
Seorang gadis dengan tergopoh-gopoh turun dari panggung setelah penampilan terakhir dance bersama grupnya.
Gadis itu berlari membelah kerumunan seperti tengah mengejar sesuatu.
Anyala, panggil saja Anya. Akhir-akhir ini ia sedikit curiga dengan kekasihnya yang jarang memberi kabar padanya.
Bahkan untuk sekedar makan bersama sepulang sekolah pun cowok itu selalu memiliki alasan untuk tidak bisa.
Dan hari inj, kebetulan Anya memiliki jadwal tampil di sebuah mall dalam event fans untuk ulang tahun idol.
Saat perform tadi, Anya tak sengaja melihat pacarnya yang sedang berjalan di mall dengan menggandeng cewek lain.
Yang membuat dada Anya makin empet adalah, cewek yang digandeng pacarnya dengan mesra itu adalah temannya sendiri.
Sepanjang perform, Anya mati-matian menahan rasa ingin menendang, menjambak, dan mencabik-cabik wajah keduanya.
Dengan masih terus berlari dan matanya menelisik setiap sudut mall hingga tak ada yang terlewat.
Dengan mengepalkan tangannya geram dan tak bisa menahan amarah, Anya langsung menghampiri pacar dan temannya itu.
Plak!
Satu tamparan mendarat mulus di pipi si cowok.
Akibat tamparan yang cukup keras dan menghebohkan pengunjung yang juga tengah berlalu-lalang, membuat mereka bertiga menjadi pusat perhatian.
"Anya?! Ngapain kamu ke sini?" tanya si cowok yang tak lain adalah kekasih Anya yang mungkin sebentar lagi akan berakhir.
"Ngapain lagi kalo nggak mergokin kamu selingkuh!" balas Anya dengan emosinya yang sudah memuncak ke ubun-ubun.
"A-Aku bisa jelasin semuanya, Anya." mohon si cowok kepada Anya.
"Nggak ada yang perlu dijelasin, cos semuanya udah jelas."
".... buat lo, Mita. Gue ikhlasin Renan buat lo. Makasih udah nunjukin ke gue kalo dia nggak pantes gue perjuangin. Dan lo juga nggak pantes buat jadi sahabat gue!"
Cewek yang menjadi selingkuhan Renan itu adalah Mita, sahabat Anya sejak SMP. Bahkan mereka sudah seperti saudara. Namun karena hal ini, semua tali yang sudah tersambung langsung putus.
"Anya! Semuanya nggak kayak gitu! Biarin gue jelasin!" Tangan Mita berusaha meraih tangan Anya, namun Anya langsung menepis.
"Udahlah, kalian nggak perlu jelasin apa-apa ke gue. Maaf udah mengganggu waktu kalian, gue pergi dulu."
Anya langsung meninggalkan mereka. Beberapa kali suara memanggil namanya, namun ia hiraukan dan terus berjalan dengan menahan bendungan air matanya yang kapanpun siap membeludak.
Anya langsung keluar dari mall dengan sedikit berlari.
Melihat ada mobil yang berhenti di depan pintu mall, Anya langsung membuka pintu belakang yang kebetulan tidak dikunci.
Karena Anya yang tiba-tiba masuk ke dalam mobil seseorang yang tak ia kenal, membuat si empu mobil menjadi terkejut dengan kehadirannya.
"Permisi Pak, saya nebeng ya?" ucap Anya kepada pria yang masih terkejut dengan kehadirannya.
Supir yang berada di jok depan, seperti ingin menasehati Anya namun dicegah oleh pria yang berada di samping Anya sekarang.
Tangis Anya sudah tak terbendung lagi. Air matanya mengalir deras seiring dengan isakan.
Pria itu hanya melihat dan memperhatikan gadis yang tengah menangis di dalam mobilnya itu.
Mobil berjalan setelah seorang wanita masuk ke dalamnya.
"Dia siapa, Bryan?" tanya wanita yang baru masuk itu.
Pria di samping Anya yang dipanggil Bryan, hanya menaruh jari telunjuknya di depan bibir isyarat agar si wanita tidak dulu bertanya.
Bryan merogoh sapu tangan dari saku jasnya lalu menyerahkannya pada Anya yang masih menangis.
"Makasih om,'' ucap Anya sambil menerima sapu tangan tersebut.
Bryan mengangkat sebelah alisnya, merasa aneh dengan panggilan 'Om'. Seperti de javu.
"Siapa gadis itu? Apa kau membuatnya menangis, Bry?" tanya wanita itu.
