My Free Life In Another World

My Free Life In Another World
A Threat For Seadom Kingdom



"Target position! Bearing 060 degrees."


"Weapons ready to engage."


"All units ready to fire, Sir."


Yamamoto terlihat sangat marah, walaupun dirinya adalah seseorang yang tidak suka marah. Tapi kali ini dia benar-benar marah.


Itu karena dia mendengar pangeran bodoh itu berbicara buruk tentang Rajanya. Bukan hanya Yamamoto saja yang marah, semua personel dan tentara yang mendengar pembicaraan Reed juga marah.


Mereka semua mencapai satu kesepakatan yang sama 'Dia harus dimusnahkan.'


"Tunggu perintah, jangan meluncurkan satupun serangan."


Yamamoto memberikan perintah. Admiral Yamamoto ingin menyelesaikan keinginan tuannya, jadi ia tidak ingin bertindak gegabah. Frantz mengatakan padanya untuk membuat perdamaian bukan peperangan.


Disaat semua bersiap, seorang pengintai memberikan laporan.


"Sir, kita mendapat kontak baru bearing 068 degrees, jarak 50 meter"


"Apa kau tau apa itu?"


"Seorang manusia ikan mengibarkan bendera putih pak!"


Yamamoto terkejut mendengarnya, ternyata para manusia ikan juga masih ada yang memiliki kecerdasan.


"Semua kapal untuk selalu bersiap menerima perintah dan aku ingin destroyer menjemput dia. Kita akan menyambutnya di dek ini."


"Baik pak!"


Anjungan kapal Gerald R Ford kembali sibuk.


"Apa Anda yakin tentang ini Admiral?"


Seorang petugas bertanya kepada Yamamoto.


"Ya aku yakin dengan keputusanku. Yang Mulia menginginkan hal ini, tapi tentu saja kita akan menyambutnya dengan baik..."


"Saya mengerti."


Mereka berdua sama-sama tersenyum jahat.


Beberapa saat kemudia manusia ikan itu sudah berada di atas dek kapal Geral R Ford. Disana Yamamoto dan beberapa petinggi menyambut kedatangan orang itu.


"Selamat datang di kapal utama armada kami."


"Ini kapal...?... Bagaimana caranya kapal ini bisa berlayar?"


Yamamoto tersenyum melihat tanggapan manusia ikan itu.


"Ah maaf, saya adalah utusan dari Kerajaan Seadom. Nama saya adalah Lusca, pemimpin dari pasukan di pos 10 Kerajaan Seadom."


"Kalau begitu perkenalkan, namaku Yamamoto. Aku adalah pemimpin armada nomor 1 Rogne Forte. Salah satu pemimpin tertinggi dibawah pimpinan langsung YANG MULIA FRANTZ."


Lusca merasakan ketakutan dan rasa intimidasi yang sangat kuat. Rasa intimidasi itu terasa semakin kuat setelah Yamamoto memperkenalkan dirinya dan memperjelas posisinya.


Ia sampai tidak bisa berbicara apapun...


"Maaf kekasaranku sebelumnya, walaupun dia seorang pangeran dan Kerajaan kalian adalah kerajaan terkuat di lautan. Tapi kami tidak akan pernah memaafkan orang yang telah menghina Tuan kami.


Kau tau, aku sudah mendengar semua pembicaraan kalian. Status pangeran kalian masih sebuah tawanan, tapi ia berani menghina Yang Mulia. Menghina seseorang yang sangat kami kagumi dan banggakan! Kau tau artinya itu!"


Yamamoto terlihat sangat marah, ia sudah pasti terdengar memberikan ancaman kepada Kerajaan Seadom. Walaupun beberapa penyihir kerajaan Seadom dapat mengendalikan ikan, tapi masih banyak makhluk air yang tidak bisa mereka kendalikan.


"Sudahlah, aku akan berusaha melupakan itu. Itu karena Tuanku ingin menjaga kedamaian antara Kerajaan kami dengan Kerajaan kalian."


"T-terima kasih atas belas kasih Anda."


Akhirnya Lusca berani bersuara, itu juga karena ia terpaksa membalasnya. Sekarang ia tau kenapa Raja Triden sangat ingin menjalin hubungan perdamaian dengan mereka. Ia benar-benar tidak tau harus bagaimana.


"Sudah tidak lupakan saja, apa kau mau masuk untuk meminum teh atau kopi dulu?"


