My Husband Second Wife

My Husband Second Wife
Bab 7. Pernikahan Kedua



Tak terasa. Hari yang dinantikan bagi semua orang terutama ayah kandung dari Lavender Agara itupun tiba.


Ya, hari dimana pernikahan kedua Lave dan Hana dilangsungkan. Hari yang sama sekali bukan impian bagi Fisa, serta hari menyakitkan bagi Fisa.


Bahkan, justru pernikahan kedua suaminya dan sahabatnya terlihat begitu sangat mewah dan megah dirumah dirinya dan Lave yang cukup besar. Semuanya karena ada campur tangan dari Daddy Vino.


Pengucapan sepenggal demi sepenggal kata kini mulai terdengar baik ditelinga Fisa. Ia terpaksa harus mendengarkannya dengan duduk dibarisan paling depan, itu semua karena sebuah paksaan dari beberapa orang yang mengurus Fisa untuk tetap berada disini.


Ucapan janji suci ikatan pernikahan kedua itu dengan lantang dan lancar Lave ucapakan didepan penghulu dan semua para saksi.


Saat Fisa melihat dan mendengar semuanya mengatakan sah dengan sangat bahagia, Fisa justru menangis tanpa hentinya.


Tidak sanggup dan tidak kuat. Apalagi saat melihat suaminya dan sahabatnya yang saling bertukar cincin. Sementara cincin pernikahan dirinya dan Lave, justru terpaksa harus dilepas terlebih dahulu.


Fisa akhir berlari dengan air mata yang menderas hebat. Dadanya bergemuruh sakit. Ini adalah yang paling menyakitkan diantara yang paling sakit.


Sementara itu. Sedari tadi Lave dan Hana tak hentinya selalu melirik Fisa.


Ia ingin sekali rasanya mengejar sang wanitanya yang sedang terpuruk itu. Lave merasa begitu tega dan hina membiarkan tercintanya pergi dengan cara paling penyakitkan. Namun, ini bukan saatnya dan waktu yang tepat untuk Lave mengejar.


Begitupun dengan Hana. Sesekali ia menyerka air mata yang terus keluar dari wajah cantiknya yang sudah dirias tebal oleh makeup. Ingin sekali rasanya Hana berulang kali mengucapkan kata maaf dan maaf pada Fisa. Ingin rasanya Hana mengejar Fisa yang begitu sangat sakit. Ia tau, pasti saat ini sahabatnya senang menangis seorang diri tanpa pundak.


#


#


Fisa keluar dari rumahnya. Ia perlahan berjalan menuju taman ruamhnya itu. Taman yang menurutnya ada tempat ternyaman sepanjang masa untuk meluapkan segala kesedihannya.


Ia kemudian menangis seorang diri dikursi panjang itu. Tidak ada yang mau jadi tempat bersandar nya, tidak ada yang mau jadi pundaknya, tidak ada yang mau untuk berbagi cerita dengannya.


"Rasanya sangat sakit bagiku, tapi kenapa semua justru bahagia...?" Fisa mendongak menatap langit malam yang begitu dingin.


Tidak tau ini hari apa, yang jelas hari, tanggal, tahun, dan waktu ini adalah yang paling menyakitkan dari segalanya bagi seorang Nafisa Sucia.


Dari kejauhan, sedari dari Gerry selalu menatap Fisa dalam tatapan kesedihan. Rasanya ternyata begitu sakit saat melihat Fisa yang seperti itu. Ingin rasanya Gerry berjalan mendekat lalu langsung mendekap nona Fisa sekarang juga.


"Nona, seharusnya jangan bertindak gegabah" Batin Gerry dengan terus menatap kesedihan dari nona Fisa. Tidak banyak yang bisa Gerry lakukan, hanya bisa melihat dari jarak kejauhan sebelum diperintahkan kembali oleh sang ratu.


Ia lalu kembali masuk kedalam acara pernikahan kedua itu sebelum keberadaannya diketahui oleh nona Fisa.


#


#


Lama sekitar lima belas menit Fisa menangis. Ia pun akhirnya mereda dan berniat untuk tidak kembali lagi bergabung dalam acara menyakitkan itu. Fisa lebih memilih untuk masuk kedalam kamarnya dan kembali melanjutkan semua tangisannya didalam.


Saat melewati acara. Dari kejauhan Fisa hanya bisa melihat para tamu undangan yang sedang bersalaman dengan penuh kebahagiaan pada pasangan baru itu. Ia tersenyum penuh arti melihatnya.


"Astaga Fisa! Darahmu keluar" Ucap mom Angel yang kemudian segera mendekati menantu pertamanya itu.


Fisa yang mendengarnya segera mengusap darah itu. "Mom, tidak apa-apa, aku akan menanganinya dikamar" Titah Fisa kemudian sat mom Angel yang sudah memegang pundaknya.


"Yakin?" Mom Angel masih merasa sangat prihatin dengan kondisi Fisa.


Fisa tersenyum, lalu mengangguk. "Iya mom...Jangan khawatir denganku"


"Jangan banyak beraktivitas Fisa...mom benar-benar sangat khawatir"


Fisa mengangguk. Ia kemudian perlahan melangkahkan kakinya menaiki tapak tangga menuju kamar utama diatas.


Fisa lalu menguncinya rapat-rapat agar tidak siapapun bisa masuk, termasuk suaminya. Ia tidak ingin jika dimalam pert_ama antara Lave dan Hana malah gagal karena Lave yang terlalu khawatir akan keadaannya.


Biarlah, Fisa tidak ingin menggangu itu. Yang ia perlukan adalah, berusaha agar tetap tenang dan berpikir positif untuk tidak molen menayangkan saat mereka melakukan malam panas itu.


"Fisa.... Kamu wanita kuat okey... Jangan cengeng hiks..." Fisa berusaha lagi untuk menguatkan dirinya sendiri. sesekali dadanya ia elus untuk menetralkan segala kepanikannya yang berlebihan.