"Aku tak tahu, dia tiba-tiba membuka pintu dan masuk saat aku akan menjemputmu." balas Bryan.
"Lalu akan kau apakan dia?"
"Aku akan mengantarnya pulang, setelah aku mengantarmu."
Setelah mengantar wanita itu, kini Bryan bersama supirnya tengah berhenti di pinggir jalan yang lumayan sepi.
"Apa tidak sebaiknya dibangunkan tuan?" ujar Pak Supir.
"Jangan, kita tunggu dia bangun saja. Sekarang kau jalankan saja mobil ini sampai dia bangun lalu kita akan mengantarnya pulang." jelas Bryan.
"Baik, tuan."
Sepanjang perjalanan Bryan hanya mengamati wajah seorang gadis yang berada di sampingnya.
Semakin lama dipandang, justru semakin menarik
Sekitar satu jam mereka berjalan tak tahu arah, akhirnya Anya mulai terbangun.
"Euh,"
Anya meregangkan tubuhnya, sambil matanya perlahan dibuka.
"Astaga!" tersadar dia dimana, Anya langsung saja berteriak.
"Sudah bangun?" tanya Bryan melihat gadis itu panik.
"Om mau bawa aku kemana? Om mau culik aku, kan? Atau jangan-jangan om itu yang suka memperdagangkan manusia? Ngaku om!" sambil Anya terus menyerang Bryan dengan memukulinya.
Walau sudah dipukul oleh Anya secara bertubi-tubi, namun Bryan masih diam bahkan tanpa melakukan perlindungan. Ia membiarkan gadis itu memukulinya.
"Hiks.... hidupku emang udah nggak berguna. Aku selalu dikhianati cowok, dan sekarang aku akan dijual juga oleh om-om. Setidaknya disisa umurku ini, organ tubuhku ada yang bermanfaat untuk nyawa orang lain, hiks." pasrah Anya lalu berhenti memukul Bryan.
"Sudah selesai bicara?" tanya Bryan dengan suara dinginnya.
Anya melirik Bryan takut akibat mendengar suara dingin itu.
"Saya bukan pedagang manusia, dan saya juga tak ingin menculikmu. Sekarang katakan dimana rumahmu, biar kita bisa mengantar."
Mendengar ucapan Bryan, hati Anya langsung berubah lega. Ia tak perlu takut atau was-was lagi jika dirinya akan dijual. Walaupun dia sudah menyerahkan diri, namun sebenarnya ia tak benar-benar rela untuk mati secepat ini.
Anya memberitahu dimana rumahnya, dan mereka langsung menuju ke sana.
Sepanjang perjalanan Anya hanya diam. Ia sedang merenungkan apa yang telah ia lakukan adalah hal yang bodoh dan sangat ceroboh. Untung saja, om-om ini adalah orang yang baik. Jika saja ia masuk ke dalam mobil penjual manusia, maka ia tak bisa membayangkan apa yang selanjutnya akan terjadi pada dirinya.
Ia masih punya Papa, Mama, Kak Aldo, Kak Alista, dan keempat keponakannya yang super duper lucu dan menggemaskan. Kedua kakaknya sudah memberikan orang tuanya masing-masing dua cucu, ia juga ingin memberikan Papa dan Mamanya cucu.
Sekitar 30 menit perjalanan, akhirnya mereka sudah sampai tepat di depan rumah milik keluarga Geraldo.
Anya membuka pintu mobil berniat akan keluar, namun tiba-tiba lengannya ditarik oleh seseorang dari dalam mobil.
cup
Benda kenyal mendarat tepat di bibirnya yang selama ini belum terjamah siapapun. Mendadak tubuh Anya menjadi kaku.
Cukup lama mereka berciuman, tak ada *******. Bryan hanya sekedar menempelkan bibirnya di bibir gadis itu. Sampai akhirnya Anya mendorong tubuh Bryan.
Dan jangan lupakan sebuah tamparan mendarat di pipi kiri Bryan sebelum Anya pergi masuk ke rumahnya.
Bryan yang tersadar pun segera merutuki dirinya sendiri yang entah bagaimana bisa sampai kelepasan seperti itu. Padahal dia juga belum mengenal gadis itu, tapi perasaannya kali ini sangat berbeda. Tidak seperti saat bersama dengan wanita-wanita yang ditemuinya.
Hal ini membuat Bryan malah semakin penasaran dengan gadis itu dan ingin mencari tahu lagi tentangnya.
"Jalankan mobilnya,'' ucap Bryan pada sang supir ketika dirinya sudah puas memandangi rumah gadis itu.