My Om

My Om
Part 5 : Teman Baru



"Apa aku ke kantin aja, ya?"


Baru saja Anya akan melangkah, tiba-tiba seseorang menarik lengannya hingga badannya terhuyung.


"Astaga! Lepasin!" Anya terus meronta-ronta melihat seorang cowo yang menyeretnya ke gedung belakang.


"Lo siapa?" tanya Anya.


"Gue Rey, anak IPS." jawab cowok itu.


"Ooh, ada apa narik gue?" tanya Anya penasaran.


"Lo ga tau? Ada razia! Gue liat lo mau ke kantin, ya udah gue seret aja lo kemari."


"Razia? Siang bolong gini?!"


"Kek nggak tau aja tuh Kakek Botak."


"Kita aman di sini?"


"Aman udah tenang aja."


"Hmm. Lo ngapain kabur?''


"Jam pertama gue izin toilet, tapi ga balik-balik. Kalo gue balik dah kena sama si Botak. Lo juga bolos?"


"Wkwk, awalnya gue dihukum. Hukuman gue selesai gue ga balik kelas."


"Hampir sama,"


Cukup lama Anya dan Rey bersembunyi di gedung kelas belakang.


"Udah aman belum?" tanya Anya.


"Udah keknya, balik ke kelas sekarang?" balas Rey lalu bertanya.


"Gue kagak ke kelas deh keknya."


"Lah terus lo mau kemana?"


"Gue ke kantin aja. Nanti jam pelajaran ke 7 baru gue masuk, sekarang masih ada jam ekonomi,"


"Mau gue temenin?"


"Serius lo?"


"Serius lah."


Rey berdiri sambil menepuk bokongnya yang sedikit kotor karena duduk tanpa alas. Ia bergeser sedikit, hingga tubuhnya menutupi Anya yang masih nyaman di posisi duduknya.


"Ayo, katanya mau ke kantin?"


"Lo yakin kita aman, ke kantin?"


"Aman sama gue. Udah yok!"


"Nanti kalo Pak Pusworo masih di sana gimana dong?"


"Paling dia udah nggak ada di sana. Kalau pun nanti ada, ngapain takut sama orang kek dia. Udah, ayok! Dari pada balik ke kelas nanti juga diomelin, sama aja."


"Hmmm." Anya tampak memikirkan matang dan menimbang-nimbang.


"Ya udah, ayo!" ucap Anya setuju.


Rey mengulurkan kedua tangannya untuk membantu Anya berdiri.


Dengan senang hati Anya menerima uluran tangan dari Rey. Senyumnya tercetak jelas di wajahnya.


Namun, tiba-tiba senyum itu memudar kala Anya akan berdiri. Ia tadi sempat menoleh ke kanan dan ke kiri untuk memastikan tidak ada orang yang melihatnya.


Tapi, ternyata dia benar. Memang ada seseorang yang tengah melihat mereka dengan mata tajam.


"Ayo! Kenapa malah diem?" tanya Rey yang bingung melihat Anya tak kunjung berdiri namun diam membeku.


"Anya?" panggil Rey mencoba menyadarkan Anya.


"Mati kita, Rey!" ucap Anya pasrah.


Rey yang sedikit kebingungan dengan maksud ucapan Anya, akhirnya mencoba mengikuti arah pandang Anya.


Sekejap ia ikut membeku.


"Anya, sejak kapan tuh orang di situ?" tanya Rey dengan tidak membuka gigi dan bibirnya.


"Ya mana gue tau, Rey!" balas Anya dengan cara seperti yang Rey lakukan.


"Gimana ini kita ketauan." ucap Rey masih dengan cara ngomong yang sama dengan sebelumnya.


"Kabur?" ucap Anya.


"Hitungan ketiga."


"Satu,"


"Dua,"


"Ti–"


"Mampus gue, dihukum lagi." Anya merutuki dirinya sendiri.


"Lebih baik dari pada orang tua gue tau, jadi double hukumannya." balas Rey.


"Ngapain kalian di situ aja? Cepat ke sini!"


"Botak, sial!" umpat Rey.


"Jangan keras-keras, ntar denger." ingat Anya.


"Ck."


Anya dan Rey langsung mendekat ke arah guru kesiswaan itu.


"Oh, jadi dua pembolos sekarang udah jadian?" ucap Pak Pusworo, guru kesiswaan yang memergoki Rey dan Anya bersembunyi.


"Enggak, Pak!" bantah Rey dan Anya bersamaan.


"Hmm, kompak amat." ujar Pak Pusworo masih tampak sedikit tak percaya. Ia terus menatap satu persatu Rey dan Anya.


"Ayo ikut bapak!"


"Kemana, Pak?!" tanya Rey dan Anya yang entah bagaimana bisa bersamaan lagi dan juga dengan intonasi yang sama.


"Ke ruangan spesial," jawab Pak Pusworo enteng.


