
"Yamamoto, persiapkan Armada 1. Kita akan mencoba berkomunikasi dengan mereka."
"Baik Yang Mulia."
Setelah memberi perintah itu aku keluar ruangan, lalu menuju ke ruang kapten untuk menemui bocah sombong tadi.
Sesampainya disana ia terkejut melihaku masuk.
"Apa yang kau mau! Aku sudah memberitahumu semuanya!"
"Tidak ada, aku hanya ingin mengobrol denganmu saja."
"Tcih memangnya aku percaya."
Aku melambaikan tangan dan tentara yang berada di ruangan ini pun keluar.
"Lihat sekarang sudah tidak ada orang, hanya kau dan aku disini."
"Apa yang kau mau..."
Dia terlihat ragu, sepertinya ia masih takut dengan ancaman tadi.
"Aku ingin kamu untuk menjadi penengah antara Kerajaan Seadom dan negaraku."
"Apa maksudmu?"
Apa nih orang bodoh? Jadi penengah aja masih bertanya lagi.
"Jadi begini, aku ingin kamu untuk memberitahu kerajaanmu tentang kerajaanku. Kau boleh saja memberitahu tentang kapal ini dan serangan yang tadi kamu lihat."
"Bukankah itu akan merugikanmu? Jika kau membebaskanku, apa kau tidak takut aku akan menyebarkan kelemahan Kerajaanmu?"
"Apa kau yakin kau bisa mengalahkan kerajaanku?"
Bocah itu terdiam...
"Jika kau memiliki keberanian untuk menyatakan perang dengan negaraku, tentu saja aku akan melayani kalian dengan BAIK."
"Siapa takut dengan kerajaan kecilmu ini."
"He sepertinya kau memang belum mengerti. Aku memiliki serangan yang lebih besar dari serangan tadi. Aku tidak bisa menunjukkannya padamu karena mungkin itu akan menghancurkan lautan."
"Memangnya aku percaya..."
Tidak ada bukti memang merepotkan. Tunggu aku ada ide.
"Aku akan menunjukkannya padamu."
Aku pun keluar ruangan.
"Yang Mulia apa Anda sudah selesai?"
"Belum, bocah itu sangat angkuh. Apa hpmu smartphone?"
"Ya, Yang Mulia."
"Kalau begitu aku pinjam sebentar."
"Tentu Yang Mulia dengan senang hati."
Tentara itu langsung memberikan hpnya padaku.
"Terima kasih."
Aku kembali ke dalam lalu membuka hp itu. Hpnya tidak dikunci jadi aku langsung membuka video online. Aku mencari video ledakan nuklir dan langsung ketemu.
Aku pun memperlihatkan video ledakan besar itu ke bocah sombong tadi.
"Tidak mungkin... Kau pasti bohong..."
"Coba saja jika kau berani, kau harus mengakui negaraku lebih kuat dari kerajaanmu. Kami memiliki teknologi, kekuatan dan ilmu yang lebih tinggi dari kerajaanmu."
Bocah itu menunduk malu, sudah saatnya kau dewasa. Lihatlah dunia luar yang begitu kejam.
"Mudah saja untuk orang yang memiliki otak kecil sepertimu. Jika kita berperang dan aku yang menang, kau akan kehilangan kedudukanmu sebagai pangeran dan tidak akan memiliki banyak harta. Kau juga tidak akan bisa bermain dengan perempuan lagi."
Berkat kata-kataku, mental bocah itu semakin down. Sangat mudah menurunkan mental bocah manja seperti dia.
"Baik... Baik! Aku akan melakukannya. Jangan menghancurkan kerajaanku..."
"Begitu kan lebih baik. Jadi begini tugasmu..."
Aku menjelaskan tugas yang akan dia lakukan saat pertemuan. Dia akan berada di depan memimpin armada 1 untuk bertemu dengan penjaga yang akan mengawasi wilayah.
Dia mengatakan setiap pos akan memiliki semacam alat komunikasi untuk ke istana. Jadi untuk lebih mudahnya dan menghindari sesuatu yang tidak diinginkan, aku memutuskan armada 1 untuk menunggunya di perbatasan.
Setelah sampai di perbatasan, bocah itu akan mengabari istana dan membujuk mereka agar tidak menyerang kami dan menerima tawaran kerja sama kami.
Setelah membicarakan rencana itu, aku keluar ruangan. Aku mengembalikan hp yang tadi aku pinjam.
Tentara itu meminta untuk foto bersama denganku dan rekannya. Aku dengan mudah menyetujuinya. Ya tidak ada masalah bukan, jika hanya foto?
Disana aku langsung disambut, petugas semuanya memberikan hormat. Sepertinya mereka semua sudah siap.
"Yamamoto, apa semua sudah siap?"
"Ya Yang Mulia. Armada Rogne Forte No. 1 sudah siap menerima perintah. Persedian telah diisi, kami siap berlayar kapanpun Anda mau."
"Bagus... Kalau begitu aku akan ke kapal Yamato. Menaiki kapal itu sudah menjadi impianku sejak dulu."
"Apa kau ikut bersamaku?"
