My Husband Second Wife

My Husband Second Wife
Bab 15. Kematian palsu



Lave yang sedang duduk termenung diruang kerjanya, dengan tangan yang tak berhenti memegangi kepalanya, lalu seketika dikejutkan dengan kedatangan Hana yang tiba-tiba masuk dengan tergesa-gesa seperti sehabis lari.


"Mas..." Hana tanpa permisi langsung memasuki ruang kerja Lave. Ya, Hana memanggil Lave dengan sebutan 'Mas' sekarang, dan itu semuanya permintaan dari dad Vino.


"Hana ada apa? Bisa tidak jangan seperti itu? Sudah berapa kali aku katakan untuk selalu berhati-hati dan jangan berlarian kesana kemari. Apa kau mau anakku kenapa-kenapa didalam sana hah..?"


Hana tersadar akan hal itu. Ia segera mengusap perutnya sendiri. "Maaf mas...t-tapi.." Tatapan Hana beralih pada ponsel Yangs Edang dipegangnya, yaitu ponsel milik Lave. Hana lalu menangis dengan gemetaran, "M-maaf ka..kal..lau aku lan-lancang dengan barangmu...


ta-pi hiks... Pihak rumah sakit baru saja menelepon dan mengatakan bahwa Fi-fisa...F-fisa..." Sungguh berat dan sangat tercekal rasanya untuk mengatakan ini pada Lave, karena sudah dpaat dipastikan jika Lave mendengarnya pasti akan menyakitkan sama seperti nya saat pertama kali mendengar berita itu.


Mendengar nama istrinya, Fisa disebut membuat Lave segera bangkit dari kursinya. Lalu berjalan mendekati Hana. "Apa yang terjadi pada Fisa? Ayo katakan," Tanya Lave dengan penuh kekhawatiran nya.


Hana semakin menangis tersedu-sedu. Sampai pada untuk menarik nafas saja rasanya begitu sulit, apalagi berbicara.


Tidak mendapat jawaban dari Hana, membuat Lave memegang kedua pundak Hana, lalu menatap istri keduanya itu. "Katakan Han! Jangan membuatku penasar, khawatir dan marah!"


Hana berusaha untuk meredakan tangisannya, lalu menatap Lave dan berusaha untuk berbicara sedikit demi sedikit. "F-fisa hiks...Dia telah...dia telah pergi meninggalkan huuhuhu..." Hana semakin tidak kuat karena kepalanya yang justru pusing setelah menangis sampai tersengal-sengal.


"Fisa meninggalkan siapa?!! KATAKAN HANAA!!!" Bentak Lave yang semakin tidak tenang hatinya. Lave mengguncang pundak Hana untuk melanjutkan perkataannya lagi.


"K..ki.. kita Lave hiks..."


Jantungnya seketika berdetak cepat mendengar perkataan Hana. Selueruh tubuhnya semakin lemas dan melemah. Tangannya terlepas dari bahu Hana. Lave seketika langsung terduduk dilantai seakan tidak percaya. T-tidak mungkin wanitanya pergi....Tidak mungkin Fisa meninggalkannya tanpa mau memaafkannya terlebih dahulu....!


"Dia gagal kemoterapi yang kedua. Pihak rumah sakit bilang juga bahwa Fisa sudah dimakam kan tadi pagi pukul enam."


Mata Lave yang penuh gores kesedihan, langusng menatap Hana. Hingga setetes air mata keluar membanjiri wajah tampannya. "Sudah dimakamkan...?" Tanya Lave seolah tak percaya.


Hana mengangguk. "Iya... Makamnya di pemakaman umum dekat rumah sakit"


"Bagaimana bisa? Siapa yang memperbolehkan untuk Fisa dimakamkan terlebih dahulu? Aku suaminya" Lirih Lave. Setidaknya ia bisa melihat wajah Fisa dan merabanya untuk yang terakhir kali. Tapi apa? Kenapa justru Fisa sudah di makamkan tanpa menunggu persetujuan darinya.


Lave lalu bangun, ia akan pergi ke pemakan istrinya sekarang untuk memastikan. Tidakk...! Rasanya begitu tidak mungkin dan tidak percaya! Lave tidak akan percaya sebelum melihat jasad istrinya!


Hana langsung mencekal. "Lave...aku ikut"


"Aku ingin sendiri...tolong..." Lirih Lave yang langsung melepas tangan Hana. "Tolong jangan sentuh aku Han..." Lanjut Lave lagi. Ia pun segera pergi menanggalkan Hana yang membeku.


Hana tersentak serta tersindir dengan perkataan Lave yang sangat menyakitkan menurutnya. "Kenapa hatiku sakit... Fisa... Kenapa kamu pergi? aku hamil Fis...kamu sebentar lagi akan memiliki anak, kenapa kamu justru pergi?" Lirih Hana dengan mengelus perutnya sayang.