
Disaat semuanya terkejut aku mulai berpikir, pasti ada sesuatu yang terjadi disaat aku sibuk membuat ini dan itu.
Aku pun melepas kaca mata dan jaket yang aku gunakan. Agak aneh melihat pakaian angkatan darat berada di anjungan kapal.
"Baiklah, Yamamoto. Aku rasa kamu memiliki laporan yang perlu disampaikan."
"Tentu Yang Mulia. Singkatnya setelah kapal-kapal mulai mengorganisir, kami menemukan sesuatu yang aneh. Itu lah sebabnya saya, Manstei dan Suigin menyetujui untuk memberikan nomor identitas dengan cepat keseluruh pasukan."
"Jadi apa yang aneh itu?"
"Seorang manusia ikan. Ia menyamar menjadi salah satu tentara kita."
"What! Apa yang kamu maksud itu yang memiliki bagian bawah ikan dan atasnya manusia!?"
"Ya itu benar Yang Mulia."
Tidak aku sangka manusia ikan akan langsung muncul begitu saja. Aku memang berpikir, mungkin kelautan akan sedikit terganggu karena suara mesin kapal. Tapi aku tidak menyangka seorang manusia ikan yang akan bereaksi duluan.
"Bagaimana cara dia menyamar?"
"Ia mengatakan pakaian yang ia kenakan berasal dari sisiknya. Dan itu ia tunjukkan di depan kami, walaupun ia tidak bisa merubah wajahnya tapi sisiknya dapat meniru pakaian orang lain."
"Aku mengerti... Jadi dimana manusia ikan itu berada sekarang?"
"Ia berada di ruang kapten, aku memintanya menunggu disana dan ia ditemani 2 perawat dari kapal ini."
"Kerja bagus, aku tidak ingin hubungan awal ke tempat ini harus lewat jalan kekerasan."
Akan sangat merepotkan jika manusia ikan melawan kami. Menurut mitos manusia ikan bisa memerintahkan ikan-ikan untuk membantunya. Jadi akan sangat merepotkan jika ikan besar seperti paus atau hiu raksasa menyerang. Atau lebih buruk lagi seekor Kraken yang sudah pasti bisa meremukkan kapal.
"Yamamoto aku ingin bertemu dengannya, bisakah kamu meminta bawahanmu untuk membawa dia kesini?"
"Tentu Yang Mulia."
Yamamoto langsung meminta salah satu anak buahnya untuk memanggilkan manusia ikan itu.
"Y-Yang Mulia, maafkan kami karena telah menangkap Anda."
"Saya sangat minta maaf saya tidak tau kalau itu Anda."
Tentara yang tadi menangkapku langsung sujud dihadapanku.
"Tidak apa-apa, aku tau itu tugas kalian. Kembalilah bertugas dan tetap semangat oke."
"T-terima kasih Yang Mulia."
"Yang Mulia saya memohon untuk dihukum oleh Anda karena tidak bisa mengetahui identitas Anda."
"Itu benar Yang Mulia. Tolong hukum kami."
Apa kalian itu maso?
"Baiklah jika kalian memaksa. Hukuman kalian adalah membuat kopi untuk diriku dan semua kru di ruangan ini."
"Baik Yang Mulia."
Mereka menjawabnya dengan serentak, tentara masochist. Sungguh aneh...
Selagi menunggu orang yang memanggil manusia ikan yang tadi dibicarakan, aku menuju sebuah peta yang tadi di lihat oleh Yamamoto. Ada beberapa poin hitam dan merah di peta itu.
"Yamamoto, apa kamu menandakan sesuatu di titik ini?"
"Ya Yang Mulia. Titik hitam adalah titik dimana kami menemukan penampakan manusia ikan. Sepertinya banyak dari mereka yang terganggu jadi mereka ke permukaan untuk melihat."
"Lalu yang titik merah ini?"
"Disana adalah tempat kapal patroli diserang, saya masih terus menyelidikinya. Apakah itu serangan dari manusia ikan atau berasal dari ikan yang agresif."
"Aku mengerti, lalu apakah kamu sudah menginterogasi manusia ikan yang ditangkap itu?"
"Sudah, tapi ia tidak mengatakan tempat dia tinggal. Ia hanya mengatakan kerajaan manusia ikan menjadi sedikit terganggu dan penasaran dengan permukaan."
"Sepertinya jawabannya akan kita dapatkan nanti."
Kemudian pintu pun terbuka dan masuk 2 orang, satunya adalah tentara yang tadi diminta Yamamoto. Dibelakangnya ada orang yang memiliki rambut biru, mata hijau yang sangat cantik, ditambah wajahnya yang tampan membuat wanita pasti kagum dengannya.
Orang itu masuk dengan bangganya seperti tidak punya sopan santun.
"Salam kenal, perkenalkan namaku Frantz."
Aku mengulurkan tanganku untuk berjabat tangan, tapi aku diabaikan olehnya.
"Oh jadi kamu petinggi dari orang-orang barbar ini? Ingat ini orang barbar, namaku adalah Reed Seadom. Aku seorang pangeran ketiga dari kerajaan Seadom yang menguasai lautan ini."
Bukankah itu berlebihan untuk mengatakan kami barbar? Walaupun kau seorang pangeran bukankah kau begitu menyebalkan dan sombong.
