My Om

My Om
Part 8 : Marah



Kini Anya sudah sampai di depan rumah bersama dengan Rey yang mengantarnya lagi seperti ucapannya kemarin.


"Besok malem free ngga?" tanya Rey pada Anya yang baru saja melepas helmnya.


"Gue free kok." Jawa Anya.


"Bisa keluar?"


Anya menatap Rey dengan curiga.


Rey terkekeh melihat tatapan ekspresi wajah Anya menatapnya.


''Party,'' ucap Rey


Mata Anya membulat dan ia langsung menggeleng.


''What, kenapa?" tanya Rey yang terkejut dengan jawaban Anya.


Anya tampak ragu menjawab pertanyaan Rey itu. ''Gue ga pernah soalnya,''


''Sama gue, aman Nya,'' ucap Rey meyakinkan.


Anya tampak menimang-nimang ajakan Rey.


"Ya udah, kalo mau nanti kabarin gue aja,'' ucap Rey pada akhirnya menghentikan kebingungan Anya.


Anya pun mengangguk setuju.


"Udah ya, gue pulang dulu." pamit Rey.


"Iya, lo ati-ati di jalan,"


Rey pun membalasnya dengan mengangguk. Tak lama motornya sudah terlihat menjauh dari depan rumah Anya sampai akhirnya tak terlihat lagi.


Anya masuk ke dalam rumah dengan perasaan yang bahagia. Dia merasa jika dirinya mulai menyukai Rey. Mungkinkah Rey juga begitu?


Saat tiba di dalam rumah, Anya melihat kakak perempuannya yang tengah duduk di ruang tengah sambil membaca majalah.


"Kak Alista?"


Alista, kakak perempuan Anya pun menoleh sambil melemparkan senyum singkatnya.


"Pulang sama siapa? Kok ngga sama Pak Supir?" tanya Alista yang terdengar seperti menginterogasi.


"Sama temen." jawab Anya.


"Anya, kamu itu udah kelas 12 fokus sama sekolah kamu dong. Jangan pacaran-pacaran dulu deh. Dari pada waktu luang kamu dibuang-buang buat pacaran, mending ikut kakak casting aja?"


Anya merasa dirinya ingin sekali menghilang dari dunia jika kakak perempuannya satu ini sudah membicarakan mengenai sekolah dan selalu memaksa dirinya untuk masuk ke dunia permodelan atau entertainment.


"Kak Alis, Anya kan udah bilang kalo ngga tertarik." balas Anya.


''Daripadadance, lagian penghasilannya juga ga segede kalo kamu jadi model loh," ujar Alista.


Sebelum kakaknya semakin menuntutnya yang tidak-tidak, ia memilih untuk langsung naik ke atas dan masuk ke dalam kamarnya.


Sampai di dalam kamar, Anya melemparkan tasnya sembarang.


Dengan malasnya ia juga melepas satu persatu sepatu miliknya menggunakan kaki secara bergantian.


Tanpa sadar tiba-tiba dirinya sudah terlelap di atas kasur dengan masih menggunakan seragam sekolahnya.


Tok tok tok tok


''Non di dalem?" tanya Mbok Mirah dari luar pintu kamar Anya.


''Iya Mbok, masuk aja,'' balas Anya dari dalam.


Barulah Mbok Mirah berani membuka pintu kamar Anya dan masuk.


''Lagi ngapain, non?" tanya Mbok Mirah.


''Lagi main hp aja, kenapa Mbok?" jawab Anya lalu bertanya balik.


Kedua alis Anya seketika tertarik ke atas. ''Mama papa tau aku ngedance?"


"Mbok kurang paham, Non. Tapi kayanya iya,'' jawab Mbok Mirah yang sepertinya juga menaruh kecurigaan yang sama.


Anya menghela napas pasrah. Sepertinya kali ini dirinya ketahuan lagi.


Ia pun segera keluar dari kamarnya untuk turun ke bawah.


Di sana sudah terdapat papa dan mamanya yang sedang duduk di ruang tengah sembari menonton televisi.


Anya pun ikut bergabung duduk di sofa. ''Mama sama Papa manggil aku?" tanyanya.


Jonatan, Papanya kemudian mengambil remot televisi dan menekan tombol power dan televisi yang tengah menampilkan acara berita itu mati.


''Kamu ngedance lagi?" tanya Jonatan langsung terus terang.


Sudah Anya duga, jadi dirinya tidak terlalu terkejut. Namun tetap saja dirinya bingung harus menjawab apa jika sudah ketahuan begini.


''I-Iya, Pah. Tapi tenang aja, Anya udah ngga pengen jadi idol kok.'' ucap Anya berharap itu bisa mengurangi kemarahan sang ayah.


Jonatan memejamkan mata sembari terlihat sedang menahan sesuatu yang ingin segera meledak.


