My Husband Second Wife

My Husband Second Wife
Bab 4. Seharusnya



"Daddy turut prihatin dengan kondisi mu. Sudah sedari awal dad duga bahwa disini yang bermasalah adalah dirimu"


Lagi dan lagi, Fisa menunduk menumpahkan semuanya hingga air mata itu terjatuh dilantai marmer. Hatinya sangat terasa teriris mendengar pengakuan sebenarnya. Benar memang apa yang dad Vino bilang, tidak salah, tapi hatinya yang mudah terluka ini sangat sakit mendengarnya.


"Mas" Mom Angel memegang lengan suaminya agar berhenti berbicara. Namun tetap saja, suaminya yang bersikap bak raja itu justru tetap melanjutkan kata-katanya.


"Dad hanya minta kau untuk sadar diri akan kondisimu. Segera Carikan istri kedua untuk suami mu agar Agara cepat memiliki keturunan. Mau dad yang carikan atau kau yang mencarinya?"


Degg...


Padahal Fisa belum menyetujui nya, tapi kenapa dad Vino malah memberikannya pertanyaan seperti itu? Bahkan hanya untuk mencarikan istri kedua suaminya saja rasanya tidak sanggup untuk dilakukan. Satu keadaan yang sama sekali bukan keinginan Fisa, tapi harus dilakukannya.


"F-fisa a-akan mencarinya sendiri..." Lirih Fisa.


"Bagus, Daddy beri waktu dalam dua hari." Tukas dad Vino. "Ayo kita pulang" Ajak dad Vino pada istrinya.


Fisa segera berpindah tempat menyingkir dari depan pintu.


Saat mom Angel melewati menantunya, ia sedikit mengelus pundak menantunya sebagai tanda bahwa dia juga kerasa prihatin dengan keadaan snag menantu, tapi ia tidak bisa berbuat apapun, karena semua keputusan telah berada pada sang suami.


Saat Lave yang baru saja datang, ia pun mengindahkan pandangan pada mobil yang berpapasan didepan gerbang, dan yang Lave tau bahwa itu adalah mobil Daddy dan mommy nya.


Lave yakin pasti Daddy baru saja bicara yang membaut istrinya sakit hati lagi seperti yang lalu-lalu. Dengan gerakan cepat, Lave pun langsung masuk kedalam rumah mewahnya.


Tidak mengindahkan keadaan istrinya berada diruang tamu. Lave pun segera berjalan menaiki tangga menuju kamar utama. Yaitu kamarnya dan juga Fisa.


Ceklek...


Lave terdiam diambang pintu dengan melihat istrinya yang sedang duduk ditepi ranjang dengan memunggunginya. "Nafisa..." Panggil Lave lirih. lalu perlahan berjalan mendekati Fisa.


Dibalik punggung itu, Fisa yang baru saja memakirkan sesuatu kini berbalik saat ada yang menyebut namanya. "Mas" Jawab Fisa dengan menghapus sisa air matanya.


Lave duduk diatas ranjang yang tak jauh dari istrinya. "Daddy tadi bilang apa? Ayo bicara pada mas" Titah Lave yang butuh kejujuran.


Fisa menggeleng. "Tidak berbicara apapun. Dia hanya bertanya bagaimana hasilnya lalu pulang dengan kecewa" Jawab Fisa berbohong tapi dnegan nada ketenangan dan secercah senyuman manisnya.


"Mas" Panggil Fisa kemudian dengan jari yang saling bertautan.


"Ada apa?"


"Aku sudah mencarikan mu istri kedua"


"NAFISA!" Bentak Lave yang mulai kembali emosi. Ia berdiri dengan kepala yang sudah dipenuhi keringat dan urat-urat yang mulai keluar. Yang benar saja jika Lave harus mendengar perkataan dan keinginan itu, sedangkan dirinya saja saat ini masih memikirkan akan kondisi Fisa.


Fisa menangis dengan sangat mengenaskan. Ia juga ikut berdiri menghadap suaminya. "Huhuhu....Mas, aku wanita yang tidak sempurna hiks...aku tidak berguna bagimu...aku beban bagimu-"


"Fisa cukup" Potong Lave.


Fisa menggeleng, ia justru kembali melanjutkan kata-katanya lagi yang sudah lama dipendam nya. "Aku tidak bisa menjadi istri yang baik, aku istri buruk... aku...aku...hiks...aku juga penyakitan! Haaahhhhh!!!!" Teriak Fisa dengan menutup kedua telinganya. Stres dan frustasi berat dengan segala ujian yang dihadapinya.


Lave terdiam saat mendengar semua ucapan istrinya. Matanya terbuka lebar dengan mata yang hampir keluar. Ia tidak menyangka jika istrinya akan seberat ini memikirkan semuanya. Terlebih melihat teriakan paling melengking dan menyakitkan, menunjukkan bahwa Fisa benar-benar merasa stress dan frustasi.


"F-fisa..." Pinta Lave yang berusaha untuk mendekati istrinya dan memeluknya.


Fisa semakin mundur dan tidak mau didekati oleh lave lagi. "Jangan hiks... jangan mendekati aku!" Fisa menggeleng dengan sangat frustasi dan dada yang mulai naik turun karena untuk mengambil nafas saja sangat sakit baginya.


"Fisa tolong jangan menjauh sayang" Lirih Lave dengan mengulurkan tangannya.


"Pergi mas! aku mau kamu PERGI!!!!!" Teriak Fisa yang mulai melempari semua barang-barang yang ada didekatnya. Ia melempar bantal hingga mengenai kepala Lave.


Lave menunduk dan berhenti untuk terulur. membiarkan Fisa untuk menyakiti nya, mungkin dengan ini hati Fisa terasa lebih tenang.


Saat Fisa yang masih meluapkan emosional nya. Tatapan lave justru tertuju pada hidung Fisa yang mengeluarkan cairan merah. "Fisa kamu mimisan"


Mendengar itu, Fisa segera berhenti dan mengusap hidungnya. Ia menatap jari telunjuknya yang dibaluti oleh darrah. Dengan buru-buru Fisa berlari ke kamar mandi dan menutup pintunya rapat agar Lave tidak dapat masuk dan menyusulnya.


Lave manatap kamar mandi yang tertutup rapat itu. "Kenapa kamu seakan cuman mau sedih sendiri Nafisa? Aku suami mu... Aku juga ingin merasakan kesedihannya bersama-sama dengan mu...bukan kamu sendiri yang harus memendam semuanya Fisa..."


Memang seharusnya yang Lave inginkan adalah saling sama menguatkan dan bersama. Bukan hanya waktu bahagia saja, tapi juga saat sedang terpuruk seharusnya mereka menjalaninya berdua, bukan saling sendiri seperti ini.