
"Bagaimana sayang?" Tanya Lavender yang sedari tadi menunggu keluarnya sang istri dari kamar mandi.
Fisa menatap benda persegi panjang yang hanya menunjukkan satu garis merah saja. Matanya berkaca-kaca, balut kesedihan mulai terpancar lagi diwajah Fisa. Ia menatap suaminya, dengan sedikit rasa trauma, Fisa menggeleng pelan. "Negatif...." Lirih Fisa pelan.
Ia menjatuhkan benda yang sebelumnya dipegang itu kelantai, lalu segera naik ke ranjang dan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut tebal. Rasa kecewanya yang begitu dalam, karena sudah puluhan kali dikecewakan akan hasil yang selalu negatif. Menggunakan alat itu lagi sebagai alat test kehamilan membuat Fisa jadi benar-benar trauma.
"Aku menyerah, ini terakhir kalinya!" Lanjut Fisa dengan nada bergetar.
Lave menatap istrinya dari balik selimut itu. Tangannya kemudian terarah mengambil testpack yang dijatuhkan istrinya itu. Tatapannya dengan rasa kecewa, namun bukan semuanya, yang lebih perih dari kecewanya seorang suami adalah, Lave takut jika istrinya akan kembali mendapatkan comohan dari keluarganya terutama Daddy.
"Kita bisa coba-"
"Aku lelah Mas...hiks!" Potong Fisa kemudian.
Penantiannya dalam waktu tujuh tahun sepertinya hanya akan terbuang sia-sia saja sekarang. Fisa lelah, Fisa capek dengan semuanya, terutama akan ucapan serta comohan diluar sana yang banyak mengatakan bahwa dirinya adalah perempuan mandul.
Lave menghela nafasnya. Tidak tau saja jika dia juga menjadi orang yang paling sakit disini. Sakit melihat istrinya yang dulu ceria dan cerewet kini berubah menjadi seorang yang pendiam. Istrinya yang dulu sering bersosialisasi kini berubah untuk lebih memilih mengurungkan dirinya dirumah saja.
Sebenarnya Lave tidak banyak mempermasalahkan akan keturunan. Ia bahkan juga akan tulis ikhlas jika selamanya hanya akan hidup berdua saja, asalkan dengan Fisa, sang wanita tercintanya.
Namun yang menjadi masalah disini adalah Daddy nya, ayah kandung Lavender itu sellau berbicara soal keturunan sebagai pewaris dan penerus selanjutnya. Bahkan Daddy nya secara terang-terangan pada dirinya dan Fisa untuk menyarankan mencari istri kedua baginya.
Tentu saja Lave terasa mendidih mendengarnya. Ingin rasanya Lave membantah, namun sang istri yang selalu menahan dirinya agar jangan terbawa emosi.
Pada akhirnya, malam ini adalah malam yang kesekian kalinya paling sakit bagi Fisa dan Lave.
# Pagi harinya.
seperti istri pada umumnya. Fisa menjalankan tugasnya dengan baik, yaitu menyiapkan segala kebutuhan yang dibutuhkan oleh suaminya untuk berangkat ke kantor.
Saat Fisa sedang menyiapkan baju, tiba-tiba satu tangan kekar melingkari tubuh rampingnya.
Lave mengecup singkat tengkuk istrinya setelah selesai mandi dengan hanya menggunakan handuk yang melilit di pinggangnya. Hal seperti itu adalah suatu keharusan dan kehobian Lave setiap paginya.
"Mas lepaskan! Tangan dan tubuh basahmu itu membuat pakaian ku basah!" Ucap Fisa kemudian dengan sedikit jengkel.
Lave tersenyum. "Ini adalah hobi ku sayang...." Jawab Lave yang justru semakin erat memeluk sang istri. "Kenapa tubuhmu semakin terasa ringan dan kurus?" Tanya Lave setelah ia baru menyadarinya dan memperhatikan perbedaan tubuh istrinya.
Degghh....
beberapa saat Fisa terdiam dengan pertanyaan itu. "Beberapa pelayan juga mengatakannya, padahal makan ku sudah cukup banyak." Sambung Fisa pelan.
Lave membalikkan tubuh istrinya hingga mereka saling berhadapan, lalu Lave menatap istrinya lekat. "Itu karena kamu terlalu banyak pikiran."
Fisa menunduk. "Aku kau kita periksa kan kedokter soal semalam" Titah Fisa dengan datar dan wajah pucatnya.
"Periksa apa?" Tanya Lave dengan dirinya yang berusaha menahan amarahnya mendengar kata periksa.
"A-aku hanya ingin tau, siapa diantara kita yang-"
"Mandul?" Jawab Lave dengan alisnya yang diangkat satu. Lave lalu melepas tangannya dari pundak Fisa. Ia menjambak rambutnya dengan frustasi.
Sementara Fisa, hanya bisa menangis terisak-isak dengan sikap Lave.
Lave lalu memegang dagu istrinya namun tidak terlalu kuat. Mata lelaki itu memerah menahan semua rasa sedih dan kecewanya. "Sudah berapa kali mas bilang? Diantara kita itu tidak ada yang mandul...! Ucapan orang diluar sana hanyalah tipuan Nafisa Sucia...!Kalaupun iya kita periksa, lalu saat kamu tau bahwa ternyata aku yang mandul, kamu akan pergi dariku hah?" Saking sekuat tenaga Lave menahan amarahnya. ia sampai gemetar tangan itu saat memegang dagu Fisa agar tidak ia sakiti istrinya.
...----------------...
_Bersambung