
''Eyang sebenarnya mau ngajak kita kemana?" tanya Anya. Gadis itu masih saja penasaran, karena Geraldo tak mengatakan apapun padanya.
''Nanti kau juga akan tau kalau kita sudah sampai,'' jawab Geraldo.
Anya pun menyerah dan memilih untuk tidak menanyakan hal itu kembali.
Lagian percuma jika dia mengetahuinya, itu tidak akan merubah apapun karena mereka sudah menempuh perjalanan jauh.
''Wah, apakah kita akan ke kebun apel?" tebak Anya saat mobil yang ditumpangi mereka melewati jalan yang kanan dan kirinya dipenuhi oleh pohon apel yang sedang berbuah.
''Kurasa memang sekarang waktu yang cocok untuk datang ke kebun apel. Tapi sayangnya Eyang sudah punya rencana yang lebih menyenangkan,'' jawab Geraldo.
Anya merasakan sebaliknya. Ia memiliki firasat jika rencana kakeknya jauh dari kata menyenangkan.
Sebisa mungkin Anya bisa menggagalkan rencana awal kakeknya. Dan terbesitlah sebuah ide.
''Eyang, kenapa kita ngga mampir ke kebun apel dulu? Aku pengin banget makan apel," rengek Anya pada Geraldo yang sedang duduk dengan tenang.
''Nanti kita beli ke supermarket,'' ucap Geraldo yang sangat jauh dari keinginan Anya.
Namun Anya tak menyerah, ia sudah menduga jika merayu kakeknya bukan hal yang mudah.
''Ayolah, Eyang,'' rengek Anya tak menyerah.
Geraldo sepertinya tidak goyah sedikit pun.
''Om, Bry. Anya pengin apel?'' kini Anya berganti merengek pada Bryan. Wajahnya juga sudah ia majukan agar Bryan dapat melihat raut wajahnya sekaligus.
Bryan yang terkejut dengan gerakan tiba-tiba Anya pun menjadi tergagap. ''K-Kita beli di supermarket aja, pasti ada,'' ucap Bryan.
Anya pun membulatkan matanya. Padahal ia sudah memberi kode kepada Bryan untuk menuruti keinginannya.
Anya kemudian merengek keras. Membuat seisi mobil terkejut dibuatnya.
''Om Bry ga peka. Nanti kalau udah menikah, pintu kamar aku kunci terus Om tidur di luar.'' ancam Anya membuat Bryan dan Geraldo pun ikut terkejut.
''Om Bry mirip banget sama Eyang. Orangnya ga peka. Makanya dulu Eyang juga tidur di luar karena ga peka sama Oma,'' lanjut Anya.
Geraldo tak menyangka jika dirinya kali ini malah jadi terpojok.
''I-Itu ngga bener,'' elak Geraldo.
Anya kembali memposisikan tubuhnya duduk dengan benar seperti semula.
''Itu bener, Eyang. Mendiang Oma yang cerita ke aku dulu,'' ucap Anya memperkuat argumennya.
Geraldo sudah tidak bisa mengelak. ''I-Itu cuma beberapa hari saja, setelah itu Oma memaafkan Eyang. Dan Eyang juga belajar untuk peka sampai Oma sangat sayang pada Eyang,''
''Huft, aku berharap juga punya suami yang peka seperti Eyang.'' ucap Anya memancing. Ia berpura-pura merajuk dengan membuang wajahnya ke luar jendela.
Bryan di sana hanya terdiam, ia tidak bisa menebak alur rencana Anya. Semuanya di luar kepala dan sangat tiba-tiba.
Pletak
Geraldo melemparkan sebuah botol air mineral yang tinggal terisi seperempat itu dan mengenai kepala Bryan.
Bryan mengadu pelan dan memegangi kepalanya. Walau tidak terasa sakit, namun efek mengejutkannya masih terasa.
Anya dalam hati pun sangat terkejut sebenarnya bahkan ia ingin tertawa keras saat itu juga. Namun ia memiliki misi, sehingga ia tetap pura-pura tidak peduli.
''Kau ini sangat tidak peka!" omel Geraldo.
''Tidak peka bagaimana, Yah?" tanya Bryan yang memang tidak mengerti.
''Calon istrimu ingin buah apel, apa yang akan kamu lakukan?'' tanya Geraldo dengan nada mengomel.
Bryan pun semakin dibuat kebingungan. ''K-Kita beli di supermarket,''
Geraldo langsung menatap ke arah Anya. Anya yang mengetahui itu pun langsung memasang wajah merajuk.
