
''Mbok, Anya di mana? Kok ga turun makan malem?" tanya Renata pada Mbok Mirah ketika melihat dirinya sendiri yang sedang makan di meja makan.
''Non Anya belum pulang, Nya.'' balas Mbok Mirah.
Renata kemudian mengecek jam, dan baru menunjukkan pukul tujuh malam.
''Hari ini jadwal dia ke studio, Mbok?" tanya Renata.
''Betul, Nya.'' jawab Mbok Mirah.
''Biasanya dia pulang jam berapa, Mbok?" tanya Renata lagi.
''Emm, biasanya si jam delapan Nya, itu udah paling malem.'' balas Mbok Mirah.
Karena memang belum waktunya Anya pulang, Renata pun tidak mempermasalahkan Anya yang pergi ke sudio. Jika dulu gadis itu pasti secara diam-diam, tapi sekarang Anya melakukannya secara terang-terangan. Tak peduli akan dimarahi atau tidak.
Setelah menyelesaikan makan malamnya, Renata pun pergi ke ruang tengah untuk menonton beberapa acara di televisi sembari menunggu anak dan suaminya pulang.
Tak terasa, waktu sudah menunjukkan pukul sembilan lebih lima. Namun baik Anya maupun Jonatan belum ada yang terlihat sampai di rumah.
Renata pun mencoba menghubungi Anya, karena ini sudah melewati satu jam lebih dari batas waktu pulang.
''Mbok, ini Anya kok belum pulang?" tanya Renata khawatir.
Mbok Mirah pun ikut kebingungan. ''Iya, Nya. Non Anya juga ga biasanya pulang sampai lewat jam delapan.''
Renata pun semakin dibuat khawatir ketika Anya tidak bisa dihubungi sama sekali.
''Mbok, ini Anya ga bisa dihubungin gimana?" Renata terlihat panik. Sekarang bayangan sesuatu yang kurang baik mulai menghantui wanita beranak tiga itu.
''Kita nunggu Tuan mungkin Nya,'' ucap Mbok Mirah memberi usulan.
Renata pun mengangguk setuju. Biasanya Jonatan akan pulang tak lama lagi.
Dan benar saja, terdengar suara gerbang yang terbuka menandakan Jonatan sudah pulang.
''Pah, Anya udah malem gini kok belum pulang ya?" tanya Renata dengan khawatir pada suaminya yang baru saja masuk ke dalam rumah setelah seharian bekerja.
Jonatan masih tidak terlihat panik. ''Masih latihan di studio mungkin,'' balasnya sambil menatap arloji di tangannya.
''Tapi Non Anya ngga pernah pulang lewat dari jam delapan, Tuan.'' ucap Mbok Mirah.
Jonatan tampak menaikkan alisnya sebelah.
''Tuh kan, Pah. Mama udan coba telfon dia tapi ga aktif,'' ujar Renata.
''Pah, suruh Pak Jarwo buat nyusul aja kali ya?" lanjut Renata.
''Mah, jangan manjain dia terus. Biarin aja, nanti juga pulang sendiri,'' ucap Jonatan.
''Pah, kalo Anya kenapa-napa gimana? Ini bukan soal manjain atau engga, ini buat keamanan Anya aja.''
''Dia udah besar, pasti bisa jaga diri,''
''Pah, setidaknya kita cek di tempat latihannya. Kalo memang masih di sana, ya gapapa yang penting kita udah tau. Biar Mama lega, ngga khawatir kaya gini.'' bujuk Renata pada suaminya.
Jonatan pun mengalah pada istrinya. Ia lalu menelepon supirnya untuk coba mengecek Anya di studio tempat Anya latihan dance.
''Udah, Mah. Tinggal nunggu kabar dari Pak Jarwo, Papah mau ke atas dulu.'' ucap Jonatan.
Renata tampak sedikit lega, namun raut wajahnya masih menyimpan banyak rasa khawatir. ''Iya, Pah.''
Namun sepertinya sudah lama menunggu, tetap tak ada kabar.
Saat mendapat panggilan dari Pal Jarwo, Renata pun langsung antusias mengangkatnya.
''Halo, Pak. Gimana, Anya masih di studio?"
[Maaf, Nya. Non Anya ngga ada, katanya udah keluar dari jam delapan, Nya]
"Pak Jarwo udah ngecek sendiri? Siapa tau Anya sembunyi karena ngga mau pulang.''
[Sudah, Nya. Tapi memang ngga ada Non Anya]
''Duh, ada yang tau Anya pulang sama siapa Pak?"
