
Hanya tinggal beberapa jam saja sebelum matahari terbit. Langit-langit juga sudah tidak di penuhi oleh helikopter.
"Kapten Sanada, kamu dan regumu tidak perlu ikut peperangan ini. Aku memiliki misi khusus untukmu dan ini juga telah disetujui oleh Jenderal Manstein."
"Siap!"
"Baiklah ini misimu, aku tidak akan menjelaskan rinciannya jadi bacalah dengan teliti. Sebaiknya kamu buka nanti."
Kapten Sanada mengambil dokumen yang diberikan oleh Mayor Edmond. Lalu ia pergi meninggalkan ruang rapat.
"Baiklah tuan-tuan, aku tidak perlu memperkenalkan kalian dan kita akan langsung ke intinya saja..."
Di dalam ruangan ada sekitar 32 orang termasuk Pemimpin kota Fayden yaitu Kain dan Mayor Edmond. Lalu ada perwakilan dari guild dan perwakilan Ksatria yang memenuhi bagian kiri ruangan. Lalu disebelah kanan ada perwakilan pasukan Rogne Forte yang berjumlah 20 orang.
"Lihat ini. Ini adalah peta terperinci kota Fayden...
Saat ini kita berada di wilayah ini, ini dan ini. Lalu unit khusus milik Tuan Kain yang berada disini. Kita telah berhasil mempertahankan wilayah ini dengan baik dari serangan monster semalam."
Mayor Edmond menunjukan lingkaran berwarna biru pada peta dengan tongkat.
"Lalu terima kasih kepada para ksatria dan anggota guild yang telah mengintai musuh sehingga kita mengetahui kalau musuh berkumpul di wilayah ini. Masih belum diketahui junlah musuh yang berada disana."
Kali ini Mayor Edmond menunjukan wilayah yang digaris berwarna merah. Kemudian ia mulai menjelaskan strategi serangan balik penuh. Mulai dari waktu dimulainya, hingga menjelaskan apa itu suar dan lainnya. Ia juga memberitahu akan ada sesuatu yang mengejutkan akan terjadi jika mereka hampir gagal dalam operasi.
Jadi Mayor Edmond akan memastikan keberhasilan operasi. Begitu juga Kain yang telah memberikan kata-kata motivasi dan penjelasan singkat tentang barang yang akan dibawa oleh tentara Rogne Forte agar mereka tidak terlalu terkejut.
Kejutan yang dimaksud oleh Mayor Edmond berupa pesawat jet yang siap lepas landas saat operasi dimulai. Namun mereka hanya akan menunggu perintah serangan. Jet tersebut akan lepas landas dari kapal induk milik armada 3 yang berada tidak jauh dari pesisir yang tidak jauh dari kota Fayden.
Operasi ini telah diterima oleh Jenderal Manstein dan telah disetujui oleh Admiral Yamamoto.
Sungguh malam yang merepotkan untuk Rogne Forte.
----------
Matahari telah terbit dan menyinari kota Fayden. Monster tidak terbiasa dengan sinar matahari, sehingga mereka takut akan terangnya matahari. Selain silau, matahari juga membakar kulit mereka dan menurunkan kemampuan mereka, itulah sebabnya monster akan melemah saat siang hari dan menjadi kuat saat malam hari.
"Semuanya!!! Ini adalah saat-saat yang ditunggu. Nasib kota ini berada ditangan kalian! Serahkan semua kemampuan kalian dan bunuh semua monster itu!!!"
Kain berteriak dari atas sisi pancuran di alun-alun.
"All Hail Frantz, All Hail Rogne Forte!!!"
"""ALL HAIL FRANTZ, ALL HAIL ROGNE FORTE"""
Mayor Edmond pun menembakkan suar ke langit menandakan dimulainya operasi.
"""SERANG!!!"""
Para ksatria dan tentara seketika menjadi satu dan mulai menyerang pertahanan musuh. Total kekuatan kota Fayden saat 1057 orang, terdiri dari 208 tentara Rogne Forte dan 849 warga dari kota Fayden. Sedangkan lawan mereka diperkiran masih tersisa 2000-3000 monster.
Tentara Rogne Forte langsung menyisir dari rumah ke rumah untuk memastikan tidak ada monster yang tersisa. Berbeda dengan para ksatria dan anggota guild yang terus maju menyerang wilayah musuh.
"Oi!!! Kalian terlalu jauh masuk ke wilayah musuh!"
Seorang tentara Rogne Forte berteriak memperingatkan seorang ksatria dan timnya yang dengan sombong membantai monster didepan mereka.
"Hahahahaha monster monster ini sangat lemah. Pasukan dari kerajaan kecil itu sangat pengecut, kukira mereka hebat ternyata tidak hahahahah..."
"Kapten sepertinya kita memang harus..."
"Diam saja kau!"
Mereka terus maju mengabaikan peringatan tentara Rogne Forte.
"Cih!"
"Pak, apa kita akan menyusul mereka?"
"Tidak, kita akan bergerak perlahan sesuai arahan. Jangan biarkan 1 monster pun lewat."
"Baik pak!"
Akhirnya tim gabungan tentara Rogne Forte dan pasukan Kota Fayden berpisah. Hampir keseluruhan tim tidak dapat bekerja sama dan korban juga cukup banyak di awal penyerangan ini.
