
Awalnya Anya yang berencana akan pulang cepat pun akhirnya gagal karena ia memiliki rencana lain untuk mengerjai Bryan hingga dirinya baru keluar dari studio sekitar pukul setengah sembilan malam.
Namun saat keluar, Anya hanya mendapati mobil Bryan yang masih terparkir di tempat semula. Sedangkan pria itu sudah tidak ada.
''Gue sama Angel duluan ya!" pamit Kiran pada Anya dan Gumi.
''Iya ati-ati,'' balas Gumi.
Mereka pun saling melambaikan tangan.
''Lo pulang naik apa?" tanya Gumi ketika tinggal tersisa mereka berdua.
''Dijemput,'' jawab Anya tak sepenuhnya berbohong.
''Mau gue temenin?'' ucap Gumi menawarkan diri untuk menemani Anya.
''Eh, ga usah. Lo duluan aja, lagian bentar lagi pasti nyampe,'' tolak Anya langsung.
''Ga papa, daripada lo sendirian di sini.'' ujar Gumi bersikeras.
''Lagian masih rame jam segini, kok. Lo pulang aja istirahat, biar ga kecapean. Sorry juga bikin latihan sampe jam segini,'' ucap Anya menyesal.
''Ya elah, santai aja ga apa-apa.'' ujar Gumi.
''Ya udah sana pulang buru gerbang kost ditutup, loh.'' ucap Anya mengusir Gumi.
Seketika Gumi melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.
''Aduh, gue duluan ga papa Nya?" tanya Gumi panik.
''Ga papa, Gumi. Udah buruan pulang aja lah,'' usir Anya sambil mendorong tubuh Gumi untuk segera pergi.
Namun tubuh Gumi masih sedikit menahan karena enggan meninggalkan Anya sendirian.
Pada akhirnya Gumi pun mengalah dan pulang terlebih dahulu.
Tinggallah Anya di depan pintu studio sendirian. Sedari tadi ia sedang mencari keberadaan Bryan namun belum kunjung menemukan.
''Apa dia udah pergi karena gue kelamaan?" tanya Anya pada dirinya sendiri.
Jika memang begitu, Anya merasa cukup senang karena ternyata pria itu cukup mudah menyerah hanya dengan satu kali keisengannya.
''Tapi ya kali mobilnya ditinggal?"
Karena rasa penasaran yang tinggi, akhirnya Anya mencoba untuk mendekat ke mobil dan mengintip ke dalamnya. Siapa tau pria itu ketiduran di dalam.
Anya mencoba mengintip dari balik kaca mobil yang gelap ini, namun hasilnya nihil tidak mendapati Bryan di dalam.
''Sudah selesai?"
Anya terkejut dan langsung menjauhkan wajahnya dari kaca mobil.
Rupanya Bryan yang entah datang dari mana dan sekarang sudah berada di hadapannya.
Anya pun langsung membenarkan rambut sembari mengontrol dirinya yang salah tingkah.
''Om dari mana?" tanya Anya berusaha mengalihkan salah tingkahnya.
''Nyari tempat,'' jawab Bryan.
''Buat ngapain?'' tanya Anya penasaran.
''Ngeroko,'' jawab Bryan.
Anya mengangguk. ''Udah selesai?"
Bryan menjawab dengan anggukan kemudian secara tiba-tiba ia mendekat ke arah Anya.
Bayangan saat pertama kali Anya bertemu dengan Bryan pun seakan berputar kembali di otaknya.
Apalagi saat itu Bryan mengambil first–
Oke stop membahas kejadian itu karena Anya merasa masih sangat malu. Tunggu, malu? Apakah Anya sudah tidak marah?
Bryan semakin mendekat, Anya tak ingin terlalu percaya diri sehingga dirinya tetap diam di sana sembari matanya menatap balik Bryan.
Namun saat Bryan benar-benar mengikis jarak mereka hingga sedekat ini, Anya secara reflek langsung memejamkan kedua matanya.
Beberapa detik berlalu, tak ada sesuatu yang terjadi padanya. Hingga sebuah bisikan membuatnya tersadar.
''Ngga mau minggir? Saya ga bisa masuk kalo kamu tetep berdiri di situ,'' ucap Bryan tepat di telinga Anya.
Merutuki dirinya sendiri, Anya menahan malu setengah mati. Apa yang nantinya bakal Bryan pikirkan?
''Goblok, Anya! Kenapa harus merem sih, tadi!" Anya masih menyalahkan dirinya sendiri.
