
Sanez, itulah nama perempuan paruh baya itu. Wanita dengan usianya yang sudah 55 tahun itu memasuki kamar anak tirinya, yaitu Nafis Sucia.
Fisa menatap tajam mama tirinya yang sebenar sekarang bukan lagi mama tirinya, karena papa sudah pergi lebih dulu setelah setahun mereka menikah. "Kenapa kau kemari?" Tanya Fisa.
Sanez berjalan mendekati Fisa dengan wajah sedih menatap sang anak tiri yang sudah dianggapnya sebagai anak kandung. "Mama hanya ingin melihatmu Fisa..."
Fisa tersenyum miring. Ia berpikir pasti ini hanya sandiwara saja. "Mau apa? Pergi dari sini!" Tukas Fisa kesal. Sedari dulu Fisa sama sekali tidak menyukai mama Sanez, karena Fisa berpikir bahwa kehadiran mama Sanez akan membuat kasih sayang papa berubah. Walau tidak kali mama tirinya itu selalu menampakkan perhatian padanya, tapi Fisa sama sekali cuek seolah benar-benar benci.
"Pulang sayang... mama mohon..." Lirih Sanez kemudian yang berdiri tak jauh dari Fisa.
Fisa menggeleng. "Aku tidak akan pernah pulang sebelum kau angkat kaki dari rumah itu!" Jawab Fisa tegas.
"Apa salah mama? Mama menyayangimu bagaikan anak kandung mama sendiri" Satu tetes air mata berhasil lolos dari kelopak mata Sanez. Entah kenapa, walau ditolak berkali-kali oleh anak sambungnya, namun Sanez masih tetap bersikukuh agar Fisa mau kembali ke istananya dulu.
"Takdir yang salah. Tanya padanya kenapa aku harus membencimu"
"Tolong Fisa mama mohon hiks... Kbali sayang" Tubuh Sanez luruh dilantai seperti sedang bertekuk lutut. Lelah selama ini karena Sanez yang kesekian ratus kalinya selalu ditolak mentah-mentah. Ia sudah melakukan segala kebaikan, namun sama sekali tidak Fisa lirik dan lihat.
Fisa sedikit nyeri melihat mama Sanez yang seperti itu. Ia juga bahkan hampir pernah melakukannya hanya demi agar sahabatnya itu mau menjadi madunya. Tapi sekarang? Justru Fisa benar-benar menyesal telah berbuat bodoh aamapi ketahap ini.
"Mama bangun!" Tukas Fisa dari atas branker. Ia tau bagaimana rasanya seperti itu. Rasanya seperti sedang terjatuh kejurang paling dalam harga diri kita sebagai seorang.
Sanez menggeleng. "Sebelum kamu mau ikut mama pulang hiks...-"
"Aku maafkan!" Potong Fisa kemudian. Ia benar-benar tidak tahan melihat mama Sanez yang bertekuk lutut sepeeti seorang pelayan.
Mendengarnya membuat Sanez tersenyum. Ia akhirnya bangun dan berjalan berani untuk mendekati Fisa.
Fisa membiarkannya dan tidak kembali marah. Kemudian sedetiknya mereka sama-sama berpelukan.
Entahlah, Fisa merasa berpelukan dengan mama Sanez terasa sangat nyaman bagai pelukan ibunya dahulu kala sebelum tiada.
Sanez mengelus pundak sang anak sambung dengan perasaan haru dan prihatin akan kondisi Fisa. Terlebih saat perubahan drastis Fisa yang semakin kurus itu. "Mama janji akan mengurusi semuanya Fisa. Mama janji akan sepenuhnya menolong kamu. Bahkan untuk balas dendam pada keluarga Agara yang paling brengsek itu!" Saat mengucapkan kata Agara, Sanez benar-benar benci pada mereka. Sanez semakin erat memeluk Fisa dengan rasa pedihnya bagai seorang ibu kandung yang tidak rela anaknya tersakiti oleh orang lain
"M-mama tau?" Tanya Fisa dengan sedikit terbata.
