
Anya menuruni tangga dengan terburu-buru seakan dirinya tidak akan terpengaruh gravitasi dan tidak akan jatuh.
Renata yang sedang membaca majalah di ruang tengah pun harus terganggu dengan suara kaki Anya yang sangat tidak santai.
''Anya, biasain kalo turun jangan bikin suara gaduh,'' ucap Renata memperingati putri bungsunya yang memang harus selalu diingatkan setiap detail kecil.
''Buru-buru, Mah.'' ucap Anya yang terlihat sudah cukup rapi dengan sneakers dan hoodie.
''Mau kemana? Sarapanmu udah dimakan?" tanya Renata sewajarnya seorang ibu.
''Udah kok, aku mau ke studio. Dadah!" jawab Anya kemudian berhenti sejenak untuk memakai topi setelah menuruni anak tangga.
''Pulang sebelum Papah mu pulang!" seru Renata sedikit keras karena Anya sudah cukup jauh.
Namun tiba-tiba gadis itu berbalik lagi ke ruang tengah.
''Oh ya tadi aku lupa bilang ke Mamah, kalo aku mau nikah kok. Dengan syarat selama dua minggu ini biarin aku karena ada projek.'' ucap Anya dengan lantang.
Renata bahkan sampai cengo mendengar apa yang baru saja Anya katakan padanya.
''Tolong bilangin ke Papah ya, Mah. Biar ga ada salah paham lagi,'' sambung Anya ketika belum mendapati jawaban Renata.
''Kamu serius, sayang?" barulah Renata merespon.
''Serius apa, Mah?" tanya Anya.
''Serius mau nikah,'' jawab Renata
''Iya Mamah, Anya serius ih. Kita bahas lagi kapan-kapan ya Mah, aku mau pergi nih," ucap Anya.
''Berangkat sama siapa?" tanya Renata.
''Ada, udah pesen taksi,'' jawab Anya.
''Pulangnya kapan? Biar Mamah jemput,'' ucap Renata pertama kali menawarkan untuk menjemput Anya di studio.
''Ngga usah Mah, Anya bisa naik taksi lagi atau yang lain kok.'' tolak Anya.
''Hmm, ya udah.'' Renata tampak kecewa akibat penolakan dari Anya.
''Anya pergi dulu, Mah. Dadah!" pamit Anya kemudian dengan buru-buru keluar dari rumah.
Renata terdiam, ia menjadi bingung harus senang atau sedih mendengar Anya yang akhirnya setuju untuk menikah.
Anya pun masuk ke dalam taksi yang dirinya pesan. Kemudian mobil berjalan menuju tujuan Anya, studio.
Sekitar tiga puluh menit waktu yang ditempuh untuk sampai ke studio dari rumah Anya.
Anya masuk ke dalam studio yang ternyata ada cukup banyak orang yang datang.
Gumi, Kiran, Angel, Kak Alex, dan tiga senior lainnya yang Anya lupa namanya.
''Akhirnya nongol juga,'' ucap Alex menggoda Anya.
''Iya nih, tiga hari habis hibernasi. Nanti latihannya harus paling semangat sih,'' timpal Angel.
Anya meringis. ''Gue bakal berusaha latihan maksimal,'' ucap Anya.
''Hari ini kita nonton mv nya dulu, habis itu milih peran. Nah selanjutnya kalian latihan mandiri dulu sesuai dengan peran masing-masing. Usahakan hari ini gerakan hafal ya, detail dan lain-lain gue koreksi mulai besok.'' jelas Alex.
''Oke kak!" jawab member Sweetz dengan kompak.
Mereka pun melihat ke layar LCD yang sudah disiapkan untuk menonton bersama.
Semuanya fokus melihat dari awal video dimulai sampai dengan akhir dan diramaikan dengan tepuk tangan sebagai apresiasi terhadap mv yang begitu bagus.
''Baik, Fida, Azka sama Putri silakan berdiskusi buat nentuin peran mereka jadi siapa,'' ucap Alex pada ketiga temannya yang lain.
Alex dan member Sweetz pun mengobrol sembari menunggu keputusan dari para senior.
Hingga sekitar lima menit berlalu, dan keputusan pun sudah dapat diambil.
''Jadi, kita udah milih peran buat kalian. Enaknya dari mana nih ngumuminnya?" ucap Firda.
Seketika member Sweetz pun langsung menoleh ke orang yang berada di ujung sebelah kanan, yaitu Kiran.
''Oke, Kiran akan meranin Giselle.'' ucap Firda.
Kiran pun langsung menutup mulutnya tak percaya, pasalnya Giselle adalah biasnya sendiri.
