My Om

My Om
Part 14 : Projek Baru



Renata dan Jonatan terkejut ketika Geraldo sudah tiva di kediaman mereka secara tiba-tiba.


''Ayah? Kenapa ke sini ngga ngabarin dulu?" tanya Jonatan langsung mengubah wajah paniknya dengan tersenyum menyambut sang ayah.


''Bagaimana kabar ayah?" tanya Renata ramah pada sang mertua.


''Aku baik, Renata.'' jawab Geraldo sedikit lembut memang jika berhadapan dengan menantu satu-satunya ini.


''Maaf belum bisa ke tempat ayah.'' ucap Renata.


''Tidak apa-apa, aku masih sehat. Kau jangan khawatir,'' balas Geraldo.


Mereka pun membantu Geraldo untuk duduk di ruang tengah bersama.


''Ayah mau minum apa?" tanya Renata.


''Aku ingin kopi buatanmu,'' jawab Geraldo.


''Ayah, kau tidak boleh minum kopi. Apa ayah tidak ingat apa yang dokter katakan?" cegah Jonatan.


Geraldo tampak tersenyum sengit pada putranya itu.


''Tenang ayah, aku akan buatkan minuman lain yang tak kalah enak,'' ucap Renata menghibur sang mertua.


''Tidak salah memang aku memilih menantu,'' puji Geraldo.


Renata pun tersenyum kemudian pergi menuju dapur diikuti oleh Mbok Mirah.


Tak lama setelah membuatkan minum, Renata pun ikut bergabung kembali bersama Jonatan dan Geraldo.


''Dimana Anya?" tanya Geraldo, kali ini masih berpura-pura tidak terjadi apa-apa.


Jonatan dan istrinya dengan kompak saling bertatap-tatapan.


''A-Anya di kamar ya Ma? Biasanya jam segini udah tidur,'' jawab Jonatan.


''I-Iya, Pah.'' balas Renata sekenanya.


''Bagaimana dengan pernikahan yang aku tawarkan?" tanya Geraldo.


Giliran Renata yang tampaknya tidak tahu mengenai ini.


''Pah, tentu saja aku tidak mau menikahkannya. Apalagi dia masih sekolah.'' ucap Jonatan.


Renata akhirnya sedikit paham. ''Anya akan dijodohkan? Kenapa papa ngga bilang sama aku?" protes Renata pada Jonatan.


''Ya, papa ingin Anya menikah dengan Bryan.'' ucap Jonatan.


Renata terlihat sedikit terkejut saat mendengarnya. ''Ayah, kenapa harus Bryan?"


"Ayah cuma kepikiran dia yang bisa jaga Anya dan keluarga ini. Jadi nanti ayah bisa mati dengan tenang,'' ujar Geraldo.


Tiba-tiba, Pak Jarwo datang dengan terburu-buru.


''Tuan, Nyonya!'' ucapnya terlihat panik.


Jonatan memberi kode pada Pak Jarwo untuk jangan mengatakannya terlebih dahulu, namun sepertinya Pak Jarwo telat memahami kode itu.


''Nona Anya udah ketemu di kantor polisi,'' ucap Pak Jarwo.


Renata seketika berdiri dari duduknya. ''Kantor polisi?"


"Iya, Nya.''


''Tapi kenapa bisa samapi ke sana?”


"A-Anu, Nya–"


"Biarkan Anya menjelaskannya sendiri ketika sampai di sini,'' ucap Geraldo memotong Jarwo.


''Pak Jarwo boleh pergi,'' ucap Renata.


Jarwo pun undur diri dari sana.


''Bagaimana bisa kalian sampai ceroboh, hah?!" ucap Geraldo dengan nada tinggi.


''Kalian tau apa yang membuat Anya ada di kantor polisi sekarang?" tanya Geraldo.


Jonatan dan Renata dengan kompak menggeleng.


''Dia digrebek polisi di club sedang mengonsumsi narkoba dengan teman-temannya,'' ucap Geraldo.


Tak lagi terkejut, Renata tampak shock mendengarnya. Dia tidak percaya Anya sampai seperti itu.


''Ayah, Anya ngga mungkin sampai nge-drugs. Aku percaya Anya ngga bakal ngelakuin itu.'' ucap Renata menyangkal apa yang didengarnya.


''Aku akan kirim orang ke kantor polisi,'' ucap Jonatan lalu merogoh ponsel di saku.


''Tidak perlu, Bryan dan sekretarisnya sedang membereskannya.'' ucap Geraldo.


''Bagaimana ayah tau?" tanya Jonatan penasaran.


''Polisi sendiri yang mengirimiku foto Anya.'' jawab Geraldo.


''Bagaimana mereka bisa mengenali Anya?" tanya Jonatan terheran-heran, pasalnya anak bungsunya itu memang tidak pernah tersorot media wajahnya.


''Dia orangku, makanya cukup mengenali sebelum orang lain ngeh. Kalau sampai terdengar sampai luar, pasti saham perusahaan langsung anjlok.'' ucap Geraldo.


