
sampai pada rumah sakit, Lave langsung turun tanpa menunggu Hana. Ia berlari memasuki rumah sakit dengan memanggil para suster agar segera ditangani.
"Suster!! Tolong istri sayang!!!"
Melihat itu, suster pun langsung gerak cepat membawa branker pada pasien.
Fisa segera diletakkan diatas branker itu. Kemudian para suster pun berbondong-bondong mendorong Fisa menuju IGD untuk segera ditangani.
Lave menunggu diluar dengan menjambak rambutnya sendiri. "Bodoh Lave! Kau memang pria brengsek!!" Makinya pada diri sendiri.
Ia menangis. Satu kata yang terlintas untuk dirinya, yaitu menyesal!
Bodohnya dia kenapa sampai berbicara seperti itu pada istrinya yang sedang sakit parah.
"Fisa aku mohon maafkan aku..."
"Lave, bagaimana?" Tanya Hana dengan tergesa-gesa karena berlari untuk mencari kamar IGD.
Lave lagi lagi menggeleng. "Dokter sedang menanganinya" Jawab Lave.
Hana pun duduk disebelah Lave. Hatinya begitu khawatir akan kondisi Fisa didalam sana. "Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa Fisa bisa smaapi drop seperti ini?"
"Aku telah membuatnya menangis dengan mengatakan sesuatu yang menyakitkan bagi Fisa. Aku melakukannya karena emosi yang berlebih pada Fisa dan Gerry" Jawab Lave dengan mata yang kembali berkaca-kaca.
"Astaga Lave...! Seharusnya kau berpikir sebelum bertindak. Fisa perempuan yang mudah patah hati, kenapa kau justru malah membuatnya semakin drop!"
"Yah... dan aku menyesalinya"
Selang beberapa menit telah berlalu. Dokter yang memeriksa Fisa pun keluar.
Lave segera berdiri dan berjalan mendekati dokter. "Bagaimana dok?"
Dokter laki-laki dengan usianya yang masih sekitar 30 tahun itu tidak menunjukkan senyumannya, tapi hanya wajah datarnya saja yang ia tunjukkan. "Pasien mengalami shock yang berlebih hingga membuatnya drop. Anda tuan Lavender Agara bukan?"
Lave mengangguk.
"Seharusnya anda sebagai seorang suami menemani istrinya saat sedang sakit parah seperti ini." Dokter muda itu kemudian melirik kearah Hana dengan wajah dingin. "Bukan malah menikah untuk mencari pengganti."
Deg...
Lave merasa tersindir dengan perkataan dari dokter. Ya, memang hampir seluruh kota ini tau siapa keluarga Agara, termasuk dalam pernikahan keduanya ini.
"Kondisi nona Fisa semakin parah karena banyak mengeluarkan mimisan. Kemoterapi adalah salah satu cara agar nona Fisa bisa bertahan hidup" Lanjut dokter muda itu kemudian.
"Lakukan apapun yang terbaik untuk istriku" Jawab Lave. Lave pun kemudian segera masuk keruangan IGD untuk melihat keadaan sang istri.
Sementara itu, Hana juga yang akan memasuki IGD, ia pun menunduk saat melewati dokter muda tinggi dan tampan itu.
Hana sedikit tersentak mendengarnya. Ia menatap punggung dokter muda yang perlahan berjalan menjauh. Satu yang Hana rasakan saat dirinya dikata penghianat, 'Sakit'.
Ia yang akan masuk ke IGD untuk melihat kondisi Fisa, kini terurung dan lebih memilih untuk pergi dari rumah sakit ini tanpa ingin mengganggu pasangan suami istri itu.
Hana berjalan dengan menahan semua kepedihannya disetiap jalan menuju keluar dari rumah sakit yang megah dan mewah itu.
Hana memasuki mobil. Ia kemudian menyenderkan keningnya pada setir mobil itu, lalu menangis tersedu-sedu saat satu pria yang telah mengatainya penghianatan.
Siapa yang menginginkan untuk menjadi yang kedua? Tidak ada seorang perempuan yang bermimpi untuk menjadi yang kedua. Semua pasti akan bermimpi untuk menjadi yang paling satu-satunya tanpa ada kata kedua dan ketiga.
Hana juga hanya korban disini, dia juga terpaksa melakukannya demi keinginan Fisa, tapi kenapa dia yang dikatai penghianat? Apa semua orang hanya melihat dari sisi depannya saja tanpa mau melihat apa yang terjadi sebenarnya? Kenapa perkataan orang sungguh sesakit ini?
#
#
"Pergi mas...! Aku mau sendiri!" Bentak Fisa saat suaminya yang justru semakin mendekatinya. Tubuhnya masih gemetaran dengan ucapan suaminya tadi.
Suaminya secara terang-terangan mengungkapkan kata-kata yang membuat Fisa jadi jatuh sejatuh-jatuhnya kedalam jurang yang paling dalam.
"Pergi mas! Silahkan kamu melakukannya lagi dengan dia kalau kamu merasa lebih enak dan nikmat daripada aku!"
Lave menggeleng lemah. "Aku hanya bohong Fisa...tolong maafk-"
"Jangan pernah kamu menyentuhku lagi! Aku tidak menyangka kamu akan berbicara seperti itu padaku. Pantas saja saat kamu tau akan menikah dengan Hana, kamu langsung menyetujuinya tanpa menunggu beberapa hari. Jadi..."
"Tidak! Itu hanya-"
"PERGI!!!! HIKS..." Pekik Fisa dengan menunjuk kearah pintu keluar. Ingin Fisa untuk menonjok wajah Lave, namun ia tidak cukup memilih tenaga sekarang.
Melihat Lave yang tidak mau pergi juga, membuat Fisa segera memencet tombol untuk memanggil para suster dan dokter agar segera kemari.
Lave hanya bergeming ditempatnya dengan wajah menunduk. Sama sekali tidak ada dalam pikiran Lave untuk mengucapkan perkataan itu.
Beberapa saat, dokter muda tadi kembali memasuki ruangan. "Ada apa ini?" Tanya dokter tersebut dengan nama Sandi.
Fisa menangis. "Dokter, saya mohon usir dia" Tunjuk Fisa pada suaminya. "Dia menyakitiku dokter tolong hiks..." Fisa sampai menutupi wajahnya karena tidak ingin melihat Lave.
Tolong jaga Fisa Sandi, mama mohon...
lindungi dia, dia sedang terpuruk sekarang...
Dia sedang jatuh dalam masalah, tolong sandi...tolong berikan perlindungan....
"Tuan tolong...ini demi istri anda agar tidak kembali drop lagi" Ucap Sandi dingin dengan tangan yang terkepal erat diambang pintu.