Sanez melepaskan pelukannya. Menangkup kedua pipi Fisa dan menatapnya dalam. "Tentu mama tau sayang" Ucap Sanez pelan namun sangat penuh dendam.
"Mama tentu tidak akan tenang saat tau kamu menikah dengan anak dari keluarga Agara, Keluarga yang hanya mementingkan akan keturunan itu. Mama benci saat mereka mengataimu mandul.."
Fisa benar-benar tidak menyangka jika mama Sanez akan bertindak sejauh ini dengannya. Fisa sampai merasa dirinya seperti sedang dijaga oleh ibunya sendiri.
"Saat mereka membenci kamu hanya karena kamu tidak kunjung hamil hingga membuat kamu jadi mengurung dirumah..."
"Saat mama tau bahwa kamu sudah jarang keluar dan bersosialisasi lagi dengan teman-teman kamu hanya karena ucapan mereka?..."
"Kamu pikir mama rela? Mama rela saat kamu yang menangis seorang diri melihat pernikahan kedua suami mu Fisa?" Ucap Sanez dengan menunjuk dirinya sendiri.
"Sakit Fisa... mama sakit melihat kamu sendirian hiks..." Mama Sanez kembali menangis dihadapan Fisa.
Sandi melihat interaksi kedua dengan perasaan yang tidak bisa dijelaskan. Ia pun akhirnya memilik untuk keluar saja dari ruangan ini tanpa ingin mengganggu obrolan keduanya. Ia merasa saat ini tugasnya dipending terlebih dahulu.
#
#
"Balas dendam sayang..." Saran mama Sanez dengan mata yang terbuka lebar namun berkaca-kaca.
Fisa menatap mamanya. "Apa yang harus aku lakukan ma.." Lirih Fisa yang sama sekali tidak mengerti akan balas dendam. Yang ia tau hanya rasa sakitnya saja tanpa ingin bertindak agar keadilan datang padanya.
"Mereka sedang bahagia diatas penderitaan mu" Ucap mama Sanez dengan senyuman miring.
"Hancurkan kebahagiaan mereka dengan kematian"
Deg...
"M-maksud mama?" Fisa tidak mengerti dengan ucapan mama Sanez.
"Aku harus membunuh mereka begitu?" Tanya Fisa kemudian yang menduga-duga.
"Tentu saja"
Mendengarnya Fisa terbelak. "A-apa? T-tapi~"
"Tapi apa? Kapan lagi kamu bisa balas dendam? Tidakkah hatimu merasa sakit saat melihat mereka yang justru akan mengadakan acara besar-besaran untuk merayakan kehamilan Hana, sementara dirimu? Apa mereka peduli?"
Fisa menunduk. Air matanya sudah banyak berjatuhan dicelana rumah sakitnya. Benar... semuanya yang mama dan dokter Sandi bilang benar....
Tangan kurus Fisa menggenggam erat menahan kekesalan dan ke emosian nya.
"Bagaimana setuju dengan semuanya untuk balas dendam?"
Fisa langsung mengangguk.
Sanez tersenyum lebar. Ia senang dengan Fisa yang mau mengikuti sarannya untuk balas dendam. "Langkah pertama adalah membuat kematian palsu dirimu lalu...." Mama Sanez kemudian melanjutkan langkah-langkah yang harus Fisa lakukan selanjutnya samapi pada akhir nanti.
Sedikit ragu bagi Fisa untuk melakukannya. Namun demi sebuah keadilan untuk dirinya yang usianya tidak akan lama lagi, maka ini adalah jalan terbaiknya. "Jika aku mati, maka mereka juga harus mati sebelum aku mati. Itu baru adil yang sesungguhnya. Aku tidak rela jika mereka akan bahagia dengan kepergian ku nantinya"