
Rencana yang telah Rald susun tentu akan membawa keuntungan untuknya. Selain bisa membersihkan namanya, dia juga bisa mengendalikan musuhnya.
X yang sedari tadi bekerja dengan laptopnya akhirnya menemukan titik terang. Informasi alamat Ronald sudah dia dapatkan. Mereka segera menyusun strategi untuk bisa menyelinap masuk ke markas itu.
Malam itu Rald hanya membawa pasukan inti untuk menyelinap masuk markas Ronald. Di sebuah villa daerah pinggir pantai terlihat penjagaan yang begitu ketat. Rald segera turun dari mobil di ikuti Ray, sedangkan Sam mencoba membuat keributan di tempat penjagaan. X yang sedari tadi bergelut dengan laptop nya memberikan aba-aba untuk Rald. Dengan ketangkasannya Rald memasuki Villa itu sedangkan Ray berjaga. Rald mulai memanjat agar sampai di jendela lantai 2 sisi timur, sesuai aba-aba X. Tempat yang seharusnya menjadi Ruangan pribadi Ronald.
Ronald yang sedang meneguk segelas anggur di buat kaget. Tepat di kepalanya Rald mengarahkan pistol.
"Jangan bersuara ataupun memanggil pengawalmu." ucap Rald tegas.
Dengan keadaan yang seperti itu Ronald hanya bisa menuruti perintah Rald.
"Untuk apa kamu kesini breng**k." ucap Ronald seraya menahan amarahnya.
"Langsung ke intinya. Untuk apa kamu selalu berusaha membunuhku? Yang aku tau bukannya sudah biasa kita saling berebut proyek ataupun pembeli. "
"Jangan mengucapkan omong kosong. Jika hanya itu aku tak mungkin akan membunuhmu. Harusnya kamu tahu kenapa aku ingin membunuhmu." ucap Ronald marah.
Memamg hal biasa bagi mereka bersaing di dunia bisnis ataupun dunia bawah tanah, tapi tak pernah mereka memiliki niat untuk saling membunuh.
"Aku bahkan tidak tahu maksudmu." ucap Rald.
"Haruskah aku mengingtkan mu dengan Agnes Renz. Model baru yang mulai bernaung di bawah perusahaanmu. Dia adalah adikku." teriak Ronald tak lagi bisa menahan amarahnya.
"Bukankah kamu yang membuat Agnes seperti itu, dia hanya ingin menjadi model tapi kamu menjadikannya pelampiasan napsu bejatmu." amarah Ronald tak terkendali dan langsung membalikkan badan menyerang Rald.
"Hei untuk apa aku melakukan itu, jika aku mau tak perlu memakai cara seperti itu. wanita manapun yang mengenalku akan suka rela naik ke atas ranjangku tanpa aku paksa." ucap Rald berusaha Menyakinkan Ronald.
"Kamu pikir aku akan percaya." Tegas Ronald.
"Baik kalau begitu beri aku waktu 3 bulan untuk mencari tahu siapa dalang di balik ini semua tapi ingat jangan sampai ada orang yang tau tentang pembicaraan kita malam ini." Ucap Rald seraya meletakkan pistolnya di atas meja.
"Kamu pikirkan tentang tawaranku, 3 bulan hanya 3 bulan saja. Aku akan membawa dalang dari semua itu di hadapanmu. Jika kamu tidak percaya, silahkan tembak aku dan setelah itu dalang dari semua ini akan tertawa menertawakan kebodohanmu yang bisa dia tipu." Ucapnya lagi.
Ronald mengambil pistol dan mengarahkannya tepat di kepala Rald. Di mata Rald penuh dengan ketegasan, dia mualia berpikir apakah benar jika bukan Rald pelakunya, tapi orang lain yang ingin menghancurkan dua musuh sekali tepuk.
"Baik, aku akan memberimu waktu 3 bulan, tapi kamu harus memberiku informasi setiap hal yang kamu temukan." ucap Ronal setelah memikirkan segala kemungkinan.
Rald tersenyum penuh kemenangannya. Dia yakin jika Ronald pasti akan percaya dan bekerja sama.
Didalam Ruangan itu mereka berdiskusi tentang hal yang terjadi. Bukti-bukti foto, video bahkan pesan di perlihatkan Ronald kepada Rald. Jika memang dia memutuskan bekerja sama maka dia harus percaya pada Rald.
Maaf ya author berapa hari gak up. Author lagi sibuk dengan Real life. Setelah ini Author bakal Rajin Up.