
Lave menjalankan mobilnya dengan kecepatan penuh. Rasanya masih tak percaya.
sampai ke pemakan umum itu, tubuhnya yang sudah sempoyongan karena rasa pusing yang luar biasa. Ia terus mencari kesana kemari makan istrinya yang masih baru.
Hingga kini, wajahnya sayu dan terhenti pada sebuah pemakaman baru yang bertuliskan nama istrinya dan tanggal lahir serta nama ayah dan wafatnya.
"NAFISA SUCIAAA!!!!" Teriak Lave histeris seperti seorang dengan gangguan jiwa. Ia terduduk lemas didepan makam istrinya.
menggeleng seakan tidak mau dan berharap jika ini bukanlah istrinya. "Fisa...tolong sayang... muncul dan katakan bahwa ini hanya tipuan...." Lirih Lave yang sangat menyedihkan.
"Cerita kita belum selesai Fisa... Cinta kita belum selesai... semuanya masih banyak masalah, kenapa kamu pergi..." Lave dengan keringat bercampur air mata itu mengusap papan nama istrinya.
"Lalu apa tujuanku jika aku pergi Fisa sayang..." Lanjut Lave.
"Kamu hidupku... Kamu cintaku... kamu wanitaku... Kamu penyemangat ku Fisa sayang..." Entah sudah berapa banyak air mengalir menderasi wajah lavender Agara.
"Fisa... tolong aku sayang.... muncul dan bilang bahwa ini hanya kepalsuan saja" Lave memeluk makan istrinya. tidak peduli jika pakaian nya akan kotor.
Sementara itu, ditempat yang sama, seorang pria dengan menggunakan pakaian serba hitam dan wajah datarnya itu memvideokan Lave yang sedang begitu terpukul dan lemah.
Cukup dua menit, pria itu langsung mengirimkan videonya pada seseorang. "Sebenarnya apa rencana mereka? Kenapa aku tidak diberitahu? Mama sialan!" Kesal pria itu, lalu segera pergi sebelum keberadaannya diketahui oleh Lave.
#
#
Sementara itu, wanita yang diduga berita kematiannya sudah menyebar justru sedang enak tidur dikasur empuknya.
Fisa sudah kembali seperti dahulu kala sebelum papanya meninggal. Yaitu dirumahnya yang dahulu.
Fisa menggeliat setelah sinar mentari menyengat menerpa wajahnya lewat celah-celah. "Eghh..." Fisa segera bangun.
Ia arahkan kepalanya dan wajahnya ke kiri, dimana ada kaca meja riasnya yang super besar.
Matanya kembali berkaca-kaca melihat dirinya yang sudah semakin hilang rambutnya. "Rambutku..." Lirih Fisa lalu memegangi kepalanya. sebagian kepala itu sudah terlihat botak.
Bahkan hanya memegangi rambutnya saja, rambut Fisa sudah langsung rontok banyak. "Wanita buruk rupa ini? Mas... apakah saat kamu tau aku seperti ini, kamu akan mau menerimaku?" Gumam Fisa pelan.
Fisa kembali menidurkan dirinya dikasur. Untuk sekarang, benda yang olsing Fisa benci adalah sebuah cermin. Karena cermin dpaat membuatnya jadi tau bagaimana wajah aslinya yang begitu buruk.
Fisa lalu mengambil ponselnya dan membuka salah satu aplikasi. Ia membaca sebuah berita viral pagi ini. Fisa tersenyum, itu adalah berita soal kematian menantu Revino Agara dan istri pertama dari Lavender Agara. "Apa kalian bahagia?" Bibirnya menunjukkan senyumannya, namun matanya menunjukkan kesedihannya dengan perlahan mengeluarkan air mata.
Tok... Tok.... Tok...
Fisa mengusap air matanya. "Masuk"
Mama Sanez segera membuka pintunya. Ia berjalan mendekati Fisa dengan wajah senyumannya. "Bagaimana keadaan mu sayang?" Tanya mama Sanez yang kemudian duduk ditepi ranjang sebelah Fisa.
Fisa kembali duduk dna tersenyum dengan bibir pucatnya. "Aku baik, namun hatiku tidak baik" Jawab Fisa.
Mama Sanez mengusap pundak anak sambungnya dengan sayang. "Kamu akan baik setelah balas dendam pada mereka semuanya sayang..."
_