
Fisa menggeleng lemah dengan air mata yang mulai membanjiri pipinya. "Bukan mas..." Jawab Fisa dengan lirih sampai suaranya hampir tak terdengar.
"Lalu apa? Apa yang kau inginkan jika tau siapa yang bermasalah Nafisa Sucia?!!" Tanya Lave dengan suara panjangnya karena terlalu kesal.
"Lavender!" Bentak Fisa dengan mendorong tubuh suaminya hingga Lave mundur untuk beberapa langkah.
"Bisa tidak sih turuti saja kemauan ku?! Kau pikir aku perempuan apa saat tau suaminya mandul maka akan meninggalkan mu? Aku mencintaimu tanpa syarat" Tukas Fisa dengan suara melengking nya.
Fisa menghapus kasar air matanya yang selalu menderas itu. "Bagaimana jika dibalik? Jika aku yang mandul apa kamu akan meninggalkan aku hah??! Kamu tidak tau Lave, betapa menderitanya aku selama tujuh tahun ini. Sedari dulu kamu sellau melarang ku untuk memeriksa kan ke dokter hiks... Aku hanya ingin tau yang sebenarnya, jika kebenarannya aku yang mandul maka...." Fisa tidak melanjutkan kata-katanya lagi. entah sudah berapa banyak air mata ini keluar sepanjnag pernikahan mereka, air mata yang hanya mempermasalahkan satu masalah, yaitu keturunan.
Lave menatap tajam. "Maka apa?" Tanya Lave dengan tangan yang terkepal erat dengan menunggu Fisa melanjutkan lagi ucapan nya.
"Aku mau kau menikah lagi"
Brak!...Prang...!
Kaca meja rias yang berada tak jauh dari mereka itu seketika pecah berhamburan ke lantai setelah Lave yang tidak bisa menahan amarahnya dengan melemparkan sabuknya dan kepala sabuk itu mengenai kaca.
"Brengsek! ISTRI SIALAN! KALAU BEGITU AYO! KITA PERIKSA PAGI INI!" Bentak Lave untuk pertama kalinya. Ia langsung menyingkirkan tubuh istrinya dan mengambil baju asal, lalu memakainya.
Fisa segera berjalan ke kamar mandi dengan tubuh gemetar dan terisak. Tidak menyangka jika sikap Lave akan semurka itu saat mendengar kemauannya. Tapi mau bagaimana lagi? Fisa lelah dengan tekanan batin yang sellau menyakitinya, dia lelah menunggu yang tidak pasti.
Fisa bercermin. menatap wajahnya yang sudah lama tak terawat karena stres memikirkan soal kehamilan yang tak kunjung datang. Kantong matanya juga perlahan mulai semakin kelihatan, serta bibir pucatnya.
Semakin keras Fisa menangis dikamar mandi itu. Lagi dan lagi, secara terus menerus wanita cantik dengan usianya yang masih dua puluh tujuh tahun itu harus merasakan pedihnya kehidupan selama hampir enam tahun lamanya.
Namun, secara tiba-tiba terhenti menangis saat merasakan ada sesuatu yang mengalir keluar dari hidungnya. Ia mendongak menatap cermin. "Astaga!" Tukas Fisa dengan sedikit terkejut saat darah segar mengalir merembas melewati bawah hidung dan mulutnya. Fisa pun langsung buru-buru menyalakan kran air.
Tok...Tok...Tok....
"Jangan membuatku menunggu!" Ucap Lave dengan suara tegasnya. Ia pun keluar lebih dulu dari kamarnya dan berjalan kelantai bawah. Rasa marahnya pada keputusan dari Fisa itu masih sama sekali belum reda. Bukan hanya marah, namun juga semakin merasa kecewa dengan Fisa.
Dengan terburu-buru dan cepat, Fisa pun segera membersihkan semuanya. Setelah itu ia segera keluar dari kamar mandi. Tak perlu ganti baju, karena sekarang bagi Fisa, penampilan hanya ada dua persen dalam hidupnya. Fisa cukup hanya mengenakan celana piyama dengan baju biasa disertai cardigan dan rambut yang diikat satu dengan sangat sederhana.
"Sejak kapan Bernai duduk dibelakang?" Tanya Lave dengan dingin saat melihat Fisa yang duduk di kursi penumpang.
"Sejak hari ini." Jawab Fisa berani. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, Fisa berani menantang suaminya dengan tatapan yang tak kalah dingin dan datar.
"Aku minta kamu sekarang pindah kedepan!" Tukas Lave yang mulai menggenggam setir mobilnya erat.
Fisa mneggeleng. "Tidak. Aku akan belajar untuk mengalah jika sewaktu-waktu istri kedua-"
"NAFISA SUCIA!" Bentak Lave dengan amarah yang tak tertahan.
Brak...!
"KAU BERANI MELAWAN UCAPAN KU SEKARANG?!"
Melihat dan mendengar suaminya yang semakin emosi, jadi membuat akhirnya Fisa mengalah untuk berpindah dikursi depan, berdampingan dengan Lave.
Dalam perjalanan menuju rumah sakit, hanya ada kesunyian yang ada. Mereka kini sama-sama diam membisu dengan rasa sakitnya masing-masing.