My Free Life In Another World

My Free Life In Another World
Make The Second Palace



*** POV Frantz ***


"Huaaa..."


Aku terbangun dari tidurku yang nyenyak. Cahaya matahari yang melewati celah dedaunan telah membangunkan tidurku.


'Sejak kapan aku tertidur?'


Aku pun bangun lalu duduk.


'Alice masih tidur. Dia juga pasti lelah meminjamkan pahanya untuk jadi bantalku.'


Aku melihat jam tanganku dan ternyata sudah hampir jam 1 siang. Sekitar 1 jam lebih aku tertidur. Itu cukup melepaskan semua stressku belakangan ini.


Dimana Manstein dan yang lainnya? Apa mereka mengurus sesuatu?


Aku melihat sebuah tas disamping Alice. Aku pun mengambil tas itu dan membukanya. Ternyata tas itu berisi rancangan tempat. Dari Gedung pemerintahan, gudang, barak, rumah sakit dan lain sebagainya.


Setelah melihat-lihat, aku kembali mebereskan kertas-kertas itu.


Ini cukup banyak...


Sepertinya proyek gedung sedang istirahat. Aku ingin kesana dan melihat tapi Alice sedang tidur.


Biarkan dia beristirahat dulu, aku akan meminta seseorang untuk menjaganya. Sebelum aku pergi aku membuat sebuah bantal dan karpet.


Lalu aku memindahkan Alice ke atas karpet dan kepalanya aku berikan bantal. Saat dipindahin Alice hanya bergerak sedikit, aku rasa ia kelelahan.


Setelah itu aku pun pergi ke gedung pemerintahan yang sedang dibangun. Aku menemui seorang tentara yang aku kenal.


"Smith!"


"Yang Mulia, senang bertemu dengan Anda lagi."


"Ya, oh ya Smith dimana ken?"


"Biasanya dia ada disana."


Smith menunjuk sebuah tenda istirahat. Itu tenda sudah seperti warung kopi saja.


"Yaudah kalau begitu aku yang kesana. Kau tolong jaga Alice untukku."


"Baik Yang Mulia."


Smith langsung pergi setelah aku menunjuk Alice yang sedang tertidur dibawah pohon.


Sedangkan aku menuju ke tenda yang tadi ditunjuk Smith. Sesampainya disana aku melihat Ken yang sedang meminum kopi.


"Ken."


Aku menepuk bahu Ken sehingga membuatnya terkejut.


"Yang Mulia!"


"Tidak sampai segitunya kali."


"Mengapa Yang Mulia kemari?"


"Aku ingin minta tolong padamu."


"Sebuah kehormatan mendapat permintaan Yang Mulia."


"Bukankah kau berlebihan? Aku kan dulu pernah bilang jangan berlebihn memanggilku seperti itu."


"Anu... Disini memang sepi tapi ini masih di ruang umum. Kalau saya sangat akrab dengan Anda, mungkin besok kepala saya ada di atas tiang bendera."


Aku pun hanya diam saja. Smith dan Ken adalah pengawalku sejak berada di pulau melayang. Mereka sudah seperti sahabat bagiku.


Mereka terpilih untuk terjun ke pulau X ini. Sepertinya disini mereka juga menjadi atasan dari beberapa orang.


'Gelap juga candaannya.' ucapku dlaam hati setelah mendengar kata-katanya Ken.


"Yasudah langsung ke intinya saja. Bisa kamu semua orang menjauh dari tempat pembangunan gedung pemerintahan?"


"Ya serahkan saja pada saya."


"Bagus, kalau begitu mohon bantuannya."


Ken langsung menenggak kopinya dan berlari keluar. Tuh kopi perasaan masih dia tiup tadi. Kok bisa langsung di tenggak, terus ampasnya kok ilang banyak? Apa dia juga menenggak ampas kopinya.


Tabku ada dimana ya? Apa tertinggal di pesawat? Tapi selama ada rancangan ini aku tidak perlu menggunakan tab, lagipula apa tab itu berguna untuk membuat sesuatu di luar pulau melayang?


Beberapa menit kemudia Ken datang kepadaku.


"Bagus, kemana para pekerja?"


"Mereka berkumpul di depan untuk melihat kemampuan Anda, Yang Mulia."


"Yasudah biarkan saja."