Namun mereka juga berhasil menembus pertahanan musuh dengan cepat.
"Kau lihat itu!? Sudah kuduga mereka sangat pengecut... Mereka bahkan tidak bisa mengejar kita."
"Itu benar kapten. Semalam kupikir mereka dari kerajaan yang hebat ternyata perkiraanku salah."
"Bagaimana kalau kita lanjut?"
"Se"
Sebelum bawahan ksatria itu selesai berbicara, tubuhnya sudah hancur bersatu dengan tanah.
"Ogre!?"
"Sial kenapa ada og"
"Aaaarrgghhh"
Dari balik bangunan samping mereka muncul 2 ogre yang terlihat menyeramkan. 4 dari 15 orang langsung mati dalam sekejap.
"Buat formasi! Cepat!"
Sang Kapten langsung mengkordinasi bawahannya. Walaupun begitu moral mereka telah jatuh dan bahkan mereka sudah tidak kuat memegang senjata mereka dengan benar.
"Mundur! Mundur!"
"...Tol.... gyaaaa"
Pasukan itu pun sudah tidak bisa diatur, mereka kehilangan rantai komando. Beberapa dari mereka ada yang masuk rumah dan masuk gang yang gelap. Tentu saja mereka langsung mati disiksa oleh para monster.
Sekarang hanya tersisa sang Kapten dan 3 ksatria.
"Sial!!!! Mengapa bisa ada ogre disini!?"
"Kapten....."
"Apa!?........!!!!!!"
Sang Kapten terkejut melihat kumpulan mayat warga yang sudah tidak lengkap bagian tubuhnya. Ia juga menyadari kalau mereka telah masuk ke tempat makan para monster.
Seketika itu juga tim yang tersisa itu dikelilingi oleh berbagai monster dari goblin, serigala, hingga orc dan ogre.
"Mustahil...."
Endingnya tidak perlu dijelaskan.....
Kembali ke tentara Rogne Forte yang sedang beristirahat sejenak sambil mengecek peralatan mereka di suatu rumah yang memiliki lantai tertinggi.
"Pak, lihat ini."
Seorang tentara memberikan binocular (teropong) pada pimpinannya.
"Sepertinya mereka cukup berguna.... Hubungi pusat komando, kita menemukan tempat makan para monster."
"Baik pak!"
"Oh katakan juga estimasi jumlah monster disana sekitar 200."
Prajurit itu segera menyalakan radio dan menghubungi pusat.
"Komando, disini regu 7. Kami menemukan sarang para monster. Saya ulangi, kami menemukan sarang monster. Jumlah monster sekitar 200 dari berbagai species. Meminta dukungan serangan, kami meminta dukungan serangan."
[Disini komando, informasi diterima. Meminta kordinat target.]
"Kordinat 05, 20 jarak 100 meter. Saya ulangi kordinat 05, 20 jarak 100 meter. Meminta 1 round mortar."
[Diterima. Kordinat 05, 20 jarak 100 meter.]
Beberapa saat kemudian 3 ledakan muncul didekat sarang monster itu.
"Koreksi 50 meter ke kiri dan 10 meter ke utara. Full fire"
[Diterima, Full fire!]
Peluru mortar jatuh tepat di sarang monster itu, membuat monster-monster pergi dadi tempat itu. Ledakan terus terjadi hingga bangunan disekitarnya pun ikut hancur.
"Sepertinya itu bosnya..."
"Aku pikir juga begitu."
"Penjagaannya cukup ketat dan sepertinya dia sedang memberikan perintah."
"Hei Jean, kau pernah mengikuti kejuaraan sniper kan?"
"Ya, aku pernah ikut."
"Mau taruhan?"
Pimpinan regu itu hanya menggelengkan kepala melihat anak buahnya.
"Baiklah jarak kita dari mereka sekitar 300 meter, tembakan pertama kena kepala bos itu aku akan membayarmu dengan bayaran misi ini."
"Sungguh menggiurkan."
"Ya jika kau tidak bisa kau harus membayarku setengah saja gimana? Adil?"
"Oke deal."
Jean pun mulai mempersiapkan senjatanya dan mengambil posisi yang bagus. Ia mengecek bawahan bos monster dan pergerakannya.
Setelah mendapatkan posisi yang baik, ia langsung bersiap menarik pelatuk M24 miliknya. Ia menarik nafas yang dalam dan mengeluarkannya perlahan.
Ia pun menarik pelatuk senjatanya dan beberapa saat kemudian peluru itu tepat mengenai kepala bos monster. Para monster pun menjadi panik akan kematian bos mereka. Ada yang berlari ke arah gerbang dan ada juga yang langsung mencari penyebab bosnya mati.
"Ahahahaha kau lihat itu! Karena aku kasihan padamu jadi cukup bayar aku setengah saja oke."
"Sial, padahal kupikir kau akan meleset."
"Tidak ada yang bisa lari dari teropongku."
"Cih sombong kau."
"Sudahlah kalian berdua, ini waktunya kita jalan lagi."
""Baik pak!""
Kematian bos pertama membuat musuh menjadi lebih mudah dihancurkan.