''Lanjut, Anya meranin Winter, Gumi meranin Karina dan Angel meranin Ningning.'' lanjut Firda.
Tampaknya member Sweetz sangat puas dengan pembagian peran mereka.
''Oke udah pas semua? Atau ada yang mau ganti? Mumpung masih di sini dan belum fix, bilang aja,'' ucap Alex.
Namun anggota Sweetz terdiam semua. Mereka tampak sudah sangat cocok dengan pembagian karakter mereka.
''Oke kalo ngga ada, bakalan kita fix kan. Ini berlaku buat projek kedepannya juga,'' ujar Alex.
''Gue sama tim kebetulan ada rapat buat cari tempat, kostum kalian, dan lain-lain. Jadi latihan mandiri aja ya. Kalo udah cape mau pulang ya pulang aja.'' ucap Alex yang diangguki oleh member Sweetzz.
Setelah kepergian Alex dan ketiga senior lainnya, mereka pun akhirnya mulai menghafal koreografi dengan cara melihat part bagian masing-masing di video sepcial stage.
Setiap setelah melihat beberapa gerakan mereka akan mencobanya. Jika terasa sulit, mereka akan mengulangnya dua sampai lima kali atau bahkan lebih hingga benar-benar hafal.
Mereka berhenti berlatih ketika jam makan siang telah tiba.
''Mau goput apa kita keluar?" tanya Gumi.
''Keluar aja kali, sekalian ngirup udara segar.'' jawab Angel.
''Udara segar apanya, yang ada aja udara polusi,'' timpal Kiran.
''Omaygat Kiran, maksud gue udara segar tuh suasana baru. Biar ga sumpek studionya.'' ucap Angel.
''Oh,'' balas Kiran membuat Angel mendelik kesal.
''Kiran bener-bener ngajak berantem lo ya! Sini maju,'' ucap Angel sambil menarik kedua lengan bajunya.
Gumi pun melerai mereka. ''Udah udah, mending goput aja lah,'' ucap Gumi.
''Nah, cocok.'' balas Anya setuju.
Akhirnya mereka pun memesan beberapa makanan bahkan cemilan.
Setelah makan siang dan beristirahat, mereka kemudian melanjutkan latihan hingga tak terasa jam telah menunjukkan pukul lima sore.
Anya harus berhenti karena ponselnya terus berdering.
Terlihat nomor tidak dikenal memanggilnya.
''Halo? Siapa ya?"
[Ini saya]
''Siapa?"
[Bryan]
Anya seketika menutup mulutnya menggunakan telapak tangan kanannya saking terkejutnya.
''A-Ada apa Om?"
[Selesai jam berapa? Saya sudah di luar]
''Hah? Ma-Maksud Om?"
[Saya disuruh jemput kamu. Kamu selesai jam berapa?]
Anya pun memiliki ide untuk mengerjai Bryan. Bukan mengerjai, lebih tepatnya Anya ingin mengetes Bryan. Syukur-syukur Bryan akan merasa jika menikahi Anya adalah hal yang merepotkan dan Bryan memilih membatalkannya saja.
''Masih lama Om, mending Om pulang dulu.''
[Ya udah saya tunggu di mobil]
''Yakin om? Gue kemungkinan masih lama, loh.''
[Saya bisa tidur di mobil dulu]
''Ya udah terserah, Om.''
[Oke]
Tut
Anya lebih kesal ketika Bryan memutuskan sambungannya terlebih dahulu.
Padahal dirinya yang berniat mengerjai Bryan, tapi kenapa malah dirinya sendiri yang dibuat kesal karena pria itu?
''Gimana, Nya? Lanjut gak latihannya?" tanya Gumi.
''Lanjut aja,'' jawab Anya dengan semangat.
Akhirnya mereka pun melanjutkan latihan mereka sebentar. Setelah itu mereka beristirahat sembari mengobrol dan memesan camilan.
''Goput nya dateng, gue ambil dulu ya." ucap Gumi.
''Gue temenin,'' ucap Anya mengajukan dirinya.
Sebenarnya sekalian dirinya mengecek apakah Bryan memang masih di saja atau tidak. Kalau masih dirinya bisa sedikit mengerjainya.
Mata Anya menelisik ke sekitar studio, dan dirinya menemukan sebuah mobil hitam. Dan mata Anya sempat berkontak langsung dengan Bryan yang berada di dalam mobil.
Dalam hati Anya tersenyum sangat senang. Bryan akan mati karena bosan sedangkan dirinya asik di dalam. Awal yang bagus menurut Anya.