''Haish, sepertinya aku kurang mendidik mu untuk menjadi suami yang baik,'' sesal Geraldo.
Bryan pun lagi lagi hanya bisa diam.
''Astaga, Bryan! Kau ini memang tidak ada peka pekanya?" omel Geraldo kembali.
''Kau tidak ingin menghentikan mobil ini?" tanya Geraldo pada Bryan.
Bryan pun bertanya tanya, apakah dirinya berarti harus menghentikan mobil ini atau tidak. Terkadang ayahnya terlalu ambigu.
''Pak, hentiin mobilnya. Kita putar balik,'' ucap Geraldo pada supir.
Supir pun mematuhi perintah Bryan.
Namun Geraldo masih melihat wajah Anya yang merajuk.
''Kenapa, Nya?" tanya Geraldo.
''Anya sedih, soalnya Om Bryan masih belum peka. Masa iya harus diomelin sama Eyang dulu baru peka?!" ungkap Anya sambil sedikit memberi efek tangisan.
Geraldo pun menjadi khawatir melihat cucunya menangis seperti itu.
''Bryan! Ayo minta maaf,'' ucap Geraldo berbisik.
Sudut bibir Anya terangkat karena ia mendengar apa yang dikatakan Geraldo pada Bryan. Namun dirinya berpura pura tidak mendengar apapun
''Anya, saya minta maaf. Saya janji akan mencoba lebih mengerti tentang kamu,'' ucap Bryan terdengar cukup kaku namun berhasil membuat Anya tersenyum.
Melihat Anya sudah tersenyum, Geraldo pun memberikan ibu jari pada Bryan.
Hingga tak lama mereka sampai di kebun apel. Sebelum itu Geraldo sudah sempat menghubungi pengelola kebun ini yang tak lain adalah miliknya sendiri.
Anya pun sangat excited walaupun mereka masih di luar gerbang.
''Eyang bahkan tak pernah mengajakku ke sini waktu kecil!" gerutu Anya.
Geraldo terkekeh. ''Dulu Eyang sangat sibuk, maafkan Eyang telat membawamu ke sini.''
Gerbang pun dibuka dan mereka sudah bisa masuk ke dalam.
''Tuan, kenapa memberitahu saya mendadak jadi kami belum menyiapkan apapun,'' ucap sang pengelola kebun.
''Tak ada yang perlu disiapkan. Cucuku hanya ingin memetik apel sendiri, dia sangat menyukai apel.'' ujar Geraldo.
Anya sedikit memelankan jalannya agar ia bisa berjalan beriringan dengan Bryan.
''Maaf, Om." bisik Anya sambil berjinjit agar dapat menggapai telinga Bryan.
Bryan hanya tersenyum simpul. ''Saya tidak menyetujuinya jika kamu melakukan seperti itu lagi,'' ucap Bryan.
Sang pemilik kebun pun mengantarkan mereka ke pohon apel yang buahnya sudah cukup waktu untuk dipetik.
''Anya, kau bisa mengambil apel sepuasnya.'' ucap Geraldo.
''Siap,'' balas Anya sambil berpose hormat.
Geraldo pun terkekeh dengan tingkah Anya.
Pada akhirnya, Anya dan Bryan ditinggal berdua untuk memetik apel hingga satu keranjang. Itulah yang Geraldo perintahkan.
Namun memetik apel rupanya tak semudah yang dibayangkan. Apalagi dengan satu keranjang ini.
''Apakah ini lebih baik daripada rencana Eyang?" ujar Anya bertanya.
''Mungkin,'' balas Bryan sekenanya.
Cuaca yang terik membuat mereka kesusahan untuk mengambil apel karena silau.
''Nggak bisa, kalau begini bakalan lama sampe keranjang bisa penuh,'' ucap Anya.
''Ada ide lain?" tanya Geraldo.
''Kita mencar. Terus apelnya taruh di baju kaya gini, kalau udah penuh kita ke sini dan apelnya taruh ke keranjang,'' ucap Anya.
Geraldo memikirkan saran yang diberikan Anya. ''Tapi kita akan banyak berjalan,''
''Gue pikir itu bukan hal yang sulit dari pada harus membawa keranjang ini yang lama kelamaan akan semakin berat. Kalo om ngga keberatan bawa keranjangnya sih ga papa,'' ucap Anya.
Akhirnya Bryan pun setuju dengan saran Anya. Membayangkan dirinya membawa keranjang yang penuh dengan apel, bahkan sudah membuat tubuhnya terasa remuk.