"Maaf Yang Mulia, saya harus memimpin dari sini. Jadi kapten Kosaku akan menemani Anda disana."
Menjadi seorang admiral memang sulit ya, ia tidak bisa terus berpindah-pindah kapal.
"Baiklah, aku akan kesana. Kau sudah mengetahui rencananya kan?"
"Ya, Yang Mulia. Kita akan menggunakan pangeran ketiga itu untuk menjadi tawanan agar mereka ingin bekerja sama dengan kita."
"Mungkin akan berlebihan jika membawanya sebagai tawanan. Tapi aku percayakan itu padamu."
"Terima kasih Yang Mulia."
"Oh ya, biarkan kapal Yamato tidak ikut misimu. Aku ingin berlayar ke seberang sana dengan Yamato. Jadi kau akan melakukan negosiasi tanpa diriku."
Yamamoto terdiam sesaat, ia memegang dagunya dan mungkin sedang berpikir.
"Baik Yang Mulia. Anda bisa pergi dengan kapal Yamato. Sebuah Cruiser dan 2 destroyer akan berlayar bersama Anda."
"Terima kasih Yamamoto. Aku serahkan itu padamu, aku pergi dulu."
"Ya! Sampai bertemu lagi Yang Mulia."
Aku pun pergi meniggalkan ruangan itu. Diikuti oleh 2 orang tentara, omong-omong tentara yang mengikutiku sekarang adalah tentara yang tadi menangkapku.
Sampai akhirnya aku tidak meminum kopiku. Padahal aku sudah melihatnya ada di atas meja. Yasudahlah nanti saja, mungkin di kapal Yamato aku akan mendapatkannya.
Membutuhkan waktu 15 menit lebih untuk ke kepal Yamato saja. Padahal kapal ini berlabuh sampingan dengan kapal Gerald R Ford. Di kapal Yamato aku disambut dnegan hangat dan penuh dengan kehormatan.
Sebuah kapal yang dinaiki oleh pemimpin negaranya memang sebuah kehormatan tertinggi. Seperti kapal itu sudah diberi kepercayaan untuk membawa pemimpin negaranya.
Dalam anjungan kapal, kapten Kosaku Aruga langsung memberikan penghormatan padaku. Semua awak kapal yang di anjungan juga memberikanku hormat.
Aku membalasnya hanya dengan anggukan, lalu mereka kembali bekerja.
"Selamat datang Yang Mulia, Admiral Yamamoto sudah mengatakan semuanya. Sekarang kami siap menerima perintah Anda."
"Sepertinya sudah tidak perlu di jelaskan lagi. Kalau begitu kita akan berlayar sekarang."
Setelah aku mengatakan itu, semua sektor kapal langsung ramai. Mereka langsung menyiapkan keberangkatan. Mulai dari mesin yang mulai menderu keras dan berbagai mesin lainnya.
Disaat kami masih memulai mesin dan lain-lain, aku melihat armada 1 sudah mulai meninggalkan pelabuhan.
'Semoga kalian baik-baik saja.'
Ucapku dalam hati melihat kapal Gerald R Ford meninggalkan dermaga.
Setelah kapal Gerald R Ford semakin mengecil dari pandangan, akhirnya semua kami siap untuk berangkat.
Yamato ditarik oleh sebuah kapal destroyer.
"Oh ini hebat."
Aku tersenyum dan berteriak tanpa sengaja. Rasa senangku lepas begitu saja tanpa aku sadari.
Aku begitu malu, karena terlihat seperti anak kecil yang akhirnya mendapatkan mainannya yang diinginkan.
"Ehem... Kalian hebat, lanjutkan saja tugas kalian."
Selesai mengatakan itu seketika aku merasakan semangat yang tinggi dari para awak kapal. Apa aku melakukan hal yang salah?
Kami semakin jauh meninggalkan pelabuhan. Pulau besar itu sekarang hanya sebuah titik dari tempat kami.
"Semuanya, kita akan mengadakan upacara."
Kapten Kosaku berbicara ke semua awak. Apakah ini upacara untuk berdoa bersama dan memberikan semangat berlayar?
Kami pun turun dari anjungan menuju dek depan kapal. Kami menyisakan beberapa personil untuk memegang kendali di anjungan.
Kita lewati aja semua itu, kami melakukan upacara juga seperti perkiraanku tadi. Yaitu membaca doa bersama dan memebrikan motivasi pada awak kapal. Kali ini aku hanya duduk saja melihat mereka.
Disaat aku diminta untuk bersuara, aku menolaknya. Tapi aku memberikan beberapa pesan ke Kosaku untuk menyampaikan kata-kataku.
Setelah upacara mereka kembali ke posisinya masing-masing. Sedangkan aku melihat lautan dari depan kapal battleship ini. Jika kalian pernah menonton titanic, itulah pemandangan yang saat ini aku lihat. Bedanya di titanic terlihat romantisnya sedangkan ini terlihat seramnya.
Karena ini adalah salah satu battleship terbesar yang pernah dibuat. Dengan persenjataanya yang banyak dan tentaranya yang terlihat sangat bersemangat, membuat kapal ini terlihat sangat menakjubkan dan juga menyeramkan.
Kopiku? Aku sampai sekarang bel