Belum pernah kena peluru kapal Yamato kah? Atau kau ingin kerajaanmu di hujani torpedo?
"Baiklah Reed."
"Oi, panggil aku Yang Mulia pangeran ketiga. Orang barbar sepertimu tidak berhak memanggil namaku langsung."
Sepertinya bukan hanya aku saja yang marah dengan bocah angkuh ini. Saking marahnya aku sampai ingin mengikat dia ke tiang di tengah laut, lalu menembaknya dengan kekuatan seluruh armada, biar sekalian bersih badannya.
"Apa kau menghinaku! Panggil aku Yang Mulia pangeran ketiga Reed! Namaku bukan Rod!"
"Seterah katamu Rid, disini ada peta. Dimana kerajaan sampahmu berada?"
"Kau!"
Ho dia sangat marah, memang hebat diriku. Membuat seorang bocah manja menjadi marah memang sangat menyenangkan.
"Seadom adalah kerajaan laut terhebat di lautan ini! Kami adalah penguasa dilautan ini! Dan kau menghina kerajaan kami sebagai kerajaan sampah!"
Sudah tidak bisa diharapkan dari nih bocah... Aku berbalik badan dan melihat karang besar dilautan.
Aku menemukan ide bagus.
"Yamamoto kirimkan pesan ke Yamato untuk mengarahkan meriam kubah 1 ke karang itu."
Perintahku sambil menunjuk ke karang yang berada hampir di tengah laut.
"Baik, Yang Mulia."
Yamamoto mengirim pesan ke Yamato sesuai dengan perintahku lagi. Sedangkan bocah yang berisik tadi bingung melihat kami.
"Target telah dikunci Yang Mulia."
"Bagus."
"Hoi apa yang kalian bicarakan!"
Tiba-tiba saja bocah itu berteriak lagi, mungkin ia tambah marah karena diabaikan.
"Ya ya ya, kau mau tau? Lihatlah karang besar itu."
"Huh!? Ada apa memangnya disana?"
"Aku akan menghancurkan karang itu."
"Itu tidak mungkin hahahah... Apa kamu bercanda?"
Tetaplah bangga seperti itu. Aku pun mengangguk dan Yamamoto langsung mengerti.
"Fire."
Setelah Yamamoto mengatakan itu suara dentuman sangat keras terdengar. Padahal kami berada di dalam ruangan yang hampir kedap suara.
Dan beberapa saat kemudia, karang yang aku tunjuk tadi meledak hingga tinggal bawahnya saja. Atasnya sudah hancur berkeping-keping.
Bocah itu tampak sangat terkejut dan bergetar hebat. Sepertinya dia sekarang sudah ketakutan.
"Bagaimana bocah? Hebat bukan itu cuman satu serangan. Aku masih bisa memberikanmu puluhan atau mungkin ratusan serangan yang serupa padamu atau kerajaanmu."
"A-aku tidak takut. Itu hanya serangan yang sangat kecil. Kerajaanku sangat kuat dan kalian tidak akan pernah mengetahuinya!"
"Hoya? Kalau begitu aku akan mengikatmu ke tiang dan melemparmu ke laut. Lalu aku akan menyerangmu dengan serangan kecil tadi. Hmmm... Kecil ya, kalau begitu 10x serangan yang tadi, gimana? Apa kamu tertarik mencobanya Yang Mulia Pangeran Ketiga Reed Seadom?"
Tentu saja ancamanku membuat semua orang gemetar takut. Mungkin mereka berpikir kalau aku berlebihan.
"A-aku tidak akan takut!"
"Tenang saja tidak sakit kok. Bahkan paling tidak tubuhmu tidak akan dimakan ikan. Bukankah aku baik?"
Hehe bukankah aku terlihat seperti tokoh antagonis dalam film dan komik?
"A-aku tidak takut dengan ancamanmu! Kerajaan Seadom adalah kerajaan terkuat di lautan ini."
Huh nih bocah gak tau kapan menyerah.
"Ikat dia ke tiang dan buang ke laut."
Tentara yang dibelakang manusia ikan itu pun langsung melempuhkan di ke lantai dan mengikat tangannya.
"T-tunggu! A-aku akan mengatakannya! Jangan bunuh aku!"
"Nah begitu kan lebih baik. Kenapa tidak dari awal, Rud."
Reed menangis di lantai, apa aku berlebihan?
"Lepaskan dia, biarkan dia memberitahu tempatnya."
Ikatan pun dilepas dan Reed kembali berdiri, namun ia masih mengeluarkan air mata. Sepertinya dia sudah sangat ketakutan.
Ia pun melihat peta dan terdiam sebentar. Lalu ia membuat lingkaran biru pada peta.
Lingkaran biru itu tepat berada di antara pulau ini dengan pulau utama di seberang. Ia juga membuat tanda silang di beberapa tempat, gambar silang itu tidak jauh dari titik merah di berbagai tempat. Mungkin itu pos pertahanan mereka.
Sungguh penempatan yang unik...
Setelah menggambar tanda, Reed dibawa tentara keluar dan di kembalikan ke ruangan kapten.
Inilah sebabnya aku malas berurusan dengan bocah arogan yang sombong...