My Husband Second Wife

My Husband Second Wife
Bab 20. Baby sitter Rasid



Mobil yang ditumpangi kini sudah sampai dirumah yang dahulu Fisa tinggali. Sama Fisa namun dengan sifat, watak dan penampilan yang berbeda.


Didepan rumah, Fisa melihat ada Lave yang sedang berjemur bersama anaknya. Entah kenapa dari dalam hati Fisa begitu tercubit dan teriris melihat Lave yang begitu sangat sayang.


"Tahan Fisa.... Ini adalah awalan, dan kamu tidak boleh lemah untuk awal" Setelah mobil Gerry berhenti Fisa lalu turun.


Penampilannya sangat tidak direkomendasikan, karena ia telah disulap menjadi wanita dengan kulit sawo matang dan tompel bagai wanita buruk rupa.


"Mari nona, itu adalah tuan Lave, dia yang akan menggaji anda" Ucap Gerry sembari berjalan beriringan dengan Fisa menuju Lave.


"Affah Iyah?" Tanya Fisa pelan.


"Dasar buruk rupa" Batin Gerry kesal saat ucapannya yang justru menjadi bahan ejekan.


Setelah sekitar tiga meter hampir mendekati Lave, Fisa langsung menjalankan ektingnya. Ia menunduk.


"Permisi tuan"


Lave yang sedang berjemur dengan menggendong baby Rasid pun membuka kacamata hitamnya. "Hmm..?"


"Ini adalah yang akan menjadi baby sitter anak anda"


Lave lalu menatap wanita disamping Gerry dari atas sampai bawah. Terlihat begitu kusam dengan kulit gelap. "Kau selalu perawatan?" Tanya Lave kemudian.


Degg...


Fisa menunduk. "Sial, dia ini sedang menghina ku atau bagaimana?"


Fisa pun menggeleng. "Tidak tuan, saya hanya wanita miskin dari desa" Jawab Fisa.


Wajah Lave berkerut dan kembali memperhatikan wanita itu dengan seksama. Suara itu seperti mengingatkan nya akan seseorang yang ia rindukan. "Semiskin apa?"


"Miskin sekali tuan. Rumah dari bambu dengan atap asbes yang begitu panas. Makan hanya seminggu sekali dengan minum air yang hanya satu sendok perhari, tidak lupa tempat tidur yang begitu keras-"


"Cukup!" Potong Lave, sangat mengenaskan sekali nasib yang akan menjadi baby sitter anaknya. "Baiklah, silahkan jemur anakku, ibunya sebentar lagi akan kesini"


"Istrinya tuan?" Tanya Fisa.


"Iya istrinya tuan kan?"


"Ibunya anak ini"


"Iya berarti is-"


"STOPP!" Bentak Gerry dengan lumayan keras hingga membuat Lave dan Fisa saling menatap Gerry tajam. "Maaf...saya lancang, tapi baiknya jangan bercek-cok lagi. Iya, sebentar lagi istri tuan Lave akan datang" Akhirnya Gerry yang menjawab.


"Ngomong lah tuan dari tadi kalau istrinya, apa susahnya?" Ucap Fisa berani.


Lave menatap tajam. "Berani dengan saya?" Memang Lave untuk menyebut Hana sebagai istrinya, rasanya begitu sulit dan selalu terbayang akan mendiang istrinya.


"Maaf..." Fisa benar-benar lupa jika ia sedang berekting sekarang.


"Ini, lanjutkan berjemur nya." Lave lalu berdiri dan segera menyerahkan anaknya yang baru berusia satu bulan itu pada gendongan Fisa.


Fisa segera menerimanya. Beruntung walau dia belum berpengalaman, namun Fisa bisa menggendong bayi, karena sebelumnya Fisa sudah belajar lewat video.


Saat pertukaran tangan, tangan Fisa dan Lave saling bersentuhan. Dan keduanya dalam hati masing-masing entah kenapa jadi berdebar.


Terutama Lave. Ia bingung kenapa jantungnya berdetak lebih cepat saat bersentuhan dengan baby sitter tompel ini? Apa karena wajah nya yang sedikit buruk?


Baby Rasid pun tetap tertidur gendongan Fisa dengan wajah tampannya.


"Sayang... Dengan mbak tompel dulu ya" Pinta Lave yang seolah berbicara pada anaknya. Ia pun menciumnya, sedikit terbentur kepala Lave pada dada Fisa, namun ia mencoba untuk tidak menyadarinya dan cuek saja.


"Kok tompel?"


"Karena tompel mu di pipi sangat besar" Lave kemudian masuk kedalam rumah untuk memanggil Hana.


Fisa dibuat kesal. Apalagi Gerry yang sudah berusaha untuk menahan tawanya. "Ish...Sejak kapan Lave jadi menyebalkan? Padahal kan aku istrinya" Gumam Fisa pelan namun dapat didengar oleh Gerry.


"Istri yang mengenaskan" Lanjut Gerry kemudian.