
Ke esokan harinya. Semua berjalan dengan tak biasa dan tidak seperti pada kalanya.
Fisa yang biasanya menyiapkan keperluan Lave saat akan ke kantor, justru pagi ini ia meminta maaf dan langsung izin untuk pergi menemui sang sahabatnya, yaitu Hana.
Lave pikir jika Fisa izin ketempat Hana, karena hanya Hana yang bisa menenangkan hati istrinya. Karena Fisa pernah bilang bahwa sebelum menikah, separuh hidupnya ada di Hana sang sahabat.
#
"Fisa!" Ucap Hana dengan bahagia saat melihat kedatangan sahabatnya yang sudah lama tidak jumpa.
Dengan tatapan kesedihan. Fisa segera memeluk Hana, sahabat sejatinya yang sudah Fisa anggap sebagai seorang saudara. "Aku merindukan mu..." Lirih Fisa dengan bergemetar memeluk snag sahabat.
"Aku lebih besar merindukan mu Fisa..." Tukas Hana kesal. Bagaimana tidak? Jika biasanya mereka bertemu minimal sebulan empat kali, justru malah atau bulan lebih ini Fisa tidak pernah muncul dan mengabarinya, dan itu membuat Hana jadi rindu berat seperti coklat dilan. "Bagaimana kabarmu?" Tanya Hana kemudian yang merasa jika tubuh Fisa semakin kurus.
Mereka melepas pelukannya. Sebelum menjawabnya, Fisa lebih dulu memasuki rumah sederhana milik sahabat nya itu, ia duduk disofa, menghela nafasnya sebelum bercerita panjang kali lebar serta visinya apa untuk datang kemari.
"Tidak baik Han" Jawab Fisa.
Mendengar nya, Hana punemutup pintunya dan berjalan menyusul Fisa. "Apa maksud mu?"
"Aku di vonis terkena kanker darah stadium akhir, dan usiaku juga sepertinya tidak akan lama lagi" Ucap Fisa dengan berusaha tenang. padahal didalam lubuk hatinya, ia berusaha agar tidak menangis dihadapan Hana.
Degh...
"Jangan bercanda!" Hana menggeleng seolah tak percaya.
"Untuk apa aku bercanda soal penyakit? Yah, walaupun aku awalnya sulit percaya, tapi ini memanglah takdir, dan mau tidak mau, suka tidak suka ya harus menjalaninya." Jelas Fiza kemudian yang masih berusaha menahan air mata itu.
Hana gemetar. Tangannya berusaha untuk memegang tangan sang sahabat yang terasa sangat dingin itu.
"Hana" Panggil Fisa dengan menatap Hana yang sedang menangis.
"Hiks..." Hana menggenggam tangan Fisa dengan kuat, seakan tidak mau kehilangan.
"Aku bolah meminta sesuatu padamu?"
"Apapun Fisa" Jawab Hana dengan cepat.
"Tolong kamu menikah dengan Mas Lave. Lahirkan anak yang lucu untuknya dan juga untuk ku..."
Fisa segera mencekal pergelangan tangan Hana. "Please...Demi aku Hana..." Ucao Fisa lirih dan memohon.
Hana melepas tangan Fisa. "Kamu gila Fisa!"
"Tolong....anggap ini sebagai balas budi karena aku udah bantuin biaya kuliah adik kamu" Tidak ada cara lain selain membujuk Hana dengan ini, yaitu mengungkit kembali apa yang sudah Fisa perbuat selama ini. padahal dalam benaknya, ia membantu Hana sebelumnya sama sekali tidak mengharap balas budi.
"Kamu mengungkit?" Tanya Hana seolah tak percaya. Ia pikir Fisa membantunya waktu itu dnegan tulis ikhlas. Entah kenapa hatinya sangat sakit mendengar nya, mendengar jika dirinya akan dijadikan istri kedua sahabatnya sendiri sebagai balas budi.
"Hana maaf...Tapi mau bagaimana lagi"
"Kamu jahat! Aku sahabat kamu, tapi kenapa kamu kaya gitu Fis? Kamu selama ini anggep aku apa?"
Fisa menangis tersedu-sedu. "Hiks...aku cuman"
"Cuman apa? Kamu pikir aku mau jadi madu sahabatnya sendiri? Apa kamu mikir FISA?! AKU SAHABAT KAMU..!" Pekik Hana yang kembali mengingatkan.
"Ya justru karena kamu sahabat aku Hana....!" Tukas FISA yang tak kalah suara dari Hana.
"Yang lain kan bisa FISA...." Jawab Hana panjang. Ia berdiri dan menjauh dari Fisa. Serasa tidak percaya dengan apa yang sahabat nya itu pikirkan.
"Aku mau mati Han! Hana!" Teriak Fisa, lalu segera menyusul Hana yang berjalan menuju kamarnya.
"Pulang sekarang Fis!" Tukas Hana saat melihat Fisa yang mengikutinya.
Fisa tidak mendengarkan ucapan Hana. "Tolong Han, buat kali ini aja..." Lirih Fisa
Hana berhenti, lalu mereka saling berhadapan. " Aku bilang enggak!"
"Ya tuhan...tolong hiks..." Fisa bahkan sampai memohon dan mau bersujud pada Hana. "Aku paling percaya sama kamu Hana...hiks..."
"Fisa bangun!" Hana langsung memegang pundak Fisa yang akan bersujud.
"Tolong hiks..."
Mendengar lirihnya yang membuat Hana tidak bisa untuk tidak menolaknya. Lirihan yang paling membaut Hana jadi melemah adalah lirihan memohon dari Fisa. "Baik...oke, aku...aku akan jadi madu kamu"