
Sakit? Tentu sakit rasanya. Seseorang yang sejak kemarin aku hindari untuk bertemu tiba-tiba dengan seenaknya menyeret ku dan meminta kesempatan.
Aku tak pernah memberi dia kesempatan untuk mencari cewek lain, terus sekarang kenapa dia minta kesempatan padaku untuk memperbaiki?
Kenapa selama aku hidup, nggak ada satu pun laki-laki yang bener? Aku saja sudah mencoba buat setia. Bahkan, aku juga nggak punya sahabat cowok yang akan membuat cemburu pacar aku. Tapi mereka semua selalu berkhianat.
Terkadang itu yang membuat ku berpikir jika semua lelaki sama kecuali Papa dan Kak Aldo.
Aku masuk ke dalam kelas tanpa memperdulikan Mita yang berdiri di depan pintu kelas. Dia terus menatap ku, namun aku berjalan seakan-akan tak melihatnya di sana.
"Jepri! Tukeran tempat duduk dong!" ucap ku pada Jefri, dia adalah teman sekelas yang duduk di pojok belakang.
"Emang kenapa? Bukannya lo sukanya di sebelah Mita?" balas Jefri, yang malah nyebutin nama orang yang sedang aku hindari.
"Lo naksir Mita, kan? Lo mau lewatin kesempatan emas?" ucapku mencoba memancing Jefri.
"Lo kok tau, Nya?!" Jefri terlihat sangat terkejut.
"Anggap aja gue cenayang."
"Ya udah deh gue mau pindah."
Dalam hati aku benar-benar bersorak Yes karena Jefri mau berpindah.
Kini aku sudah pindah duduk di bangku Jefri. Yang sebelumnya memang hanya dia yang duduk sendirian karena jumlah siswa kelas kami yang ganjil.
Kesempatan banget nih gue duduk mojok, sendirian lagi.
Tiba-tiba bel berbunyi, biasanya guru akan masuk sekitar lima menit lagi.
Aku memilih untuk memakan bekal sarapanku.
Setelah selesai memakan sarapanku, aku memilih untuk memasang AirPods milikku yang selalu aku bawa kemanapun.
Aku memutar beberapa lagu-lagu yang menurutku pas didengar.
Aku sangat bersyukur dimasukkan ke sekolah ini. Dulu aku pernah akan dimasukkan ke sekolah elite tempat Kak Alista dan Kak Aldo bersekolah. Namun aku sepertinya selalu sadar jika otakku tak akan mampu di sana. Atau mungkin aku juga akan keteteran di sana.
Ngomong-ngomong tentang otak,
Astaga gue lupa belom buat PR Matematika woy!!
"Jes! Gue liat PR Matematika dong!!!" ucapku pada Jessy yang duduk di depanku.
Baru saja Jessy akan memberikan bukunya, tiba-tiba seorang guru datang.
Jika kebanyakan orang melihat guru sebagai angel, tidak dengan guru satu ini menurutku dia seperti malaikat pencabut nyawa.
"Selamat pagi, semua!" sapa Bu Puput, ya dia adalah guru Matematika.
"Selamat pagi, Bu!" jawab kami kompak.
"Ayo sekarang ibu akan melanjutkan materi Minggu kemarin. Oh iya, ada PR kan?"
Jeder⚡
Kenapa kelas jadi mendung?
Anjir, gimana gue!
"Ada yang belum ngerjain? Ayo angkat tangan?"
Kelas tiba-tiba menjadi senyap. Teman-teman ku hanya mematung menatap Bu Puput. Sedangkan aku menatap satu persatu temanku, yang senasib seperti ku belum mengerjakan tugas.
Ini seriusan nggak ada yang tunjuk tangan? Berarti cuman gue yang belum ngerjain tugas?
"Anyala? Mana tugasmu? Sekalian sama yang minggu kemarin belum, kan? Kamu janji pada ibu hari ini loh."
****! Kenapa tiba-tiba gue?!
"Ah em, a-anu bu–" kan, jadi gagap mendadak.
"Iya, Anya? Mana tugasnya? Jangan bilang kamu nggak ngerjain lagi?"
"Ma-maaf Bu, Anya lupa." ucapku pasrah.
"Ta-tapi, Bu saya nggak pinter ngecat sama gambar. Nanti di sana saya cuman nyusahin." alasanku, padahal sebenarnya aku lumayan bisa menggambar dan melukis tapi aku tak terlalu suka.
