
Pagi harinya.
Fisa dengan tubuhnya yang sudah segar dan wangi sehabis mandi pun segera keluar dari kamarnya untuk menikmati sarapan pagi.
Kaki ini, Fisa berniat untuk menyuruh pelayan hanya membuatkannya sarapan sayuran hijau saja. Fisa tidak ingin jika mempercepat kematiannya, setidaknya ia harus menunggu sampai suaminya dan sahabatnya memiliki anak dan melihat wajah bayi menggemaskan itu.
Saat sampai tangga terakhir. Fisa terhenti melihat suaminya dan juga Hana yang sudah berada dimeja makan, dengan Hana yang sedang menyiapkan sarapan untuk suaminya. Tidak, tapi suami mereka.
"Fisa" Panggil Hana dengan tersenyum saat melihat Fisa yang akhirnya turun juga dari kamar.
Lave yang sedang sibuk pada ponselnya, seketika jadi mengedarkan pandangannya pada snag istri pertama. "Sayang...kemarilah" Ucap Lave yang segera mematikan ponselnya.
Dengan bibir yang masih pucat, Fisa pun mendekat dan tersenyum pada mereka. Ia seperti biasa akan duduk disamping kanan Lave. "Ee...Hana, kamu duduk disebelah kiri mas Lave aja ya" Ucap Fisa saat melihat Hana yang akan duduk disampingnya.
Walau tidak enak, namun Hana pun tetap menurutinya. "Baiklah"
Mata Fisa yang jeli, menatap bibir Hana yang terlihat bengkak seperti habis di... Akhhh...! Belum juga apa-apa, Fisa audsh harus menahan sakitnya lagi.
Dan juga, Fisa dapat melihat sebuah tanda kepemilikan yang sedikit terlihat dibagain leher jenjang milik Hana. Tidak...Fisa harus kuat dan tidak boleh cengeng didepan mereka. Ini kemauannya, seharusnya Fisa senang karena mereka mau melakukan itu demi dirinya.
"Tenanglah Fisa..." Batin Fisa. Ia hanya bisa meremas Geely yang dipegangnya.
"Em...Mas, Hana, Aku akan keluar dulu, ada sebuah ucapan yang harus aku sampaikan pada pelayan yang bertugas me-laundri" Pinta Fisa berbohong.
"Tapi say-" Belum sempat Lave melanjutkan perkataannya, justru Fisa lebih dulu berpindah dan mulai menjauhi meja makannya.
"Lave, seperti nya Fisa tau bahwa kita sudah melakukannya" Ucap Hana lirih. Perasaan bersalah kini mulai kembali menghantuinya lagi. Apalagi saat melihat wajah menyedihkan dan mata bengkak dari Fisa. Hana begitu yakin jika semalaman ini Fisa menangis tanpa henti lalu langsung tertidur pulas.
"Aku pikir juga begitu" Jawab Lave.
"Aku ingin mengejar Fisa, namun hari ini benar-benar sedang ada meeting. Tolong kau hibur Fisa selagi aku tidak ada. Aku akan berusaha pulang cepat" Titah Lave kemudian. Ia tidak lagi melanjutkan sarapan nya dan memilih untuk segera pergi ke kantor sekarang.
"Lave!" Panggil Hana saat Lave baru saja beberapa langkah berjalan. Hana lalu mengulurkan tangannya untuk menyalimi Lave, walau begitu, Hana tetap harus menjalankan nya sesuai syariat agamanya.
Lave yang masih bergeming hanya bisa diam saat istri keduanya mengecupkan bibirnya pada satu tangannya. Lalu, tanpa kata lagi, Lave langsung pergi begitu saja.
#
#
Ia menangis denagn sejadi-jadinya pagi ini. Kembali saat dengan khayalan nya mereka melakukan itu dengan hikmat. "Arghhh!!! Kenapa sangat sulit sekali menjadi wanita yang berhati malaikat ya Tuhan...!" Jerit Fisa tertahan karena takut jika kedengaran yang lain.
"Hatiku sangat sakit ya Tuhan!!!" Sekuat tenaga Fisa menahan jantungnya yang hampir terlepas dari tempatnya dengan mengepalkan tangannya kuat pada bagian dadanya. "Aku sakit!!! Aku tidak rela haaahh...!" Fisa bahkan sampai menggerakkan gigi-giginya agar tangisannya tidak keras.
Sungguh, menangis dengan menahan suaranya agar tidak keluar itu sangat sakit dan sesak sekali.
"M-maaf nyonya" Seorang perempuan dengan menggunakan seragam pelayan itu dengan tangan yang gemetar dan takutnya memberikan sebuah sapu tangan untuk mengelap air mata milik nona Fisa.
Fisa mendongok menatap pelayan itu. Ia sesegera mungkin langsung berusaha agar isakannya reda.
"nyonya ambilah...Ini adalah pemberian dari asisten Gerry beberapa menit yang lalu" Pinta sang pelayan.
"Asisten Gerry?" Tanya Fisa seolah tak percaya bahwa sapu tangan yang dipegang oleh pelayan adalah pemberiannya. Fisa pun langsung mengambil sapu tangan itu dari tangan sang pelayan.
Pelayan tersebut mengangguk. "I-iya nyonya. Saya juga awal nya takut, namun bagaimana lagi. Maaf jika lancang, tapi asisten Gerry juga memberikan sebuah pesan ini pada nyonya" Pelayan tersebut segera memberikan secarik kertas yang tadi diberikan oleh asisten Gerry.
Dengan sisa isakannya, Fisa pun segera menerimanya. Entah kenapa Fisa benar-benar dibuat penasaran akan isi didalamnya.
"Kalau begitu saya permisi nyonya"
Fisa mengangguk pelan.
Setelah melihat pelayan yang sudah pergi, Fisa pun langsung membuka surat yang kata pelayan itu, Asisten Gerry lah yang memberikan nya.
...Dalam mimpiku, terlihat seorang perempuan yang begitu bodohnya untuk mengizinkan suaminya menikah lagi....
...Padahal sudah jelas-jelas jika hatinya hanya setipis tisu dibagi dua. Padahal sudah jelas jika dimadu itu sangat sakit....
...Nyonya, maaf saya lancang, tapi saya hanya ingin agar anda jangan kembali bersedih. Maaf jika saya kembali lancang, namun apakah boleh saat saya merindukan gelak tawa anda beberapa tahun lalu?...