My Husband Second Wife

My Husband Second Wife
Bab 18. Siapa pemakai syar'i itu?



Seperti yang sudah dibuat bagai dialog sebelumnya oleh sang dad Vino, Lave dengan terpaksa menyuapkan satu potong kue tart untuk Hana.


Hana menerimanya dengan senyum paksaan. Ia dalam hati juga merasa begitu bersalah pada almarhum sahabat baiknya Fisa. Bagaimanapun ini hanya sebuah titipan, dan setelah melahirkan lalu anaknya berusia tiga bulan, Hana berjanji akan bercerai dengan suami almarhum sahabatnya. Percuma jika Hana ingin mengusul untuk membuat Lave jatuh cinta, karena sejatinya Hana bukanlah wanita yang akan jatuh cinta pada seseorang yang sudah menjadi milik orang lain.


Prok... Prok.... Prok....


Suara tepuk tangan meriah lagi dari para tamu saat sudah saling menyuapi kue.


Selanjutnya adalah sesi tanya jawab pada sah pasangan. Pembawa acara pun berjalan mendekati Lave dan Hana.


"Tuan Lave, bagaimana perasaannya saat tau bahwa kabar istri kedua anda tengah hamil?"


Dari ujung kejauhan, Fisa menunggu jawaban yang akan suaminya katakan. Mata cantik dengan bulu mata panjang menatap tajam Lave.


Lave tersenyum dengan menatap Hana sedetik. Itu adalah sebuah ekting belaka. "Tentu saja senang. Akhirnya saya bisa mendapatkan sebuah keturunan dan akan menjadi seorang ayah delapan bulan lagi" Jawab Lave bagai seorang suami yang begitu mencintai istri keduanya.


Hana tau ini hanya ekting, ia pun mengikuti alur Lave dengan tersenyum bahagia sembari melingkarkan tangannya ditangan Lave.


Dari kejauhan lagi, Fisa mengepal sedari tadi. Air matanya yang luruh membuat cadar hitam nya jadi basah. Fisa berharap apa sih? Dia berharap Lave menjawab apa?


Pembawa acara serta tamu undangan ikut tersenyum dengan jawaban yang Lave berikan.


"Baik. Untuk pertanyaan kedua, selama hamil dalam satu bulan ini, siapa yang mengidam? Dan apa yang di idamkan?"


Bagai tersayat silet, beribu jarum yang menusuk menembus dadanya. Fisa tidak sanggup, Fisa tidak kuat lagi dengan apa yang mereka perbuat. Ia akan cepat pergi dari sini, Fisa tidak mau lebih banyak melihat kemesraan mereka.


Saat pembawa acara yang sedang berbicara, Lave justru tidak mendengarkan nya, ia malah mengindahkan pandangannya pada seorang perempuan yang paling berbeda dari yang lainnya. Perempuan dengan pakaian serba tertutup, yaitu pakaian syar'i hitam.


Siapa perempuan itu? Gumam dalam hati Lave. Seingatnya, dia tidak memiliki teman atau saudara yang berpenampilan seperti itu, bahkan rata-rata tidak ada yang mengenakan kerudung. Entah kenapa hati Lave merasa sangat familiar dan terpikirkan akan sesuatu, tapi tidak bisa dijelaskan. Entahlah.


Fisa pergi dengan segera meninggalkan acara yang begitu menyakitkan.


Fisa langsung menaiki mobil jemputan nya. "Langsung jalan!" Perintah Fisa yang sudah tidak mau lagi berlama-lama berada ditempat ini.


"Kenapa mas...kenapa kamu harus mengatakan begitu mesranya pada mereka? Kamu suka aku pergi? Apa kamu juga merasakan apa yang kurasakan selama ini mas? Apa kamu merasa terpukul? Atau justru kamu bersyukur karena istri buruk rupa dan menyusahkan seperti ku akhirnya pergi juga...?"


"Hana...Kenapa kamu jahat! Kenapa kamu mengingkari perjanjian kita?..." Fisa segera melepaskan cadarnya agar nangisnya tidak terhalangi dan tidak mengganggu pernapasannya.


"Kenapa kamu seperti itu Han?" Lanjut Fisa dalam hatinya lagi.


#


Sementara itu, seseorang yang sama yang selalu ada dimana-mana bagai seorang detektif. Ia sedari tadi memperhatikan Fisa dari jauh, lalu tersenyum miring. "Wanita bo*oh! Sudah tau akan sakit seperti ini, tapi masih memaksanya untuk datang. Keras kepala!" Gumam seorang pria tersebut. Ia lalu mengirimkan sebuah foto dimana Fisa dengan tatapan sedihnya sedang memandangi Lave dan Hana yang justru berbahagia tanpa rasa duka.