"Nggak usah alesan, Anya. Ibu tau kok kamu gambarnya bagus-bagus, pasti di sana kamu bisa membantu teman-teman."
"Baik, Bu. Cuman itu saja, kan?"
"Itu untuk sanksi karena kamu tidak menepati janji. Namun besok ibu akan tetap menagih tugasmu, jadi jangan lupa dikerjakan ya?!"
"Besok, Bu?! Kenapa nggak minggu depan aja Bu?" protesku. Aku tak pernah habis pikir dengan guru matematika. Mereka seperti menganggap kehidupan muridnya hanyalah sebatas mengerjakan tugas dan sekolah saja.
"Itu sudah jadi aturan kelas yang diajar ibu. Ada sanksi jika tak mengumpulkan tugas tepat waktu."
Dan ya, guru matematika sangat banyak sekali aturan yang membuat kepalaku ingin meledak.
"Baik, Bu."
Aku keluar kelas dengan wajah yang benar-benar badmood.
Ah tapi ada bagusnya juga, aku bakalan sekalian skip pelajaran selanjutnya. Itung-itung buat nenangin diri sendiri.
Aku berjalan menuju tempat dimana anak-anak Mural berada.
"Anya?! Sini, bantuin bikin yang sebelah sini ya?" panggil seorang wanita, dia adalah pembimbing ekskul Mural.
"Baik, Bu." jawabku patuh.
Bu Al, sapaan untuk guru pembimbing Mural menjelaskan konsep tema Mural yang akan mereka buat.
Akhirnya kita mencoba berdiskusi, dan mulai membuatnya.
Menggambar, melukis, dan sejenisnya itu sangatlah menyenangkan. Karena itu juga bisa sebagai media untuk menyalurkan isi hati atau perasaan si pembuat.
Jika aku jadi pelukis? Haha tidak akan mungkin diizinkan Papa sama Mama.
Cukup lama kami bermain dengan warna-warna, namun jam pelajaran Matematika sudah habis dan Bu Al memerintahkanku untuk kembali ke kelas karena waktu hukumanku sudah selesai.
Sesuai seperti yang sebelumnya direncanakan, aku tak akan kembali ke kelas mungkin sampai 3 pelajaran terakhir sebelum bel pulang berbunyi.
Aku pergi ke kantin sekolah untuk membeli beberapa makanan, namun aku makan dengan cara sembunyi-sembunyi. Karena sering sekali ada guru piket yang keliling kantin dan tempat-tempat yang bisa dijadikan siswa-siswa bolos pelajaran.
Beruntung aku tak sampai ketahuan. Cukup, hukuman hari ini membuat perutku benar-benar keroncongan.
Setelah menghabiskan satu mangkok bakso dan dua gelas es jeruk, aku memilih untuk pergi ke rooftop sekolah sekedar untuk sedikit menjernihkan pikiran. Apalagi pemandangan di sana cukup indah, dan benar-benar nyaman walau tak senyaman balkon di rumahku.
Aku berjalan menaiki tangga dengan cepat dan hati-hati. Berjaga-jaga juga jika ada guru yang melihat, apalagi ini masih dalam jam pelajaran.
Saat sampai di tangga teratas, aku langsung berjalan cepat menuju ke sebuah kursi panjang di sana.
Namun langkah kakiku terhenti, ketika melihat seorang duduk di sana sambil menyesap rokoknya.
Aku pun perlahan mendekat agar bisa melihat siapa anak itu dengan jelas.
Hingga baru aku sadar, jika cowok yang sedang merokok itu adalah Renan.
Tunggu,
Sejak kapan Renan mulai merokok?
Aku pun mengurungkan niatku untuk bolos di rooftop dan memilih untuk turun ke bawah sebelum Renan menyadari kedatanganku.
Dan sialnya, sepatuku malah menginjak kaleng bekas minuman sehingga membuat sebuah bunyi yang cukup keras.
Aku dapat melihat wajah Renan yang sekarang sudah berbalik menatapku.
"Anya?" ucapnya masih belum terlalu yakin.
Aku pun langsung segera pergi dari rooftop dengan berlari cukup kencang.
"Tunggu, Nya!"
Aku berusaha untuk mengabaikan panggilan Renan dan kabur kemana saja asalkan tidak akan dikejar lagi.