
Disinilah aku sekarang, di sebuah pulau kecil bersama dengan para tentara. Kami memancing dan menyelam.
Aku tak menyangka pulau ini memiliki pesisir yang airnya dangkal jadi karang dan ikan terlihat jelas.
Kami bersenang-senang di pulau ini, beberapa tentara ternyata ada yang berpacaran, walaupun mereka bertugas di kapal berbeda, tapi dengan kebebasan sehari ini mereka bisa bersama. Jadi tentu saja itu membuat tentara yang lain menjadi iri.
"Yang Mulia, sarapan Anda sudah jadi."
"Ah terima kasih, apa yang lain juga sedang makan?"
"Ya semua orang sedang makan di pantai. Berkat Anda mereka sangat senang dan moral mereka meninggi."
"Sepertinya keputusan kita tepat, teror semalam sudah membuat mereka cukup mengalami mimpi buruk."
"Jadi Yang Mulia sudah tau itu... Maafkan kami karena membuat Anda khawatir."
"Tidak apa, itu sudah tugasnya pemimpin untuk mengetahui keadaan bawahannya."
"Anda memang pemimpin yang sangat bijak."
"Sudahlah ayo kita keluar dan bergabung."
Aku mengambil piring dari tangannya dan keluar tenda. Aku pun bergabung dengan tentara yang lain.
Ada beberapa tentara yang menampilkan kemampuan dan keterampilan mereka. ada yang menari, bermain alat music, sampai keahlian bela diri.
Walaupun aku makan bersama mereka, mereka tetap menjaga dariku. Aku diberikan tempat duduk khusus.
Kami terus bersenang-senang sampai siang.
*** POV 3 ***
"Apa masih belum ada kabar?"
"Belum pak!"
"Ini sudah jam 10 target kita, minggu ini kita harus kembali ke pangkalan."
[Bagaimana jika mengirim patroli? Permukaan dan di bawah permukaan?]
Kapten Erns berbicara melalui radio. Saat ini memang radio sedang aktif dan menghubungkan semua kapal di Armada 01. Kapten Erns adalah kapten dari kapal Bismarck, bisa dibilang dia adalah komando kedua dari Armada 01.
"Sepertinya kau benar, tapi akan berbahaya jika kita mengirim kapal selam karena mereka itu buta."
[Anda benar Admiral, kapal selam hanya bisa melihat radar. Teleskop akan rusak jika digunakan di bawah permukaan laut.]
[Lalu apakah ada saran?]
[Kenapa tidak memberikan mereka pertunjukkan. Seperti membuang depth charge atau melontarkan hedgehog?]
"Yang Mulia akan marah jika kita menggunakan ancaman pada mereka."
Yamamoto mencoba untuk menggunakan cara yang aman dan tanpa menggunakan kekerasan. Para Kapten juga memikirkan hal yang terbaik.
[Bagaimana kalau kita meluncurkan peledak dan membuat mereka keluar. Lalu jika mereka kita akan mengatakan kepada mereka kalau kita sudah menunggu dan ledakan tadi merupakan peringatan karena telah menghina Yang Mulia.]
[Aku setuju.]
[Bismarck juga setuju dengan itu.]
[Aku juga setuju, aku tidak akan memaafkan orang seperti itu.]
[Unit kapal selam semua setuju, bagaimana keputusan Anda, Admiral?]
"!!!"
Yamamoto benar-benar terkejut dengan tanggapan cepat para kapten. Ini sebuah masalah yang merepotkan.
Tapi Yamamoto sebenarnya juga setuju dengan saran itu. Ia hanya terbebani pikiran, bagaimana jika terjadinya perang. Armada 01 akan sedikit mengalami kerugian, tapi kerugian tetaplah kerugian. Jika hanya kerugian material itu tidak masalah, beda halnya jika banyak orang yang tewas karena peperangan.
[Admiral kami menunggu keputusan Anda...]
Kapten Erns memecah pikiran Yamamoto, lalu keheningan terjadi sesaat.
"Baiklah aku menyetujuinya."
[Bagus!]
[Mari kita perlihatkan pada mereka!]
[Kami sudah siap meluncurkan bom kapan saja.]
Radio menjadi ramai, bukan hanya suara kapten saja yang terdengar.
"Man battle stations!"
[Man battle stations!]
Yamamoto dan Kapten Erns berteriak bersamaan. Seketika itu juga alarm berbunyi.
{This is not drill, this is not drill. General Quarters, General Quarters. All hands man your battle stations. The route of travel is forward and up to starboard, down and aft to portside.}
Alarm yang sama berbunyi di semua kapal. Semua orang langsung pada posisi mereka.
"Kita tunjukkan pada mereka! Destroyer luncurkan depth charge dan hedgehog di titik merah."
Mereka terkejut mendengar perintah Admiral Yamamoto, tapi mereka tetap menjalan perintah sesuai intruksi. Mereka tau titik merah adalah markas musuh, hanya saja mereka tidak menyangka Admiral memerintah mereka untuk ke titik merah. Sudah pasti itu akan menghancurkan markas musuh jika tepat sasaran.
"Ledakan pertama, kedua, ketiga dan kelima tepat sasaran. Mereka bergerak!"
"Cepat ikuti pergerakan mereka, jika mereka bergerak maka akan lebih mudah terdeteksi."