''Mau kamu pengen atau engga, Papa ngga peduli. Papa cuma mau kamu berhenti dari semua kegiatan dance mu itu. Fokus ke sekolah mu, Papa sampe bingung harus gimanain kamu lagi. Laporan nakal kamu banyak banget, Anya. Nilai kamu juga, padahal kamu akan mengelola perusahaan. Tapi kalau kaya gini? Papa ga yakin,'' ujar Jonatan masih dengan suara biasa.


''Emang aku mau ngelola perusahaan? Engga, Pah! Anya sekolah di sana juga kemauan Papah! Selama ini aku itu selalu ngelakuin apa yang bukan keinginanku. Awalnya aku nyoba, siapa tahu memang aku belum terbiasa aja. Tapi nyatanya aku ngerasa keberatan, Pah! Tapi aku terus dituntut buat ini itu, rasanya kepalaku pengin pecah!" balas Anya, dengan air mata yang sudah tidak bisa dibendung lagi.


Sudah terlihat kilat amarah di mata Jonatan yang kini tengah menatap Anya.


''Kamu pikir, kehidupan yang kamu miliki sekarang itu mudah? Engga, Anya! Eyangmu yang merintis ini dari nol, dan Papah berusaha meneruskannya agar lebih berkembang. Kewajiban anak-anak Papah juga sekarang untuk ikut andil dalam perusahaan!" ujar Jonatan.


''Anak-anak Papah bukan cuma aku! Lagian kewajiban itu sudah digugurkan oleh Kak Aldo, jadi aku tidak berkewajiban.'' bantah Anya.


''Anya, kamu dengerin Papah dong. Kita kaya gini itu buat kebaikan kamu dan keluarga kita,'' kali ini Renata bersuara karena merasa perdebatan ayah dan putrinya yang mulai tidak kondusif.


''Anak ini emang ga tau diri, Mah! Aku sudah capek mengurusnya." ujar Geraldo lalu beranjak dari sofa. Ia berdiri membelakangi Anya dan Renata sembari tangannya memegang kepala.


''Pah-'' peringat Renata, namun ucapannya sudah terlebih dahulu dipotong oleh Anya.


''AKU GA PERNAH MINTA DILAHIRIN DI KELUARGA INI! KENAPA AKU HARUS SEPERTI INI DAN ITU? AKU JUGA PUNYA CARA BUAT NIKMATIN HIDUPKU SENDIRI, CUMA AKU YANG TAHU APA KEINGINANKU. KARENA APA? KARENA KALIAN GA PERNAH PEDULI!" amarah Anya tampak meledak, diiringi dengan dirinya yang ikut bangkit dari sofa.


Jonatan masih tampak di posisinya, sedangkan Renata kini tengah menatap putrinya dengan tatapan yang tidak percaya.


''BAIKLAH!" Jonatan berbalik dan membuka suara.


''Dance? Idol? Itu yang kamu mau? Silahkan!" lanjutnya, lalu pergi meninggalkan ruang tengah.


Anya terdiam setelah mendengar reaksi Jonatan.


''Anya ke kamar,'' ucapnya kemudian berjalan naik ke atas.


Renata cukup bingung harus menyusul kemana. Namun tiba-tiba Mbok Mirah datang.


''Biarin Non Anya sendiri dulu, Nyonya. Kalo masih gini malah ga bisa diajak bicara,'' ucap Mbok Mirah yang juga diangguki oleh Renata.


Mungkin asisten rumah tangganya itu malah lebih mengerti tentang putrinya dibanding dirinya sendiri.


Sedangkan di kamar, Anya dengan posisi tengkurap dan wajah yang tertutup bantal untuk meredam suara tangisnya yang pecah karena perdebatan dengan ayahya di ruang tengah tadi.


Ada sedikit penyesalan di dalam lubuk hati yang paling dalam karena sudah berani berkata dengan nada yang sangat tinggi di depan ayahnya. Tapi di sisi lain Anya tidak bisa melepaskan hobinya begitu saja.


Bagi Anya, dance adalah salah satu hal yang penting bagi hidupnya. Selama ini, yang membuatnya tampak lebih hidup ya karena dance yang ia lakoni.


Anya bukanlah tipe anak yang mudah bergaul terutama dengan orang baru. Butuh waktu yang cukup lama untuk orang-orang berusaha mendekatinya, karena Anya cukup sulit terbuka sebelum orang itu bisa benar-benar membuatnya nyaman.


Apalagi semenjak kejadian di mall saat itu, yang membuat Anya kehilangan pacar sekaligus sahabatnya dalam satu waktu. Tentu menjadi pukulan hebat dan dirinya semakin menutup diri dari orang-orang.


Saat seperti ini, Anya tiba-tiba teringat dengan ajakan Rey tadi.


Party? Ah, dia bahkan belum pernah mencobanya. Mungkin kali ini adalah waktu yang tepat untuk dirinya mencoba hal baru.