My Husband Second Wife

My Husband Second Wife
Bab 13. Balas dendam?



Sudah satu bulan lebih setelah Fisa mengatakan Lave untuk pergi dan jangan pernah menemui nya, Lave benar-benar menuruti perkataannya.


Bahkan, saat Fisa menjalani kemoterapi, tidak ada yang menemani nya sama sekali disini. Hingga sampai pada titik dimana Fisa mengalami rambut rontok, ia hanya bisa menangis seorang diri di ruangan nya.


Bahkan, Fisa baru saja mendengar kabar dari dokter yang selalu memeriksanya itu bahwa kini suaminya dan istri kedua sebentar lagi akan mengadakan acara syukuran karena kehamilan Hana.


Prang...!


Fisa melempar makanan yang baru saja suster berikan dengan begitu emosi. Benar apa yang dokter Sandi bilang, bahwa dua hari lagi akan ada acara syukuran dirumah mewah yang ia tinggali. Fisa baru saja melihat beritanya di ponsel.


"Arghhh!!!! Kalian sangat kejam!!!" Teriak Fisa menggema diruangannya.


Baju biru ala rumah sakit itu yang membuat Fisa semakin benci dengan keadaan nya. Terlebih sebuah beanie hat (Topi rajut dikepala) yang sudah terpasang terus dikepalanya, karena rambutnya yang sudah mulai menipis.


Fisa menangis dengan sangat histeris di ruangan itu sendirian. Dia benci, dia benci pada semuanya. "Jahat kalian semua... Terutama kamu Hana! Kenapa kamu sama sekali tidak muncul dalam susahku....? Apa karena kamu telah mendapatkan suamiku Han? Apa ini termasuk keinginan mu juga? Hiks... seharusnya aku belajar dari sebuah cerita nyata, bahwa teman yang kita anggap begitu baik bagai saudara, nyatanya bisa saja menusuk dari belakang..."


Dokter Sandi yang baru selesai dengan tugasnya yang memeriksa pasien lain pun berniat untuk mengecek dahulu kondisi pasien yang paling di spesial kan.


Dokter Sandi membuka pintu kamar rumah sakit Fisa. Ia sedikit tersentak dengan piring yang berjatuhan dan nasi berceceran dilantai. Telebih saat ia melihat Fisa yang menangis diatas branker. "Astaga nona Fisa" Sandi segera mendekati Fisa.


"Apa yang terjadi nona?" Tanya Sandi khawatir. Ingin rasanya Sandi memeluk tubuh Fisa yang sedang lemah seperti sekarang ini, namun sepertinya belum saatnya untuk melakukan itu.


"Hiks... Dokter, dia jahat" Lirih Fisa.


Sandi tau apa yang Fisa maksut dan siapa orangnya. Ini pasti begitu sakit bagi Fisa.


"Tolong aku dokter... hiks... aku harus apa? Aku tidak punya siapapun didunia ini" Fisa menangis dengan tersedu-sedu dihadapan dokter Sandi. Sebulan lebih berada dirumah skait seorang diri, membuat Fisa menganggap bahwa dokter Sandi akan menjadi teman curhat ternyaman sekarang.


Sandi menghela nafasnya lemah. Ia menarik kursi dan duduk disamping branker Fisa. "Mau mu apa?"


Fisa seketika berusaha untuk menghentikan tangisannya setelah mendapatkan pertanyaan itu. Ia menatap dokter Sandi lekat.


Tatapan sandi datar namun penuh makna didalamnya. Mereka berpandangan beberapa saat sebelum Fisa kembali melanjutkan perkataannya.


"Perempuan yang lemah" Sambung Sandi dengan mengangkat satu kakinya hingga bertumpu pada kaki satunya. Gayanya seperti seorang anak brandal.


Fisa mengangguk mengakuinya. "Ya, aku memang perempuan lemah yang penyakitan" Ucap Fisa yang menimpali perkataan dokter Sandi.


"Mau ikuti saran ku?" Tanya Sandi kemudian.


Dengan bimbang tapi Fisa mengangguk juga akhirnya.


"Balas dendam dengan cara mengerikan dan setimpal. Usiamu sudah tidak lama lagi, mereka harus mati sebelum kau mati" Tukas Sandi dengan ucapan yang mengerikan bagai psikopat.


Degg...


Fisa terkejut denagn sarah yang dokter muda itu katakan. Balas dendam? bahkan tidak terpikirkan oleh Fisa sebelumnya jika ia akan melakukan pembalasan pada mereka.


Namun jika dipikir-pikir. Disini yang paling banyak menderita adalah dirinya, sedangkan mereka yang Fisa anggap akan susah senang bersamanya, justru malah berbahagia tanpa nya. Apa itu sebuah keadilan? Apa balas dendam adalah cara paling baik diantara yang lainnya? Dan, apa dirinya yakin akan sanggup untuk membalas mereka?


Melihat kerut wajah ekspresi keraguan dari wajah Fisa, membuat Sandi jadi geram sendiri karena perempuan ini sangat amat bodoh dalam benak Sandi. "Kenapa? Kau ragu?"


"Aku takut-"


"Takut? Kenapa harus takut? mereka Tuhan mu?"


Saat mereka sedang berbicara, ketukan pintu membuat mereka mengalihkan pandangannya.


Ceklek...


suara saat pintu kamar Fisa dibuka.


Fisa dan Sandi sama-sama terkejut dengan kedatangan seorang wanita paruh baya yang masih terlihat muda dan tegas itu. Terutama Fisa, ia membuka kelopak matanya lebar minat perempuan itu.


"M-mama tiri?"