"Anjrit, BK lagi." pasrah Rey, memang dia sudah menjadi langganan masuk ke ruangan itu.


"Apes banget gue hari ini." ucap Anya mengasihi dirinya sendiri.


"Ayo jalan yang cepet!" tegur Pak Pusworo yang membuat dua siswa itu yang tadinya masih sibuk dengan pikiran masing-masing menjadi terkejut.


"I-iya Pak!" jawab Anya langsung sedikit berlari agar jaraknya tak terlalu jauh dengan Pak Pusworo. Tak lupa ia juga sedikit menundukkan wajahnya. Bukan karena malu masuk ke BK, dia hanya tak mau ada salah satu guru yang menjadi antek-antek Mamanya tau jika dia kena masalah lagi di sekolah.


Sedangkan Rey memilih untuk tetap berjalan santuy, dia bahkan dengan percaya diri menegakkan badannya menuju ke ruang BK.


"Ayo kalian masuk ke dalam." perintahPak Pusworo saat sampai di depan ruang BK.


"Baik, Pak." balas Rey.


"Berarti kita cuman masuk BK Pak? Enggak dapet hukuman, dong?" tanya Anya.


"Tentu saja, kalian tetep dapet hukuman!" jawab Pak Pusworo yang benar-benar membuat Anya mendelik.


"Lah, kok gitu sih Pak?!" protes Anya, namun Rey malah menutup mulut Anya dan menyeretnya masuk ke dalam ruang BK.


Pak Pusworo adalah guru yang jika semakin dibantah maka ia juga akan menambah beban hukuman, jadi dari pada nanti hukumannya makin tak berakhlak Rey memilih untuk membungkam mulut Anya dan membawanya masuk ke ruang BK segera agar masalah ini cepat selesai dan dia bisa pulang walaupun dengan cara ilegal.


Tak begitu lama Anya di dalam ruang BK, karena ini tercatat kasus pertamanya maka masih diberi kebijakan sedikit. Ia melihat Rey yang masih di dalam dan belum ada tanda-tanda akan keluar sama sekali.


Akhirnya Anya memilih untuk pergi duluan karena perutnya sudah keroncongan sejak tadi. Pak Pusworo akan menagih hukuman kami setelah kami pulang sekolah nanti yaitu mengerjakan background untuk Pameran dan Pagelaran yang akan dilaksanakan dua minggu lagi.


Pak Pusworo memberi waktu untuk kami menyelesaikannya seminggu sebelum acara dimulai, yang berarti Anya dan Rey hanya diberi waktu satu minggu untuk pengerjaan, dan aku pun harus dikerjakan pada jam-jam istirahat.


Bel istirahat telah berbunyi, Anya menjadi mempercepat langkahnya agar ia bisa sampai dahulu di kantin dan tidak perlu mengantre dipaling belakang.


Kini Anya telah sampai di kantin, namun tiba-tiba seseorang menarik tangannya.


Ya, dia adalah Renan.


"Apaan sih, Ren? Lepasin!" Anya terus berusaha memberontak melepaskan tangannya.


"Gue cuma pengen nyelametin hubungan kita, Nya!"


"Nyelametin? Hubungan kita? Terus Lo nggak nyadar kalo yang Lo lakuin selama ini itu yang bikin hubungan ini hancur!"


"Lo sendiri yang bilang, kalo hubungan itu soal kepercayaan. Gue selama ini berusaha buat percaya ke Lo, dan juga gue berusaha menjaga kepercayaan Lo. Jadi, apa yang harus dipertahanin dari hubungan ini?!"


"Anya, please semuanya salah paham!"


"Awalnya gue pikir iya. Tapi akhirnya gue sadar, kalo itu emang bukti."


"Anya, gue sayang sama Lo!" Renan menarik lengan Anya yang akan pergi.


Bugh


Satu pukulan mendarat di pipi kanan Renan. Anya terkejut karena yang melakukannya adalah Rey. Entah dari mana ia tahu jika Anya ada di kantin.


"Rey?!"


Rey langsung mengambil alih tangan Anya dan menyatukan telapak tangan mereka. Ia menggenggam tangan Anya dengan penuh kehangatan.


"Berani lo ikut campur urusan gue sama Anya?!" Renan yang tak terima langsung maju dan sedikit menarik kerah seragam Rey.


Rey yang diperlakukan seperti itu juga langsung ikut maju, mata Rey dan Renan saling beradu penuh dengan amarah.


Karena kondisi kantin yang mulai tidak kondusif, banyak pasang mata yang sedang memperhatikan mereka. Tak sedikit juga yang sambil berbisik-bisik.


Anya langsung menarik lengan Rey, dan dengan sekuat tenaga membawanya pergi dari kantin.


"Anya, lo mau bawa gue kemana?" protes Rey.


"Kemana aja asal Lo nggak berantem!" ucap Anya.