My Husband Second Wife

My Husband Second Wife
Bab 11. Seperti ingin pergi



Malam harinya.


Fisa yang berniat untuk tidur lebih awal, terurung saat pintunya diketok kuat dari luar.


Fisa pun membukanya. "Mas?"


Srek!


Lave melempar surat yang dipegangnya. Surat dimana itu adalah milik asisten Gerry yang memberikannya untuk sang istri.


"Ada hubungan apa dengan Gerry? Aku dengar tiga puluh menit yang lalu kami baru saja menemuinya?" Lave bergarak maju.


Fisa semakin mundur dengan tatapan takut melihat wajah Lave yang memerah. "Aku tidak ada apapun" Jawab Fisa gemetar.


"Lalu? Kenapa bisa dia memberikan mu surat yang begitu mesra?"


Fisa melihat surat yang tergeletak dilantai. Pantas dia merasa seperti kehilangan surat itu. Tapi, siapa yang memberikannya pada Lave? Kalaupun iya hilang, pasti ada disekitar taman pagi tadi, tapi saat Fisa cari justru tidak ada lagi. Apa Hana yang memberikannya pada Lave?.


"Kamu dapet informasi dari mana?"


"Hana. Beruntung dia memberitahu ku. Sekarang katakan, ada hubungan apa kamu dengan Gerry??"


Bukannya menjawab. Fisa justru menggertakkan giginya menahan emosi saat tau siapa yang memberitahu. Kenapa Hana tidak tanya dulu padanya sebelum Lave diberitahu?


"NAFISA jawab!" Bentak Lave dengan kesal saat justru Fisa yang diam bergeming.


"Hana? Dimana dia?" Fisa yang berniat untuk segera keluar dari kamar dan mencari Hana malah ditahan oleh Lave.


"Untuk apa kamu mencarinya hmm...?"


Bruk!


Dengan begitu kasar dan tanpa mengingat akan kondisi Fisa. Lave langsung menghempas tubuh Fisa di ranjang.


Fisa sedikit meringis merasakan kepalanya yang bersentuhan dengan ranjang. Rasanya snagat pusing tak tertolong.


Lave lalu berjalan menuju pintu dan menutupnya dengan rapat. "Apa begini sikapmu Fisa? Ini alasan utama kamu menyuruhku untuk menikah lagi? Kamu pengen menyembunyikan perselingkuhan kamu dengan Gerry?"


Fisa sekuat tenaga bangun. Ia pun menggeleng lemah diatas ranjang dengan memegangi kepalanya. "Sshhh... K-kamu kenapa berbicara begitu hiks...k-kenapa k-ka-kamu jadi menilaiku dengan mengatakan aku berselingkuh mas..." Lirih Fisa yang sudah benar-benar merasa sangat lemah.


"LALU? APA ARTI SURAT ITU NAFISA SUCIA? KENAPA TERLIHAT BEGITU MESRA HAH....?" Lave yang sudah sampai didepan ranjang, segera naik dan menin_dihi istrinya.


Ia melepas tangan Fisa yang sedang sibuk menahan rasa sakit di kepala nya dengan menaikkan keatas kepala dan menguncinya. "Kamu tau betapa aku sangat hancur tadi malam?"


Fisa menangis dengan terpejam sembari menggeleng. "Hiks..."


"Kamu pikir aku menikmatinya? Itu kan pertanyaan kamu dari lubuk hati? Mau aku jawab jujur atau bohong Fisa?"


"Jujur kan? Jika jujur, iya aku menikmatinya semalam saat melakukan itu"


Degg..


Sakit, pedih 1000x lipat dihari Fisa mendengarnya.


"Aku akui aku menikmati semuanya. Hana pun juga begitu. Aku rasa dia lebih bagus dari milikmu, dia sangat sempit dari milikmu saat pertama kalinya menembus keper_awanan"


Fisa membuka bibir nya lebar mendengar pernyataan itu. Rasanya nafasnya sudah hampir habis detik ini juga. Terasa begitu sulit untuk mengambilnya.


Lave menyunggingkan senyumnya melihat Fisa. Ia sengaja mengatakan itu untuk balas dendam. Ia kesal, marah melihat surat yang diberikan oleh Gerry untuk istrinya.


"Hah...hah...hah..." Nafas Fisa kini jadi berbunyi seperti seorang yang terkena asma dan dalam keadaan darurat.


Lave melepaskan tangannya. Ia juga segera turun dari tubuh Fisa dengan mata yang terbelak lebar saat baru menyadari bahwa istrinya sedang sekarat. "Fisa!"


selueruh tubuh Fisa benar-benar terasa lemas. Darah segar kembali merembas mengaliri pipinya dari lubang hidung.


"Fisa!" Panggil Lave lagi dengan menepuk pelan pipi istrinya. "Fisa aku minta maaf sayang...aku hanya-"


"M-mas hah... Aku arkhh... Kamu jah-hat hah..." Mulut Fisa semakin terbuka lebar karena sudah habis nafasnya.


Lave menggeleng dengan panik. Ia langsung mengangkat pundak Fisa dan memeluknya. "Fisa..."


Perlahan tapi pasti, mata yang sebelumnya terbuka lebar kini perlahan menutupnya. Semua terasa berat dan sakit untuk Fisa, dalam hatinya, apa mungkin ini akhirnya? Ia mengakhiri semuanya dalam rasa sakit yang mendalam samapi ke ulu hati.


"NAFISA SUCIA!!!!" Teriak Lave yang semakin khawatir. Ia kemudian langsung mengangkat tubuh istrinya dan segera membawanya keluar dari kamar menuju rumah sakit sebelum terlambat dan menyesalinya seumur hidup.


Darah yang keluar dari hidung Fisa nyatanya masih tetap mengalir banyak hingga berjatuhan dilantai marmer dan baju Lave.


Hana yang harus aja selesai makan malam, langsung berlari khawatir melihat Lave yang menuruni tangga sembari menggendong Fisa yang terlihat pingsan dengan hidung yang keluar darah.


"Lave apa yang terjadi?"


"Nanti akan aku ceritakan. Tolong kau ambil kunci mobil, dan aku minta kau yang menyetirnya menuju rumah sakit"


Hana mengangguk dan langsung mengambil kunci mobil. Ia berlari dengan begitu panik karena takut terjadi apa-apa dengan Fisa.


Mobil terpicu dengan cepat dijalan raya. Beruntung jalanan tidak terlalu ramai, jadi Hana bisa dengan mudah menyalip mobil yang lainnya.


Sementara Lave yang duduk dibelakang, terus memeluk istrinya dengan tangisan tanpa henti. Rasanya ia begitu bodoh dan tidak berpikir dulu sebelum mengucapkan yang membuat hati Fisa sakit dan drop.


"Fisa... mas minta maaf... tolong bangun sayang..." Lirih Lave yang semakin erat memeluk istrinya.