
Tok!...Tok!... Tok!...
Fisa yang menganggap bahwa itu adalah ketukan pintu dari mom Angel pun dengan terburu-buru segera mengusap lagi sisa air matanya. Ia berdiri dari ranjangnya dan berjalan kearah pintu untuk membukanya.
Ceklek...!
"Mom-"
Srek...!
Lave dengan tubuh yang masih dibalut oleh jas hitam itu segera memeluk sang wanitanya. Untuk pertama kali lelaki itu menangis dengan tersedu-sedu. "Fisa...Kau begitu jahat!"
Mendengar suaminya yang menangis dengan mengatakan dirinya jahat, Fisa jadi ikut menangis kembali. Entah sudah berapa banyak air mata yang ia keluarkan untuk hari ini, yang jelas sudah tidak bisa terhitung lagi pastinya.
"Aku tidak akan melakukannya. Aku akan terus bersamamu setiap malam" Ucap Lave lirih. Ia tidak rela melakukan suatu kewajiban hanya demi sebuah keturunan saja, apalagi tanpa cinta.
Fisa melepas pelukan suaminya. Ia menangkap wajah tampan dan rupawan suaminya yang dibaluti oleh peci berwarna hitam itu. "No word no. Semua sudah terlanjur, dan kamu harus tetap melakukan nya"
"No..!" Potong Lave.
"Mas" Fisa menggeleng.
"Tidak Fisa"
"Lavender Agara!"
"Fisa, jangan memak-"
"Hei, dengar aku Lavender Agara" Fisa semakin mendekatkan wajahnya hingga hanya berjarak beberapa centi saja. "Kamu pasti bisa melakukannya walau tanpa cinta. Kalau tidak bisa, anggap dia adalah aku saat kita melakukan itu dengan hikmat. Demi aku..."
Lave menangis dalam tatapan itu. Ia benar-benar tidak rela harus berbagi dan menikmati wanita lain selain istrinya sendiri. Ini membuatnya menjadi seorang lelaki yang gagal akan mencintai secara sejati. "Aku pria gagal..."
"No..! Kamu bukan pria gagal, tapi kamu adalah pria yang berhasil membuatku jatuh cinta sedalam-dalamnya Lavender Agara, cintamu padaku sejati, aku yakin itu. Dan ini, ini hanya sebuah keinginan untuk seorang penerus dan keturunan mu, dia yang akan melahirkan darah dagingmu. Jadi, tolong pergi dari kamar ini, lakukan tugas mu. Jangan pernah kembali sebelum kau melakukannya"
Fisa mendorong pelan tubuh suaminya hingga sedikit mundur. Ia lalu menutup kmebali pintu kamar yang sudah lebih dari tujuh tahun ini selalu mereka tempati setiap hati.
Fisa tidak kuat. Ia senderkan tubuhnya pada pintu itu. Ia kini kembali membayangkan, bagaimana jika mereka melakukan malam panas itu? Bagaimana jika ternyata mereka sama saling menikmati?
Lave manatap pintu kamar yang sudah tertutup rapat. Harapannya untuk menghindar dari malam bersama istri kedua yang tak pernah Lave inginkan kini harus dilakukan juga.
Kenapa semua orang jahat? Apa salah cinta kami ya Tuhan? Kenapa seakan cinta kami tidak ada orang yang merestui nya?
Akhirnya, dengan penuh berat hati, Lave pun harus terpaksa pergi ke kamar istri keduanya yang berada dilantai bawah ruang tamu.
Ceklek...
Hana yang sedari tadi menunggu kabar dari suami sahabatnya yang sekarang sudah menjadi suaminya juga itu segera melihat. "Lave, bagaimana?" Tanya Hana yang melihat kedatangan Lave dengan wajah yang menunjukkan raut kesedihan.
Lave menggeleng. "Fisa tetap menginginkan kita untuk melakukannya"
Deghh...
Hana tidak bisa berbuat apapun. Ia menunduk. Kalaupun ia berbicara pada Fisa agar tidak melakukan hubungan se_ks, rasanya akan percuma saja, karena Hana begitu tau akan sifat Fisa yang sangat keras kepala dan sulit untuk dibalikkan hatinya.
"J-jadi bagaimana?" Tanya Hana dengan gugup.
Lave secara perlahan mulai mendekati Hana. Hingga kini jaraknya hanya tiga puluh centi saja dari pandangan wajahnya.
Perlahan tangan kekarnya memegang tengkuk Hana.
Hana yang sebelumnya menunduk, kini memberanikan diri menatap Lave, pria yang selama ini tidak pernah Hana berani tatap dengan terus itu.
"Kita akan melakukannya sesuai apa yang Fisa minta. Ingat! Kita melakukan ini karena sebuah misi, yaitu keturunan agar Fisa bahagia. Kau setuju?"
Hana mengangguk setuju. "I-iya Lave"
Perlahan tapi pasti. Diantara lampu yang hanya menyalakan cahaya temaram saja, Lave mulai lendekatkan bibirnya pada milik Hana.
Malam itu, malam yang paling tidak diinginkan bagi mereka masing-masing kini akhirnya tiba juga. Lave telah menjalankan suatu kewajibannya pada istri keduanya malam ini.
Walau terpaksa, namun tidak dapat dipungkiri bahwa malam itu mereka justru untuk sesaat menikmatinya dan saling mend_esah pada masing-masing saat milik Lave telah masuk pada milik Hana yang masih pera_wan.