
Semenjak kejadian itu Cylla hanya sanggup berdiam diri di dalam kamarnya. Setiap malam dia selalu bermimpi, dan seakan itu semua adalah nyata. Namun dia tidak pernah mau untuk memberitahukan kepada ayah dan bunda.
Entah dia masih syok dengan kejadian itu atau memang ada sesuatu yang salah dengan dirinya. Di setiap tidurnya selalu ada gambaran tentang seorang anak kecil dan kedua orang tuanya. Anak itu nampak mahir menggunakan senjata, dan orang tua anak itu begitu di hormati. Saat mereka berjalan maka tak ada yang berani menatap mereka. Suasana bahagia dan tenang terlihat di dalam mimpinya itu. Namun sesuatu terjadi, gambaran lain terlintas, terdengar tembakan yang di arahkan kepada mereka, dengan cepat mereka melaju dengan mobil, namun naas, para pengejar itu terua menembaki mereka. Dan booom.. suara ledakan menggema..
Cylla terbangun, keringat mengucur membasahi tubuhnya. Rasa ngeri bercampur takut melanda. Yah mimpi itu nampam nyata baginya. Wajah gadis iti nampak samar dan kedua orang tua itu sangat asing untuknya tapi suara itu sama seperti suara ayah dan bunda.
Semakin Cylla berusaha memikirkan itu, semakin sakit yang dia rasakan. Dadanya nampak sesak, kepalanya pusing tak tertahan. Cylla berusaha memencel tombol untuk meminta bantuan. Naas Cylla hilang keseimbangan karena rasa sakit itu. Dia terjatuh dan kepala Cylla terbentur. Pandangannya mulai gelap dan akhirnya dia tak sadarkan diri tergeletak di lantai.
***
"Bi, tolong tanya Cylla, dia ingin makan di kamar atau di sini. " perintah bunda kepada Bibi Nan.
"Baik nyonya, saya permisi." ucapnya sopan menundukkan kepala ketika berbicara dengan bunda.
bibi Nan berjalan menaiki tangga dan setelah sampai di depan kamar Cylla, dia mengetuk dan mulai memanggil Cylla.
tok.. tok.. tok..
"Non.. non cylla." panggil bibi Nan saat itu.
Perasaan bibi Nan sedikit kuatir saat nona nya tidak menjawab panggilan itu.
Dengan hati-hati dia membuka pintu. Terkejutnya saat melihat Cylla tergeletak di lantai tak sadarkan diri. Dia mulai panik dan mulai memanggil orang-orang.
Bodohnya, gumam Bibi Nan meruntuki hal itu, dia lupa jika di dalam kamar ada tombol darurat. Di pencetnya tombol itu dan bergema nyaring alarm di dalam rumah itu.
Kepanikan terjadi saat orang-orang mendengar alarm. Ke dua orang tua Cylla berlari menaiki tangga menuju kamar Cylla.
Dengan sigap ayah segera membopong tubuh putrinya ke atas ranjang. Di belainya rambut putrinya dan melihat ada darah di kening Cylla.
"Cepat panggilkan dokter!!" perintah Rajendra.
Isak tangis terdengar di dalam kamar itu.
"Cylla sayang, bangun nak." ucap bunda lirih.
Rajendra nampak mondar mandir menanti kedatangan dokter. Tak lama dokter datang, tak lain adalah paman Cylla, Paman Lan.
"Apa yang terjadi pada Cylla, Dra?" tanya paman Lan.
Tak ada sahutan sama sekali dari Rajendra. Dia akhirny mulai memeriksa Cylla dan mengobati kening Cylla.
"Aku kuatir Cylla akan menginggat kejadian dulu." ucapnya saat selesei memeriksa Cylla.
Ayah dan bunda saling bertatapan, dan mulai bingung dengan keadaan ini.
Bagaimana jika Cylla ingat? Apa yang akan dia katakan? Mungkin sudah saatnya dia menceritakan semua pada Cylla. Rajendra menguatkan hatinya dan kembali menatap istrinya. Anggukan kepala dia terima ketika melihay sang istri.
Hai kak, dukung karya ku biar aku lebih semangat lagi.
Ayo Vote, Rate dan like di karya author.