak takut dengan hal-hal mistis.
Keadaan rumah sudah sangat sepi. Sepertinya perbincangan antara orang tuanya dengan Bryan pun sudah lama selesai.
Anya berjalan menuju dapur dan mengambil segelas air untuk diminumnya sendiri.
Setelah menghabiskan minumnya, Anya berencana untuk naik kembali ke kamar.
Di kamar tamu, pintu sedikit terbuka membuat Anya semakin penasaran. Ia pun mendorong pintu tersebut hingga kepalanya dapat masuk ke dalam dan melihat isi kamar.
Namun Anya tak menemukan seseorang pun di dalam kamar. Dari kamar mandi pun tidak ada suara gemericik air.
Saat akan menyudahi penasarannya dan berniat kembali ke kamarnya sendiri, tiba-tiba sebuah suara berhasil mengejutkan dirinya. Bahkan jantungnya seperti ingin melompat dari tempatnya.
''Mencariku hm?"
"Astaga!" ucap Anya lalu memegangi dadanya karena sangat terkejut.
Anya kemudian mengendus bau sesuatu yang berasal dari Bryan.
''Om abis ngeroko?" tanya Anya yang sudah paham bau apa yang berasal dari tubuh Bryan.
''Iya,'' jawab Bryan singkat.
''Ngeroko dimana?" tanya Anya lagi, sebenarnya ia sedang mengulur agar Bryan tidak bertanya-tanya tentang dirinya.
''Di belakang, kenapa?" jawab Bryan lalu bertanya pada Anya.
''Oh, ga papa cuman nanya aja.'' jawab Anya.
''Bukan,'' ucap Bryan.
Seketika Anya kebingungan. ''Hah? Bukan apanya?"
"Bukan itu, maksud saya kenapa kamu di sini? Cari saya?" jelas Bryan.
Anya benar-benar merasa malu sekarang. Dia sudah termakan jebakan Bryan.
''Oh, ga papa tadi habis ambil minum di dapur terus liat pintu kamar kebuka jadi aku ngecek,'' ucap Anya menjelaskan walaupun sebenarnya kamarnya dan kamar tamu sangat tidak searah jika dari dapur.
Bryan hanya bereaksi dengan beberapa anggukan, cukup percaya dengan alasan yang dibuat oleh Anya.
''Ya udah Om, gue naik ke atas ya,'' pamit Anya.
Namun tangannya ditahan oleh Bryan. ''Kenapa buru-buru?" tanya Bryan.
Anya menatap Bryan dengan bingung. ''Gue mau tidur, Om.''
''Tidak ingin tidur di sini?" tanya Bryan dengan menampilkan senyum sebelah.
''Idih, ogah Om!'' tolak Anya dengan cepat. Anya lupa kalau om om satu ini sebenarnya sangatlah mesum.
''Saya ingin ngobrol denganmu sebentar,'' ucap Bryan, yang kini sudah terlihat serius.
Anya berpikir sebentar, namun akhirnya setuju untuk mengobrol dengan Bryan.
Mereka berdua masuk, dan pintu tidak lupa ditutup lalu dikunci oleh Bryan.
Bryan duduk di tepi ranjang, kemudian ia menepuk di sebelahnya agar Anya duduk di situ.
Anya pun mengikuti arahan Bryan untuk duduk di sebelah pria itu.
''Bagaimana? Kamu benar-benar mau menikah dengan saya?" tanya Bryan.
Anya mengangguk. ''Setelah dipertimbangkan sih gue setuju aja, Om. Selagi gue bisa tetep dance,'' jawab Anya.
Bryan mengangguk menanggapi jawaban Anya yang cukup bisa di terima.
''Saya pengin buat perjanjian sebelum kita menikah biar lebih enak kita jalaninnya. Daripada kita buat perjanjian setelah menikah nanti,'' ucap Bryan.
Mendengar ucapan Bryan membuat Anya langsung terbayang dengan kisah kisah di novel tentang perjodohan, menikah, lalu saling memiliki perjanjian, akhirnya perjanjian itu dilanggar, mereka saling jatuh cinta, dan akhirnya hidup bahagia.
Apakah kisah dirinya juga bisa seperti itu? Pikir Anya.
''Oke, bagus malah Om.'' ucap Anya setuju.
Kemudian Bryan mengambil sebuah map coklat dari dalam nakas.
Kapan si om bawa begituan dah?
''Ini beberapa perjanjian yang sudah saya tulis, kamu bisa menambahkan lagi,'' ucap Bryan lalu menyerahkan kertas yang berada di map kepada Anya.
Anya mulai membaca apa apa saja yang Bryan tulis sebagai perjanjian.