Hingga suara klakson mobil Bryan seperti akan membuat jantungnya copot.
''Ga mau naik?'' tanya Bryan dari celah kaca mobil yang diturunkan sedikit.
Anya hanya menatao Bryan dengan tatapan kesal. Kemudian ia terpaksa masuk ke dalam mobil walaupun sebenarnya sembari menahan rasa malu.
Sepanjang perjalanan hanya ada keheningan di antara mereka. Anya juga masih merasa canggung dengan Bryan.
Bayangkan saja dirinya bertemu dengan orang asing, lalu kamu baru tau jika dia adalah pamanmu, dan tiba-tiba kamu disuruh menikah dengannya.
Namun pada akhirnya Bryan memutar musik untuk sedikit mencairkan suasana mereka.
Anya sedikit lebih leluasa ketika Bryan memutar lagu yang Anya tahu.
Sesekali Anya juga ikut bersenandung lirih pada awalnya. Namun saat lagu yang diputar mulai asik pun Anya tak segan-segan mengerahkan suaranya untuk ikut bernyanyi dengan bersemangat.
Hingga tak terasa mereka sampai di rumah Anya.
''Makasih, Om!" ucap Anya kemudian turun dari mobil.
Gerbang rumahnya terbuka lebar, Anya menebak pasti ayahnya baru pulang dari kantor
Baru saja masuk ke dalam rumah, Anya sudah disambut oleh Jonatan dan Renata di ruang tengah.
''Habis dari mana saja kamu?" tanya Jonatan begitu tidak bersahabat.
Itu sedikit membuat nyali Anya menjadi ciut. Namun Anya berusaha tetap biasa saja.
''Studio,'' jawab Anya singkat.
''Harus Papa bilangin kaya gimana lagi? Atau Papa hancurkan saja?" ucap Jonatan dengan santai, namun setiap katanya mengandung ancaman.
''Pa, aku bilang bakal lakuin apa aja asalkan aku masih bisa dance!'' ucap Anya sedikit terpancing emosi karena ancaman Jonatan.
''Aku setuju buat menikah,'' lanjut Anya dengan suara rendah.
''Kalau kamu akan menikah, kamu juga harus segera meninggalkan semua ini,'' ucap Jonatan.
''Ngga, Anya ngga mau!" tolak Anya mentah-mentah.
''Ngga papa Anya, lanjutkan saja yang jadi hobimu. Saya mengizinkan,''
Suara itu tiba-tiba terdengar dari arah belakang Anya dan semakin mendekat hingga berhenti di samping kirinya.
''Kau mengantar Anya?" tanya Jonatan.
Bryan mengangguk. ''Tadi kami sempet mampir sebentar jadi agak malam,'' lanjur Bryan. Sedangkan Jonatan hanya terdiam.
Anya menatap Bryan dengan tatapan bertanya-tanya kenapa pria itu masuk ke dalam rumahnya dan sekarang malah mengatakan hal bohong.
''Saya mampir sebentar. Apa kabar Kak Jo?" ucap Bryan yang seakan-akan mengerti apa yang ada di benak Anya.
''Aku, baik.'' balas Jonatan.
''Mau ku buatkan minum apa?" tanya Renata.
''Tidak usah, Kak Ren. Aku hanya sebentar di sini.'' tolak Bryan dengan halus.
Entah mengapa Anya merasa suasana di sini cukup canggung. Apalagi untuk ukuran keluarga bahkan kakak dan adik walaupun bukan sedarah.
''Tak ingin menginap? Sudah lama kau tidak ke sini,'' ucap Jonatan tiba-tiba.
Bryan tersenyum. ''Tentu saja, kalau Kak Jo yang menawarkan,'' balas Bryan.
Renata kemudian menyuruh Mbok Mirah untuk menyiapkan kamar tamu agar bisa ditempati Bryan.
''Karena ngga jadi sebentar di sini, mau minum apa?" tanya Renata.
''Apa saja,'' balas Bryan tersenyum.
''Aku ke atas dulu, mau bersih-bersih,'' ucap Anya yang diangguki oleh Bryan dan Jonatan.
Sepanjang menaiki anak tangga, Anya hanya terus menggerutu. Tak pernah terpikir olehnya, akan menikah dengan seseorang yang terpaut umur cukup jauh. Dan yang lebih membuat tidak nyaman adalah status Bryan yang menjadi pamannya. Walaupun bukan anak kandung dari Geraldo, tapi tetap saja aneh rasanya.