Di dalam anjungan sangat ramai namun teratur. Seakan mereka sudah berlatih ratusan kali dan terbiasa.
"Pak, panggilan dari kapal selam nuklir 1, Seawolf."
"Sambungkan..."
"Hmmm..."
Mark 48 adalah torpedo dengan daya ledak yang sangat besar. Dan itu sangat mematikan bagi kapal-kapal. Jika pos mereka bergerak, itu sudah seperti kapal selam. Jadi Mark 48 memang cocok untuk itu. Namun dampaknya kemungkinan adalah kehancuran total pos musuh.
Yamamoto terdiam beberapa saat, lalu menjawab dengan nada rendah.
"Izin diberikan..."
[Yes sir! Torpedo diluncurkan. 4 torpedo menuju target.]
....
[Ledakan dalam 15 detik]
...
[10]
...
[5]
[4]
[3]
[2]
[1]
[Semua torpedo tepat sasaran, mencari target.]
Muncul gelembung besar tidak jauh dari akibat ledakan dibawah air.
Karena radio dari Seawolf terhubung ke semua kapal, semua orang menjadi tegang menunggu hasil pencarian musuh.
[Target tidak terdeteksi... Target berhasil dimusnahkan.]
Semua orang sudah pasti senang mendengar itu, tapi berbeda dengan beberapa kapten kapal. Seperti Yamamoto, Kapten Erns dan beberapa orang yang hanya diam saja.
Bukannya mereka senang ataupun sedih, mereka hanya sudah tahu kalau hasilnya akan seperti yang terjadi saat ini. Dan Yamamoto bertanya-tanya apakah yang ia lakukan itu benar.
Sedangkan di istana kerajaan bawah air, dilanda kepanikan karena pos terdepan mereka dinyatakan telah hancur. Sudah pasti banyak prajurit yang menjadi korban akibat ledakan itu.
"Yang Mulia ini sangat buruk!"
"Kita harus membalas mereka Yang Mulia! Tolong izinkan kami melawan!"
Kerajaan Seadom memang tidak memiliki tingkat kebangsawanan, mereka hanya mematuhi perintah raja. Walaupun begitu banyak penasehat yang menggunakan kekuasaannya untuk hal buruk.
Bangsawan ataupun pejabat sama saja, mereka sama-sama suka menggunakan kekuasaannya untuk hal buruk.
"Diam!"
Raja Triden sudah tidak sanggup menahan emosinya. Ia sadar kalau dirinya sedang di adu domba oleh para penasehatnya.
Lau suasana pun menjadi hening. Namun keheningan itu dirusak dengan terbukanya pintu ruangan dengan sangat keras.
"Yang Mulia! Sang Leviathan memberi kita pesan!"
"Apa!"
"Tuan Leviathan?"
Sudah pasti itu membuat kericuhan di dalam ruangan. Mungkin sudah sepuluh tahun sejak terakhirnya Leviathan memberikan sabdanya pada ras manusia ikan. Bagi ras manusia Leviathan adalah dewa mereka jadi sabda atau pesan darinya adalah sesuatu yang harus di besarkan.
"Tunggu... Apa itu benar?"
"Semua pendeta di kuil juga mendapat pesan yang sama. Jadi sudah dipastikan kebenarannya."
Mereka semua tambah terkejut. Bahkan pesan tentang bencana besar hanya sampai 3 orang saja yang menerimanya.
Dan ini adalah pertama kalinya sejak ratusan tahun yang lalu.
"Bacakan pesan itu."
Raja berdiri dari tempat duduknya lalu berlutut. Semua orang yang berada di ruang tahta juga ikut berlutut. Itu merupakan kewajiban yang sudah diturunkan sejak zaman dulu saat pesan Leviathan akan dibacakan.
Pesan itu lalu dibacakan oleh salah satu tetua di sana.
"Aku hanya akan memberikan kalian peringatan, walaupun sepertinya aku telat memberikan kalian itu. Raja mereka bukanlah orang yang bisa kalian singgung. Jika dia merasa terganggu dengan kalian, bahkan diriku tidak akan bisa membantu kalian."
Tetua manusia ikan membaca sambil gemetar, ia sudah berumur 167 tahun dan ia sudah melihat berbagai pesan dari Leviathan. Tapi ini pertama kalinya bagi dia sampai takut dengan peringatan yang ada di pesan itu.
Semuanya pun berdiri dan tidak mengeluarkan sedikit pun suara. Para penasehat yang sebelumnya berteriak mengajukan perlawanan juga tidak bisa berkata sesuatu.
"Y-yang Mulia..."
Begitu juga Raja Triden, ia merasakan stres yang berkali lipat. Setelah mendengar pesan itu ia tersadar dengan perlakuan putranya.
"Sepertinya kita semua sudah terlambat..."
"A-apa maksud Anda, Yang Mulia?"
"Putra ketigaku sudah menghina dan berbuat hal yang buruk tepat berada dihadapan Raja mereka."
Sontak semuanya menjadi tegang dan bergemetar. Mereka mulai mengalihkan kesalahan itu kepada pangeran ketiga.
"Lalu dimana pangeran ketiga?"
"Ya kami belum mendapat kabar darinya."
"Yang Mulia apa kau menyembunyikan pangeran ketiga?"
Raja Triden terdiam dan tidak bisa menanggapi para bawahannya.