
Ada rasa lega, senang dan sedih di hari Fisa saat sahabat nya itu mau menjadi madunya.
Rasa lega karena Fisa tidak perlu lagi repot-repot untuk mencarikan istri bagi suaminya lagi hanya demi sebuah keturunan.
Rasa senang karena sahabatnya dan teman terbaiknya lah yang menjadi madunya, jadi Fisa tidak perlu khawatir jika suaminya akan direbut, karena Hana tidak mungkin melakukan itu kan?
Rasa sedih juga karena itu artinya sebentar lagi ia harus merelakan suaminya menikah dan melakukan hubungan se_xs antara suaminya dan sahabatnya. Karena tidak mungkin jika mereka tidak melakukannya, bagaimana pun hanya cara itulah yang paling sah dan berpengaruh.
"Terimakasih..." Ungkapan rasa haru telah Fisa berikan pada Hana, sahabatnya yang selalu mengalah tentang dirinya, dan selalu tau akan masalah nya. Fisa pun langsung saja memeluk Hana. "Kamu adalah sahabat terbaik yang pernah ada Hana..."
Ia menangis. Berat rasanya untuk mengiyakan permohonan dari Fisa, tapi bagaimana lagi? Melihat Fisa yang penuh lirih dan permohonan membuat Hana rasanya sangat tidak nyaman.
"Aku hanya akan meminjamkan rahimku saja Fisa..." Kata Hana kemudian dengan lemah lembut.
Segera Fisa angguki. "Iya, hanya meminjam rahim mu saja"
Sekarang hanya tinggal berbicara dengan suaminya Lave. Walaupun sebenarnya Fisa agak ragu dan tak
ut untuk mengungkapkan permintaannya, tapi ini semua demi kebaikan bersama, demi sebuah keinginan bersama dan kepuasan bersama.
Setelah saling mengungkapkan keinginan Fisa. Ia pun pamit pulang dan berjanji akan mengabari jika suaminya sudah setuju dengan permintaannya.
Dalam perjalanan pulang, Fisa menelepon suaminya untuk segera pulang cepat. "Mas, aku ingin kamu pulang sekarang. Ada hal penting yang ingin aku bicarakan"
"Baiklah" Jawab Lave kemudian.
Belum juga Lave ingin melanjutkan perkataan nya, namun sudah lebih dulu Fisa matikan telepon itu.
Fisa menatap jalanan kota dengan pikiran stresnya. "Aku kuat dan aku hebat" Batin Fisa dengan menyemangati dirinya sendiri.
Sampai dirumahnya, Fisa langsung bergerak menuju lantai atas dimana kamarnya dan Lave berada. Ia akan menunggu Lave dikamar.
Tak butuh waktu lama untuk menunggu Lave pulang, sekitar lima belas menit suara dentuman mobil Lave sudah berhasil Fisa dengar.
Ceklek...!
"Sayang.." Panggil Lave dengan senyuman yang tak pernah pudar. Ia senang saat istrinya menyuruhnya untuk pulang lebih cepat, biasanya karena ada suatu kejutan yang tak pernah Lave duga jika tiba-tiba istrinya itu meneleponnya.
"Mas Lave" Fisa segera berdiri dan menyambut suaminya pulang kantor. Ia mengecup tangan suaminya singkat.
"Aku senang kamu menepati janji untuk pulang cepat"
"Demi kamu" Jawab Lave lalu bergantian mengecup kening istrinya.
"Aku ingin berbicara serius. Tolong jangan dipotong mas" Tatapan Fisa kini menatap suaminya dengan wajah seriusnya.
"Hmm... Jika itu tidak lagi membuatku marah"
Fisa sesaat meneguk ludah nya sendiri. Ia seakan sedikit kelu untuk mengucapkannya, namun harus dipaksa dia ucapkan sekarang. "A-aku ingin kamu menikah lagi"
"Demi aku dan kita semua mas hiks... please..." Fisa segera memegang telapak tangan suaminya dengan tangan gemetaran.
"Gila..." Sambung Lave dengan mata yang berkaca-kaca. Udah siap untuk menumpahkan air mata itu.
"Tolong..."
"Kamu perempuan paling gila yang pernah aku temui Fisa" Lanjut Lave lagi yang tidak habis pikir dengan istrinya. "Apa yang ada dalam otak kamu itu? Keturunan? Pewaris? Ancaman dari Daddy? atau ancaman dari orang diluar sana? Kenapa sepertinya kamu sangat terobsesi sekali agar aku menikah lagi?"
Fisa lagi lagi hanya menangis menanggapinya. "Aku wanita lemah dan penyakitan...." Ucap Fisa yang hampir hilang suaranya.
Lave menghempas kasar tangan istrinya. "Pikirin lagi ucapan konyol kamu itu" Langkah Lave lalu berjalan menuju pintu keluar.
"Sekali kamu keluar, seumur hidup untuk sekarang kamu kehilangan aku" Ancam Fisa yang tak main-main pada Lave.
Benar saja, setelah Fisa mengucapkan itu, Lave lalu berhenti dan mengurungkan niatnya untuk keluar.
"Anggap ini permintaan terakhir dari aku mas....Aku cuman pengen merasakan kenikmatan menimang anak. Tolong menikah lagi demi kedamaian kita semua hiks..." Lirih Fisa dari kejauhan. Tubuh yang semakin kurus itu dan hanya ini saja yang bisa Fisa lakukan untuk semuanya. Perlahan, cairan merah itu keluar lagi dalam lubang hidungnya, namun segera diusap kasar oleh Fisa.
"Katakan, dengan siapa?!" Tanya Lave akhirnya. Tidak bisa jika melihat istrinya yang selalu seperti itu. memohon dan meminta agar ia menikah dan menikah lagi.
"Hana"
Degg...
Lave membulatkan matanya. "H-hana?"
"Iya. Hana yang akan menjadi maduku mas..."
"Kamu adalah istri paling gila Fisa!" Tukas Lave yang masih tetap didepan pintu.
Fisa mengangguk dengan sisa sesugukannya. "Anggap saja seperti itu."
"Oke, aku turuti kemauan mu"
Secerah senyuman kemudian menghiasi wajah cantik Fisa. Tidak tau harus bilang apa, tidak tau ia sekarang harus bahagia atau sedih. Tapi Fisa yakin, jika semua tau bahwa suaminya akan menikah lagi, sudah dipastikan semua akan bahagia dan bersorak ria diatas penderitaan dan sebuah penyakit mematikan yang ia derita.
"Dengan suatu kata. Bagaimana jika ternyata aku akan mencintai Hana?"
Deg.
Tadinya juga Fisa berpikir begitu. Tapi tidak, ia yakin suaminya dan sahabatnya tidak mungkin akan saling mencintai. "Tidak mungkin. Kamu dan Hana tidak mungkin akan saling mencintai diatas penderitaan yang sedang menerima ku mas..." Jawab Fisa dengan gelengan kepala.
Lave tersenyum miring. "Oh ya? Kamu yakin Fisa? Kalau begitu, aku dan Hana akan menikah Minggu ini. Aku akan memberitahu Daddy agar kamu bahagia. Ini kan kebahagiaan seorang Nafisa Sucia?" Tanya Lave.
Fisa diam membeku.
Tidak mendapatkan jawaban, Lave pun segera keluar dari kamar dengan membanting pintu kamarnya. Ia akan menuruti kemauan Fisa, karena Lave benar-benar lelah dengan semuanya. Ia akan segera menemui Daddy dan membicarakannya dirumah utama keluarga Agara.