Aku mengeluarkan kertas rancangan pembangunan gedung pemerintahan. Sekilas gedung ini mirip dengan gedung Schonbrunn Palace dari negara Austria, di bumi. Walaupun terlihat sederhana, tapi sangat mewah dan seperti labirin.


Setelah melihat rancangan ini aku memutuskan untuk membuat istana negara di hutan tropis itu seperti istana Buckingham. Sebuah istana yang berasal dari United Kingdom atau biasa dikenal Inggris sangat terkenal di bumi.


"Huaaa ramenya. Apa ada konser disini?"


"Itu karena Yang Mulia ingin menampilkan bakatnya. Jadi mungkin beritanya sudah tersebar."


"What the hell."


"Yang Mulia adalah idola mereka jadi ya... Semangat."


"Apa kau meledekku?"


"Itu tidak mungkin Yang Mulia. Saya hanya mengatakan yang SEBENARNYA."


"Bodo ah, bekerja lebih baik."


Aku pun tidak mempedulikan candaan Ken dan melihat rancangan. Aku mulai membayangkan sebuah gedung yang seperti dirancangan muncul dihadapanku. Membuat dengan otak ternyata sangat rumit dibandingkan membuatnya dengan tab yang hanya tinggal meletakkan apa yang kita buat.


Aku membuat gedung secara perlahan, mulai dari bagian depan, ke tengah lalu terakhir bagian belakang. Aku juga membuat perlindungan bawah tanah dan membuat jalur pelarian? Sepertinya pas untuk sebuah kereta cepat.


Setelah semua dibuat aku mendengar tepuk tangan yang sangat meriah. Inikan bukan konser, kenapa mereka sudah seperti habis nonton konser?


"Ken ambilkan aku minum."


Kepla sangat pusing, bagaimana cara arsitek menghitung semua rancangan ini ya. Satu rancangan saja sudah membuatku sakit kepala.


Sepertinya aku memang butuh bantuan tab agar lebih mudah. Jika menggunakan tab,aku berasa seperti super cheater yang sedang bermain simulasi pembangunan kota.


Kekuatan sihir tidak terbatas dan mudah membuat bangunan. Sungguh cheat yang luar biasa.


Di dunia fantasi seperti ini dan aku yang tidak terlalu tertarik dengan sihir tentu saja memerlukan teknologi super untuk membantuku. Walaupun dengan teknologi modern, sihir tetaplah hebat.


Bagaimana cara naga bisa menyemburkan api? Tulang saja berjalan bahkan bisa menyerang manusia. Liat laporan yang semalam itu cukup mengejutkan.


Aku tidak menyangka monster akan mengalahkan teknologi.


"Yang Mulia ini airnya."


"Terima kasih."


"Yang Mulia, sepertinya Anda harus melihat ke belakang."


"Huh?"


Aku pun menoleh ke belakang. Ternyata ada Alice yang memiliki wajah semerawut. Oh shit pasti dia kesel.


"A-alice, jadi kamu sudah bangun hehe."


"Ya berkat dirimu aku terbangun."


"Hehehe maaf. Aku tidak bermaksud untuk membangunkanmu kok."


"Aku tau itu. Apa kamu lelah?"


"Ya aku sangat lelah. Peluk aku dong."


Aku pun berniat memeluknya, tapi Alice malah mundur dan menghindar dariku. Tentu saja aku menjadi tertawaan semua orang. Aku tau mereka menahannya, tapi aku masih bisa merasakan mereka menertawakanku.


"Kenapa?"


"Ini di depan umum, kau adalah seorang Raja, bodoh."


"Tidak apa lah, orang-orang aja bisa berpelukan di taman."


Aku berniat membalas para tentara yang sudah membuatku kesal dengan sedikit menambah garam. Karena disini banyak tentara yang pasangannya berada di pulau melayang.


"Tidak."


Setelah mengatakan itu Alice langsung pergi. Sebuah kata-kata dan tindakan yang akan membuat orang malu seumur hidup. Karena itu semua orang pun jadi tertawa lepas, setelah melihatku diacuhkan.


Ken bahkan tertawa dibalik tangannya. Aku bisa melihatnya dengan jelas dan kau tidak perlu menutupinya, Ken.


Sialan, aku akan membuat laporan ke Manstein untuk menambah berat pelatihan mereka. Mungkin lebih baik setelah semua beres, baru mereka mendapat hukuman.