''Aku tak ingin kasus seperti ini terulang lagi. Aku anggap kalian lalai sebagai orang tua. Segera nikahkan Anya,'' lanjut Geraldo.


''Nikah? Tidak, Yah.'' tolak Jonatan.


''Ayah, Anya masih terlalu kecil untuk menikah.'' ucap Renata.


''Dia sudah cukup untuk menikah. Kalau dia tetap di rumah ini, kau akan tetap memanjakannya. Dan aku tidak yakin kejadian seperti ini tidak akan terulang lagi.'' ujar Geraldo.


''Tapi, tetap saja Yah.''


''Aku tidak mau tahu, segera nikahkan Anya! Aku sangat malu jika sampai Anya salah menginjakkan kaki seperti kali ini!''


***


Sudah beberapa hari Anya mengurung dirinya di kamar. Sudah beberapa hari juga dirinya tidak masuk ke sekolah.


Anya merasa apa yang sedang dialaminya sangat tiba-tiba dan dia belum bisa menerimanya.


Tok tok tok


''Non, Mbok bawain sarapan,'' ucap Mbok Mirah dari luar pintu.


''Taruh aja depan pintu, Mbok.'' ucap Anya tetap berada di dalam kamar.


''Mbok sudah taruh di depan pintu, jangan lupa dimakan ya, Non.'' ucap Mbok Mirah.


''Makasih, Mbok.'' ucap Anya dengan nada lirih.


''Sama-sama, Non,'' balas Mbok Mirah.


''Non, jangan lupa kalau udah selesai istirahat segera melanjutkan perjalanan. Jangan sampai terlena sampai-sampai melewatkan sesuatu yang Non impikan selama ini.'' lanjut Mbok Mirah.


Ceklek


Mbok Mirah sedikit terkejut ketika pintu kamar Anya tiba-tiba terbuka.


''Mbok,'' ucap Anya dengan tatapan sayu.


''Iya, Non. Mbok di sini,'' balas Mbok Mirah.


Sedetik kemudian Anya langsung menghamburkan dirinya ke pelukan Mbok Mirah.


Air matanya bahkan sudah tidak bisa dibendung lagi. Pertahanan Anya sudah luruh.


Setelah tangis Anya berhenti, mereka pun melepaskan pelukan.


''Anya harus gimana Mbok?" tanya Anya.


''Non Anya harus bangkit,'' jawab Mbok Mirah menguatkan.


''Tapi semuanya udah berantakan,'' ucap Anya.


''Kalau berantakan, masih bisa dirapikan lagi Non.'' ujar Mbok Mirah.


''Anya juga ngga tau mau mulai dari mana,'' ucap Anya putus asa.


''Baiklah, Mbok akan bantu Non Anya.'' ucap Mbok Mirah.


Mata Anya langsung berbinar.


Tiba-tiba ponsel Anya bergetar. Menampilkan panggilan dari kontak bernama Gumi Cumi pada layar.


Anya hanya melihatnya tetapi seperti tidak ada niatan untuk menjawabnya.


''Kenapa dibiarin, Non?'' tanya Mbok Mirah.


''Biarin Mbok, paling aku disuruh latihan ke studio.'' ucap Anya.


''Loh, hari ini kan bukan jadwalnya latihan Non?" tanya Mbok Mirah.


''Iya, Mbok. Cuman sebenernya grup aku dapet projek baru minggu depan. Tapi aku kayanya ngga ikut.'' ucap Anya.


''Itu kan kesempatan yang Non tunggu-tunggu dari lama. Katanya Non pengin segera dapet projek resmi? Kenapa Non ngga ikut?''


''Mbok, aku ngga mungkin bisa sedangkan aku lagi kacau gini.'' Anya memang benar-benar putus asa sepertinya.


''Ingat dulu kenapa Non tetep ikut dance walaupun sampe sembunyi-sembunyi dari orang tua? Non, bahkan bisa tersenyum lebar tanpa beban ketika Non lagi dance. Ini bisa jadi kesempatan Non buat memperbaiki semuanya. Yaitu dimulai dengan projek ini.'' ucap Mbok Mirah.


Anya terdiam sejenak, mencerna kata demi kata yang Mbok Mirah lontarkan padanya.


Tampak ponselnya kembali bergetar. Tertera nama yang masih sama seperti sebelumnya.


''Angkat saja, Non.'' ucap Mbok Mirah yang tahu jika Anya tengah ragu.


Akhirnya Anya pun menerima panggilan dari Gumi.


''Halo, Gum.''


[Anya kemana aja lo? Ga papa kan lo?]


"Aku di rumah,''


[Loh ga sekolah? Lo sakit?]


''Engga, gue pengin bolos aja.''


[Cocok, mending ke studio sini. Gue juga bolos, sekalian latihan bareng. Hari ini MV nya keluar]


Anya tampak terdiam lalu menatap Mbok Mirah. Seketika Mbok Mirah mengangguk.


''Oke bentar lagi gue otw ke sana.''