
Fisa menatap surat itu. Sungguh bukan dugaannya jika asisten Gerry akan memberikannya sebuah kata-kata yang membuatnya jadi sedikit terkejut.
"Sejak kapan asisten Gerry peduli?" Gumam Fisa.
"Apa jangan-jangan dia...?" Segera Fisa menggelengkan kepalanya untuk mengusir pikiran buruknya ini. Tidak mungkin pikirnya jika asisten Gerry menyukai istri bos nya sendiri.
"Fisa..."
Mendengar suara madunya, membuat Fisa dengan cepat menyembunyikan surat yang asisten Gerry berikan tadi. "I-iya?"
Hana berjalan mendekati Fisa dengan perlahan. Ia pun duduk disamping Fisa dengan wajah penuh rasa bersalah. "Aku ingin meminta maaf-"
"Untuk apa?" Tanya Fisa yang segera memotong ucapan Hana.
"Aku telah merebut milikmu" Jawab Hana lirih dengan air matanya yang mulai menderas mengajak sungai.
"Aku tidak merasa kau merebutnya. Ini semua keinginanku, dan aku akan berusaha untuk ikhlas." Jelas Fisa. "A-apa kamu sudah melakukannya dengan mas Lave?" Fisa sebenarnya tidka ingin menanyakan nya, karena jika jawabannya 'iya' sudah dapat dipastikan hati Fisa kembali sakit lagi.
Hana terdiam. Rasanya tidak mungkin jika ia harus menjawab pertanyaan itu. Hana takut jika menjawab pertanyaan Fisa, maka akan membuat Fisa kembali sakit hati karenanya. Coba bayangkan, istri mana yang rela berbagi dengan wanita lain soal ranjang? Sekalipun dia yang meminta, tapi Hana yakin, dalam lubuk hati Fisa pasti ada tempatnya rasa sakit itu.
"Diam mu membuatku tau jawabannya Han..."
"Fisa aku-"
"Terimakasih Hana.... Aku senang kamu mau mendengarkan ucapan ku..." Dengan senyuman paling tulus, Fisa lalu memegang dan mengelus perut Hana. "Aku berharap dia segera tumbuh menjadi sebuah janin disini" Titah Fisa kemudian dengan penuh doa.
Hana membalas senyumannya. "Aku juga berharap seperti itu. Demi kamu..." Jawab Hana. Ia pun memeluk tubuh Fisa dengan erat.
Dalam pelukan persahabatan antara istri pertama dan kedua terasa begitu sangat tulus sekali. Mereka menangis secara bersamaan karena nasibnya sendiri-sendiri yang begitu menyedihkan dan pedih.
Mereka lalu melepas pelukannya. Lalu sedetiknya, mereka justru tertawa bersama saat melihat banyak sekali ingus yang keluar.
"Haha...Tolong hapus ingusmu Hana!" Perutnya sakit melihat Hana yang begitu lucu saat slaah satu lubang hidungnya mengeluarkan ingus.
Hana kesal, ia lalu segera mengelapnya menggunakan pakaian nya.
"Jorok!" Tukas Fisa dengan begidik merasa geli melihat Hana.
"Biarkan! Ini karena mu juga" Jawab Hana.
Hana mengerutkan keningnya saat melihat secarik kertas yang tadi diduduki oleh Fisa. Ia pun mengambilnya.
Sejenak alis Hana berkerut membacanya, yang lebih membuatnya terkejut adalah, yang menulis surat ini adalah asistennya Lave, yaitu asisten Gerry. "Kenapa asisten Gerry menulis ini? Dan, kenapa kata-katanya seperti seorang pria yang sednag menyukai wanitanya? Apa asisten Gerry..?"
Drttt.... Drtttt... Drtttt ..
Hana segera merongoh ponselnya dan melihat siapa yang menelepon. Melihat nama Lave, Hana pun segera mengangkat teleponnya. "Hallo Lave"
"Hana, bagaimana dengan Fisa? Dia baik-baik saja kan?" Tanya Lave khawatir. Sedari tadi ia meeting, konsentrasi nya sangat terganggu karena Fisa, jadi ia terpaksa harus izin pada klien nya untuk menelepon Hana dan menanyakan kabar Fisa.
"Dia baik-baik saja, bahkan kami sempat tertawa bersama tadi" Jawab Hana.
Mendengar itu, membuat Lave jadi bernafas lega, karena ternyata Fisa baik-baik saja.
"Tapi, aku menemukan surat yang tadi Fisa duduki."
"Surat? surat siapa?" Tanya Lave.
Hana sedikit ragu untuk memberitahukan. Tapi menurutnya ini sangat penting untuk Lave tau agar dia berhati-hati pada asistennya. Hana takut jika ternyata asisten Gerry memiliki perasaan pada Fisa dibelakang Lave.
"Surat dari asisten Gerry untuk Fisa. Sepertinya tadi Fisa mencoba menyembunyikan suratnya, namun dia lupa untuk membawanya saat pergi" Jelas Hana kemudian.
"Yang jelas. Memang Gerry memberikan surat apa?" Tanya Lave yang semakin penasaran. entah kenapa hatinya jadi berdebar dan takut.
Hana menggeleng. "Entahlah. Tapi aku merasa surat yang asisten Gerry berikan terlihat begitu mesra. Gerry begitu sangat perhatian dengan Fisa. Aku akan mengirimkan gambarnya kalau begitu"
Hana segera menutup panggilannya dan memfoto surat milik asisten Gerry itu. lalu mengirimkan nya pada Lave.
#
Sementara itu, Lave yang saat ini masih berada di kamar mandi, mengepalkan tangannya melihat tulisan dari asistennya sendiri.
Surat yang begitu terlihat mesra dan penuh perhatian. "Apa maksudnya menuliskan itu?" Geramnya dengan tatapan mematikan.
"Dia menyukai Fisa?" Ponselnya bahkan hampir remuk karena remasan kuat dari Lave.
"Atau, dia memanfaatkan situasi ini untuk merebut hati Fisa?"