[Katanya sih Non Anya pergi sama temen cowoknya, Nya. Tapi pada ngga tau dia siapa]
"Cowok? Ya udah, Pak Jarwo coba cari lagi ya. Kalo ada info lagi langsung kabarin saya aja, Pak.''
[Siap, Nya]
Panggilan terputus.
''Mbok, Anya punya pacar 'kan?" tanya Renata pada Mbok Mirah.
''Dulu sih punya, Nya.'' jawab Mbok Mirah yang sebenarnya sedikit ragu membuka sesuatu yang selama ini Anya rahasiakan dari orang tuanya.
''Iya, Nya udah putus.''
''Sekarang mereka jadi berteman?"
"Setahu saya sih engga, Nya. Karena putusnya pun ngga baik baik.'' jawab Mbok Mirah dengan jujur.
''Terus Anya pernah cerita kalau dia ada temen cowok ngga?"
Mbok Mirah tampak berpikir, mencoba mengingat-ingat kembali.
''Oh Mbok jadi inget, kalo ga salah Non Anya pernah dianter pulang sama cowok. Katanya sih cuma temen doang, Nya. Tapi saya ngga tahu namanya, Nya.''
Renata pun semakin kebingungan harus mencari Anya bagaimana lagi.
***
Di kediaman Eyang Geraldo.
Seorang polisi mengirimi sebuah gambar seorang gadis pada Geraldo.
[Dia putrinya Jonatan, bukan?]
Geraldo pun mengamati foto yang dikirim oleh orang itu. Dan dia yakin itu sangat mirip dengan cucunya, tapi tidak mungkin kalau cucunya sampai masuk ke dalam kantor polisi.
''Ayah kenapa?" tanya Bryan ketika melihat ekspresi Geraldo yang berbeda.
Kebetulan pria itu memang tengah berkunjung ke rumah Geraldo sekaligus menginap di sana.
''Seseorang mengirimiku ini,'' ucap Geraldo sambil menunjukkan ponselnya pada Bryan.
Bryan pun mengamati seseorang yang ada di gambar. Ia seperti pernah bertemu dengannya.
''Dia siapa, Yah?" tanya Bryan.
Pletak
Seketika ujung tongkat Geraldo mendarat di kepala Bryan.
''Kau bodoh? Dia Anya cucuku!" ucap Geraldo.
Bryan pun baru tahu wajah anak bungsu Jonatan seperti apa.
''Dia di kantor polisi?''
''Iya, kau cepat susul Anya dan keluarkan dia dari sana. Ayah akan pergi ke rumah kakakmu,'' ucap Geraldo.
Bryan pun sudah tahu dirinya harus berbuat apa. Langsung, ia menelepon Adrianus, sekretarisnya untuk menjemputnya.
Sedangkan Geraldo sudah bersiap untuk pergi ke rumah Jonatan bersama dengan asistennya.
''Kau berantem dengan bos besar?" tanya Adrianus ketika sampai di depan rumah Geraldo.
''Ck, kau pikir aku anak kecil?" balas Bryan tak terima.
Adrianus terkekeh, dia memang sangat suka menggoda Bryan.
Bryan pun langsung masuk ke dalam mobil.
''Ada apa? Kau terlihat sangat buru-buru," tanya Adrianus.
''Kita ke kantor polisi,'' jawab Bryan.
''Ada apa ke sana?" tanya Adrianus panik.
''Calon istriku ada di sana, aku harus membawanya pulang,'' jawab Bryan yang membuat Adrianus merinding mendengarnya.
'Calon istriku' itu sangat menggelikan karena Bryan yang mengatakannya.
''Bhahahaha, kenapa aku merinding mendengarnya,''
Bryan pun menjadi sedikit malu. Jujur saja dirinya tadi kelepasan menyebut Anya 'Calon istriku'.
''Cepat bawa aku ke kantor polisi, sebelum Ayah akan memarahiku.'' ucap Bryan.
Adrianus pun menghentikan tawanya. Ia mengelap sudut matanya yang keluar air akibat saking terbahak-bahak.
''Cepat jalankan mobilnya, atau gaji lembur mu tidak ku berikan.'' ancam Bryan pada Adrianus.
''Bro, ancamanmu tidak keren. Kau memang sangat tega membuatku sengsara.'' jika sudah begini, Adrianus tidak bisa berkutik.
''Satu, dua, ti–"
"Iya iya kita jalan sekarang,''
Adrianus pun menjalankan mobilnya dengan sedikit ngebut supaya bisa cepat sampai di kantor polisi sebelum orang-orang tahu jika cucu Geraldo berada di kantor polisi dan keadaan menjadi semakin rumit.