
Selang waktu 30 menit, mereka pun sampai pada rumah sakit ternama. Dan Fisa langsung saja turun tanpa ingin diperlakukan seorang ratu lagi. Yang biasanya Lave yang membukakan pintu mobilnya.
Lave tidak memperdulikannya. Mereka lalu berjalan memasuki gedung rumah sakit tanpa ada ada kata yang keluar dari kedua nya.
Pagi itu, baik Lave dan juga Fisa menjalani pemeriksaan dengan lancar. Dari mulai darah mereka, al_at kelamin mereka dan seluruh organ tubuh lainnya yang bersangkutan dengan sulitnya memiliki keturunan.
Tak butuh waktu lama, dnegan hanya menunggu sekitar setengah jam, hasil pemeriksaan pun keluar.
Lave dan Fisa duduk berdampingan didepan dokter Anggi, dokter dengan usia sekitar 40 tahun.
Baik Fisa maupun Lave sama-sama penasaran dengan hasilnya. terutama Fisa yang seluruh tubuhnya sudah benar-benar gemetar untuk mendengarkan hasil itu. Entah kenapa firasatnya berkata bahwa yang menjadi masalah disini adalah dirinya.
Pikiran Lave saat ini juga sudah sangat was-was. Bagaimana kalau ternyata dirinya yang tidak bisa memiliki keturunan? Atau ternyata jika istrinya yang tidak bisa? Lave bahkan sampai berharap untuk jangan istrinya yang mandul, kalau bisa dirinya atau berdua saja jika memang ini terlalu menyakitkan bagi keduanya.
Dokter Anggi membuka hasilnya dan membacanya dalam hati. Ia bahkan kadang sedikit berkerut saat memperhatikan surat hasil pemeriksaan itu.
Setelah selesai melihat dan membaca hasilnya dalam hati, dokter Anggi lalu melihat sepasang suami istri itu dengan helaan nafasnya. "Tidak ada yang tidak bisa memiliki keturunan. Semuanya baik-baik saja jika diperiksa dari organ reproduksi kalian"
Mendengar penjelasan yang tidak pernah mereka duga, membuat keduanya membangkitkan senyumannya. Karena ternyata, apa yang mereka berdua pikirkan secara negatif, tidak terjadi setelah melakukan pemeriksaan.
"Hanya saja...."
Kalimat 'hanya saja' yang terlontar dari mulut dokter Anggi membuat Fisa dan Lave menatap dokter Anggi secara bersamaan.
"Hanya saja ibu Fisa mengalami suatu penyakit mematikan. Yaitu kanker darah stadium akhir dan penyakitnya tidak bisa disembuhkan lagi."
Deghh...
Bola mata Fisa terbuka lebar, namun air mata itu sangat cepat sekali merembas seiring berjalannya waktu.
Lave juga sama, suatu yang tak pernah ada dalam pikirannya justru malah terjadi. Lave menatap istrinya yang masih terlihat tak percaya. Ingin rasanya Lave bilang pada Tuhan, jika bisa ia saja yang terkena penyakit mematikan ini, jangan wanitanya.
kemudian, satu tangan Lave yang ingin terulur untuk menggenggam itu justru dihempas kasar oleh Fisa dengan wajah yang memandang kearah lain.
"Mungkin juga hal inilah yang menyebabkan kalian sulit untuk mmeiliki momong-"
"Dokter" Lave memotong ucapan snav dokter Anggi. "Tolong katakan jika ini hanya salah surat penyampaian. Ini pasti slaah hasil dan bukan milik kami" Pinta Lave kemudian yang tidak percaya juga akan hasil yang dibacakan oleh dokter Anggi. Walaupun tak dapat dipungkiri, jika sedari tadi didalam hatinya terasa sangat sakit bagaimana tertusuk ratusan paku.
"Tidak salah pak. Tentu saja sebelum menyampaikan pada bapak, saya akan lebih dulu memastikan benar atau tidaknya bahwa ini adalah hasil pemeriksaan bapak dan ibuk"
"Sudahlah mas!" Potong Fisa gemetaran.
"Jangan lagi kamu mengelak dengan takdir ku! Aku ini memang tak berguna yang menyusahkan dan berpenyakitan" Tukas Fisa yang lalu segera pergi dari ruangan.
"Fisa!" Panggil Lave kemudian. Ia pun dnegan segera menyusul menyusul istrinya sebelum semakin jauh. Tidak lupa Lave membawa hasil pemeriksaan nya dan juga Fisa.
#
Fisa berjalan cepat untuk segera keluar dari rumah sakit ini dengan memeluk tubuhnya sendiri. Tak lupa Isak tangis yang terdengar di setiap perjalanannya.
Sampai diluar rumah sakit, Saat Fisa melihat ada sebuah taxi, Fisa pun langsung melambai. Dan tak butuh wkatu lama, mobil yang Fisa tumpangi pun perlahan menjauh dari rumah sakit dengan meninggalkan suaminya yang terus memanggilnya dari kejauhan.
"Wanita tidak berguna!" Batin Fisa dengan memukul dirinya sendiri. Benci dengan penyakit yang menimpanya.
#
Sesampainya di rumah yang menjulang tinggi bak istana itu. Fisa pun turun didoean gerbang dengan membayar ongkos taxi nya.
Sang satpam segera membuka pagar rumah itu saat melihat kedatangan sang nyonya.
Fisa terhenti sebelum memasuki rumahnya dan juga Lave.
Rasanya Fisa ingin sekali kabur dari kehidupan ini saat melihat mobil mewah yang tidak asing itu terparkir didepan rumah. Ya, mobil yang selalu Fisa takuti dan tidak pernah Fisa inginkan adalah mobil milik mertuanya.
Namun inilah kenyataan yang sebenarnya, inilah takdirnya. Benar apa yang semua orang bilang, bahwa yang bermasalah disini adalah dirinya, bukan Lave.
Fisa tidak boleh takut. memang ini kebenarannya. Ia pun dengan berani memasuki rumahnya. Dan benar saja, mertuanya yaitu mom Angel serta dad Vino sudha duduk diruang tamu dengan memasang wajah dingin.
Mom Angel beridri dengan senyuman tipisnya melihat menantu satu-satunya itu akhirnya datang juga. Saat kakinya akan melangkah untuk menyambut, namun tangannya dicekal oleh suaminya Vino. Mom Angel akhirnya kembali duduk.
"Bagaimana hasilnya?" Tanya Vino dengan wajah datar. Ia tau jika anaknya dan menantunya sedang menjalani pemerik setelah salah satu anak buahnya mengikuti.
Fisa menunduk diambang pintu dengan tangan yang saling bertautan untuk menguatkan. Fisa kemudian menggeleng pelan, "Sama. Dan Fisa di vonis terkena kanker darah stadium akhir"
Dgghh...
Mom Angel melebarkan kelopak matanya karena dibuat terkejut dengan kata sang menantu. "F-fisa..." Mata mom Angel berkaca-kaca. Penyakit itu jadi mengingatkannya lagi pada sang ibu yang juga sama seperti itu.