My Free Life In Another World

My Free Life In Another World
Kapten Sanada



*** POV Kapten Sanada ***


Namaku Sanada, aku adalah seorang perwira angkatan udara Rogne Forte. Saat ini aku sedang menuju Kota Fayden yang menurut informasi pengintai kota itu sedang diserbu oleh ribuan monster.


Aku tau betapa mengerikannya para monster itu. Mereka tidak hanya membunuh dan memakan rekan-rekanku tapi juga membawa lalu memperkosa para wanita.


Junior yang selalu mengikutiku saat kami di akademi juga menjadi korbanya. Saat ini ia sedang bersama dengan unit rehabilitasi.


Sejak melihat juniorku yang trauma, aku langsung bersumpah akan melindunginya dan menghancurkan apapun yang dapat membahayakannya. Seketika itu juga aku memiliki dendam yang amat dalam pada para monster, lebih tepatnya monster berbentuk babi itu.


Dendam itu akhirnya terwujud sekarang. Kami mendapat kabar kalau Kota Fayden sedang dalam penyerbuan monster. Yang Mulia Frantz, sepertinya sangat kesal kepada dirinya sendiri. Aku tidak tau ia kesal kenapa tapi yang aku tau ia memerintah para atasan untuk membantu warga sipil yang terkena dampak serbuan monster.


Ya disinilah aku sekarang, di dalam helikopter blackhawk bersama dengan rekanku.


Squad udara kami berjumlaah 10 helikopter yaitu 5 tipe UH-1 Huey, 3 tipe UH-60 Blackhawk, 2 tipe AH-64 Apache. Kami adalah satuan dari air attack squadron. Kami juga bisa mendapat bantuan udara, bantuan artileri dan unit darat jika diperlukan.


Para petinggi saat ini pasti sangat ketakutan. Karena Yang Mulia Frantz dijadwalkan akan tiba esok pagi. Itulah kenapa kami air attack squadron dikerahkan malam ini.


"Hei kapten! Kau terlihat sangat bersemangat ya!"


"Tentu saja!"


"Apa kau kesal karena junior kesayanganmu diserang monster!?"


"TUTUP MULUT BUSUKMU ITU!"


Kami berbicara dengan keras, mesin helikopter yang sangat berisik menggangu pendengaran kami.


"Hahaha tak perlu marah kapten! Dia hanya bercanda!"


"Kami akan membantumu pak!"


"Ya mari kita bantai para bajingan itu!"


Semua personil memiliki amarah yang tinggi kepada para monster. Tidak aneh jika mereka sangat marah. Karena aku juga seperti itu.


[All unit get ready... Target insight... Gentlemen prepare yourself...]


"Hahaha kau dengar itu, Kapten."


Sarah... Aku akan menghancurkan mereka untukmu...


Pintu helikopter dibuka dan aku memegang senapanku lalu duduk di pinggir.


"Putar musiknya!"


Lagu pun diputar bersamaan di semua helikopter. Lagu Ride Of The Valkyries, lagu yang digunakan untuk meningkatkan motivasi para tentara.


[Target on fire range!]


Aku melihat 2 pesawat Apache langsung keluar dari formasi dan menyerang menggunakan roket dari sayap helikopter.


Ledakan demi ledakan terjadi, karena roket Hydra 70 tidak memiliki kendali jadi serangan yang disebabkan sangat acak. Persenjataan roket Hydra sangat cocok untuk pembantaian seperti ini.


Kami pun juga mulai menembaki monster-monster yang berada di bawah. Rekanku menggunakan GAU-19 yang terdapat pada sisi helikopter. Mereka dengan bangganya menembak dengan acak kebawah.


Sang pilot juga menggunakan kemampuan tempurnya memanuver helikopter dan menembak musuh menggunakan M230.


"Hahaha aku sudah dapat 20!"


"Baru 20 saja sudah sombong, kau tidak ada apa-apanya dibandingkan Cedric!"


"Hei itu berbeda!"


Semuanya dengan bahagia membantai para monster. Karena dari atas dan menggunakan nightvision, aku tidak terlalu jelas melihat para monster itu. Aku hanya tau beberapa monster sudah tidak memiliki bagian tubuhnya, ada yang tidak memiliki kepala, tangan, kaki lebih buruknya ada yang hancur lebur.


Hmmm... Kalau tidak salah Cedric tuh pilot Apache. Jadi tidak salah kalau dia memiliki kill count terbanyak.


Kami terus membersihkan bagian hingga depan benteng. Aku tidak melihat satupun orang yang mempertahankan benteng. Apa mereka sudah mundur?


Semua helikopter pun menyalakan lampu sorot untuk melihat benteng. Kali ini benar-benar terlihat kalau belum lama ini telah terjadi pertempuran besar di sekitar benteng.


'Wah ini sangat mengerikan. Sepertinya aku sudah sangka...'


Kami pun membersihkan sisa monster yang berada di sekitar benteng dan di atas benteng.


"Entah kenapa aku mulai menyesal..."


"Apa kau mengatakan sesuatu kapten!?"


"Tidak, bukan apa-apa."


Jawabku sambil menggelengkan kepala. Ya entah kenapa perutku merasa mual melihat daging berserakan dibawah. Aku yakin orang biasa akan merasa muak dan langsung muntah. Bayangkan saja ada banyak daging, darah dan dalaman tubuh yang berserakan dimana-mana. Intinya ini adalah pembantaian...


