My Husband Second Wife

My Husband Second Wife
Bab 19. Awal dari semuanya



Sembilan bulan telah berlalu...


Tidak terasa, waktu hanya bergulir begitu cepatnya bagi Fisa. Inilah saatnya, dan inilah wkatu yang sedari dulu Fisa tunggu.


Fisa tersenyum penuh kejahatan meihat dirinya yang sudah menggunakan pakaian kerjanya. Ini adalah awal dari semuanya.


Pakaian yang dipakainya yang berwarna gradasi antara putih dan pink itu dengan tulisan 'baby sitter' dibagikan dadanya telah berhasil dipakai Fisa. Ya, Fisa mulai hari ini akan bekerja sebagai seorang baby sitter dirumah yang seharusnya masih Fisa sebut sebagai rumahnya. Ia akan mengurus anak Lave dan jiga Hana mulai hari ini.


Rambut dikepalanya yang sudah tidak menumbuh lagi karena sakit mematikan yang sedang diderita Fisa, membuat Fisa harus mengharuskan nya untuk memakai wig rambut dengan potongah yang hanya sebahu saja.


"Apa sudah perfect ma..?" Tanya Fisa dengan berdiri dihadapan mama Sanez.


"Belum. Kamu kurang perfect, sepertinya harus pakai fondition atau bedak berwarna gelap." Ucap mama Sanez saat memperhatikan anaknya yang masih terlihat bahwa itu adalah Fisa.


"Bedak? Tapi, apa tidak akan luntur saat aku berkeringat nanti?"


Mama Sanez menggeleng. "Tentu saja tidak. Mama sudah membelinya cukup mahal untuk bedak yang waterproof." Mama Sanez lalu mengeluarkan sebuah bedak padat yang sudah dibelinya satu bulan yang lalu sebagai persiapan Fisa untuk memulai balas dendamnya.


ia perlahan mulai memakaikan bedak padat itu pada wajah cantik nan putih mulus milik Fisa. Beberapa saat mama Sanez sedikit tersenyum melihat hasilnya. "Mama rasa alismu juga harus sedikit dicukur lagi. ternyata saat wajahmu berwarna gelap, kamu masih terlihat seperti seorang Nafisa Sucia yang cantik dan manis"


Mama Sanez lalu segera mengambil alat pencukur alisnya dan mulai mengukir alis Fisa hingga sedikit tipis. "Nah, sudah tidak terlihat. Namun, agar agar lebih untuk tetap waspada lagi, kamu harus pakai sebuah tompel di pipimu"


Fisa mengangguk, menerima semua saran dan perintah dari mama Sanez. Sebelum ia pergi, tidak lupa mama Sanez memberikan beberapa serbuk serta kegunaannya masing-masing pada Fisa.


"Terimakasih ma... Doakan semoga rencanaku berhasil" Satu tetes keluar dari kelopak mata Fisa. Beberapa hari yang lalu, saat dia kembali memeriksakan kedokter, ia diberitahu bahwa usianya sudah tinggal beberapa bulan lagi. Terpukul? Sudah pasti, namun setidaknya sebelum ia pergi, Fisa bisa lebih dulu menyelesaikan apa yang ada didunia ini untuk diselesaikan.


Mama Sanez mengangguk. "Jaga dirimu. Minum obatnya jika sakitmu kembali bereaksi"


Fisa mengangguk pelan. "Pasti"


#


#


Ya, Fisa baru mengetahui suatu hal, bahwa ternyata asisten Gerry adalah saudara tirinya. Anak kandung dari mama Sanez yang awalnya sempat membuat Fisa tidak percaya. Dan ternyata, Gerry memang sengaja bekerja menjadi asisten pribadi Lavender Agara karena ingin menjaga dirinya jika sewaktu-waktu ada yang mencelakainya.


"Kak Gerry, aku sangat berterimakasih padamu. Terimakasih karena ternyata kalian selama ini begitu peduli padaku..." Dalam perjalanan, Fisa akhirnya memberanikan diri untuk mengucapkan kata terimakasih pada kakak tirinya itu.


Gerry yang sedang menyetir mobil dan berfokus pada jalanan, mengangguk. "Hmm... Kalau bukan karena perintah mama juga, sebenarnya aku malas untuk menjagamu. Sebenarnya seharusnya mama tidak perlu sulit-sulit peduli lagi untuk melindungimu setelah Papa mu tiada"


Fisa yang duduk bersebelahan dengan Gerry seketika menundukkan kepalanya. "Ya, aku juga heran. Kenapa mama kakak masih peduli padaku..."


"Ya karena mama bukan hanya mencintai Papa mu saja, melainkan dirimu juga. Jadi cinta mama begitu tulus tanpa syarat dan embel-embel harta atau apapun seperti pada cerita kebanyakan" Potong Gerry kemudian.


Fisa baru menyadarinya dan mengakuinya dengan mengangguk. "Ya, kak Gerry benar. Aku sangat berhutang budi pada kalian semua. Terimakasih sekali lagi... sebagai gantinya, aku akan memberikan semua harta yang papa wariskan padaku untuk kalian..."


"Kau pikir aku dan mama mata duitan?"


"Memang bukan?"


"Kata genit deck.." Balas Gerry yang mencoba melawak namun wajahnya datar.


Plak!


Karena gemas, Fisa jadi refleks menampol pipi Gerry. "Haha... maaf kak, tapi wajahmu bagaikan opet di upin-ipin"


Ingin sekali rasanya Gerry membalas, namun ia harus urungkan saat kembali mengingat akan penyakit yang sednag diderita adik tirinya itu. "Wajahmu dengan tompel barumu" Ejek Gerry yang akhirnya ia hanya bisa membalas lewat perkataan tanpa perbuatan.


"Jelek ya?"


"Memang sudah jelek dari sananya" Balas Gerry.


"Iya, oleh sebab itu mas Lave naksirnya dengan sahabatku yang maduku dan aku perempuan bodoh ini sendiri yang memintanya" Sambung Fisa yang akhirnya jadi curhat tentang kesedihannya.