Setelah menyelesaikan pembersihan di luar benteng kami mulai menyusuri dan membersihkan monster yang ada dalam benteng.


[Ini Apache 1, kami menemukan manusia yang terluka disini. Membutuhkan unit medis.]


[Disini Blackhawk 2, kami akan segera kesana.]


Obrolan pilot Apche 1 dan helikopter kami terhubung dengan speaker, jadi kami juga bisa mendegarnya.


"Oke guys, kalian dengar itu. Sepertinya ada orang yang masih hidup di kelilingi monster... This is our time!"


Kami langsung menuju lokasi kordinat Apache 1. Aku melihat sesuatu seperti angin ****** beliung, namun memiliki bentuk kubah. Itu jelas aneh...


Kami pun sampai tepat diatas kubah itu, namun tiba-tiba kubah itu menghilang dan terlihat jelas seseorang yang sedang terluka parah.


"SHIT! Dia terluka parah. Drop the medic!"


Helikopter kami merendahkan ketinggian sekitar 3 meter dari permukaan tanah.


Aku dan rekan-rekanku melompat dari helikopter dan menghampiri korban. Dokter langsung memeriksa korban, sedangkan aku dan lainnya membantu mengamankan tempat lokasi.


"Kapten! Dia masih bernafas, walaupun lemah dia masih hidup!"


"Apa kita bisa membawanya ke markas?"


"Oke... Elric, Kelvin kalian buat tempat pendaratan helikopter."


"Baik pak!"


Kami langsung bekerja cepat, sebelum korban meninggal dunia. Elric dan Kelvin juga langsung berlari untuk mencari lokasi pendaratan yang bagus


"Blackhawk 2, kami mendapatkan korban terluka parah. Meminta penjemputan di titik yang sudah kami tandakan."


[Disini Blackhawk 2, kami menerima pesanan anda... Lokasi pendaratan didapatkan.]


"Terima kasih blackhawk 2."


[No problem, Kapten]


Setelah menghubungi Blackhawk 2 aku kembali ke dokter.


"Tim, Bradley kita akan membawa korban ke titik penjemputan.


"Baik pak!"


Kami pun menuju ke titik penjemputan. Tim dan Bradley mengangkat tandu sedangkan dokter memegang kantong darah. Aku berada di depan memimpin mereka ke titik penjemputan.


Sesampainya disana aku melihat Elric dan Kelvin sedang mengamankan lokasi. Helikopter blackhawk 2 juga telah menunggu kami, karena area sudah dikosongkan kami pun berlari menuju helikopter.


"Dokter, Tim dan Elric akan kembali ke base, yang lain akan ikut denganku ke pusat kota."


"Baik pak!"


"Blackhawk 2 kau aman untuk mengudara."


[Terima kasih intruksinya kapten. Kami akan segera kembali secepatnya.]


"Terima kasih blackhawk 2."


Blackhawk 2 pun pergi meninggalkan benteng Fayden dengan kecepatan penuh.


"Oke teman-teman, kita akan menuju alun-alun. Cek senjatamu, amunisi dan persedianmu."


"Semua lengkap pak!"


"Lengkap!"


"Bagus, kita berangkat sekarang."


Kami pun berangkat menuju alun-alun. Untung saja unit intel telah membuat peta kota ini, jadi ini sangat memudahkanku menuju pusat kota.


"Aku harap mereka menerima kita."


"Sepertinya mereka sudah mengamankan alun-alun."


"Ya, tidak ada helikopter yang mengudara sekarang."


Kami berjalan sambil memperhatikan sekitar kami. Kami harus selalu waspada walaupun ada bantuan udara yang selalu siap membantu.


"Enemies ahead... Identity 5 goblin..."


"Take them down..."


"Roger, open fire."


Setelah membunuh monster itu kami langsung menghampirinya untuk memastikan.


"Jadi ini goblin..."


"Pak ada anak kecil bersembunyi disini."


"Bagaimana keadaannya!?"


"Tidak sadarkan diri, luka ringan dan sepertinya dia kelaparan..."


"Kalau begitu bawa dia."


"Baik pak."


Kami melanjutkan perjalanan, kami terkadang bertemu dengan penjaga yang sedang bertarung dengan monster. Tentu saja kami membantu penjaga itu. Hanya saja Kelvin kesulitan untuk bertempur karena ia membawa anak kecil dipunggungnya.


Tidak lama kemudia kami sampai di alun-alun, banyak warga yang sedang saling membantu melawan monster. Monster memang sudah habis, tapi 1-2 monster tetap menyerang mungkin itu adalah monster yang bersembunyi atau selamat dari perburuan.


2 Helikopter Huey juga mendarat di alun-alun. Sepertinya tim medis juga akan tiba sebentar lagi, karena dalam perjalan kesini aku mendengar ada yang meminta bantuan medis di radio, jadi mungkin pusat akan segera mengirimkan bantuan.


"Yo bagaimana keadaan disini?"


"Oh! Kapten Sanada senang melihatmu baik-baik saja. Disini tidak ada masalah, jika kau butuh sesuatu coba ke tenda yang ada disana."


"Terima kasih."


"No problem Kapt."


Aku dan timku pun menghampiri sebuah tenda yang dijaga ketat oleh penjaga.