"Tidak, tidak apa-apa... Terima kasih sudah menawarkan."


"Hahahaha tidak perlu cemas."


"Kalau begitu saya izin undur diri. Saya harus menyampaikan ke Raja Triden untuk masalah ini."


"Ya, aku juga ingin secepatnya selesai sih... Pemimpin kami juga ingin hasil yang cepat tapi memuaskan untuknya."


Benar-benar ada kata tersirat dalam ucapan Yamamoto.


"Oh ya ini... Ini hadiah untukmu karena sudah berani bertatap muka dengan kami."


Yamamoto melepaskan jam tangan analognya dan memberikan pada Lusca. Lusca mau tidak mau tidak mau harus menerimanya. Ia ingat dengan kejadian yang menimpa pangerannya, jadi dia terpaksa menerimanya.


Walaupun jam tangan itu hanyalah jam tangan biasa yang tahan air. Tapi sepertinya Lusca salah paham. Karena kesalahpahaman itu Yamamoto tersenyum.


"Terima kasih, ini benar-benar barang yang sangat indah. Terima kasih sudah memberikannya pada saya."


"Ya, jadi kau ingin langsung pergi sekarang."


"Ya, saya akan kembali untuk menghubungi keluarga Kerajaan."


"Saya mengerti, saya akan memeberikan informasi yang akan membuat Anda puas besok."


"Sampai jumpa, senang berkenalan denganmu."


"Sebuah kehormatan bisa mengenal Anda tuan Yamamoto. Saya izin undur diri."


Lusca pun meloncat ke lautan, ia langsung meloncat begitu saja sama seperti pangeran Reed. Tapi kali Yamamoto dan yang lainya tampak tidak peduli.


Setelah beberapa saat kemmudian mereka semua tertawa. Mereka tertawa karena melihat wajah utusan tadi yang begitu pucat dan ketakutan.


Beberapa tentara juga merekam moment itu. Di masa depan rekaman itu menjadi sebuah rekaman kebanggaan milik kerajaan Seadom. Bukan karena wajah takut Lusca yang mereka banggakan, tapi keberanian Lusca yang berhasil bertatap muka dengan pimpinan tertinggi angkatan laut Rogne Forte.


"Baiklah semuanya! Malam ini kita akan beristirahat dengan shift. Hubungi semua kapal untuk melakukan hal yang sama. Aku juga ingin kapal destroyer dan kapal selam untuk berpatroli bergantian."


"Baik pak!"


Yamamoto pun kembali ke anjungan kapal. Lebih tepatnya ia menuju ruang kapten.


Sesampainya disana, ia tampak tidak senang.


"Aku ingin kasur ini di bakar dan menggantinya yang lain. Ganti pewangi ruangan ini juga."


"Baik pak!"


Yamamoto pergi ke anjungan, karena tidak mungkin ia akan menunggu di ruangan yang sedang di rapihkan.


"Bagaimana orang tadi?"


"Ia berenang sangat capat melebiihi kecepatan ******** Reed."


Yamamoto tersenyum mendengar bawahannya. Sepertinya amarah pasukannya tidak bisa dipadamkan begitu saja.


"Kerja bagus semuanya."


Beberapa lama Yamamoto terus mengawasi semua keadaan hingga akhirnya ia diminta untuk beristirahat oleh salah satu petugas di kapal.


Yamamoto pun hanya mengiyakan saja. Ia pun beristirahat dengan tenang.


Di tengah laut, kapal Yamato dan pengawalnya berhenti karena dihadang oleh sesuatu yang besar.


Itu adalah sebuah monster seperti ular tapi memiliki sisik yang mengerikan. Ia juga memiliki 2 pasang insang yang besar di kepalanya. Mungkin bentuk tubuhnya seperti naga shenlong, naga kepercayaan orang cina.


"Wahai, para manusia pilihan. Izinkan saya bertemu dengan tuan kalian."


Semua tentara terdiam, mereka terkejut monster besar itu bisa berbicara. Ia juga berkata dengan sopan.


"Letnan Asada, tolong bangunkan Yang Mulia."


"Tapi pak?"


"Ia pasti akan langsung mengerti."


"Baik pak."


Kapten Kosaku yang tampak tenang pun meminta Letnan Asada untuk memanggilkan Frantz. Semua tentara yang sebelumnya takut dengan kemunculan monster itu, tapi sekarang mereka menjadi takjub dengan monster itu.


Letnan Asada pun sampai di kamar kapten, tempat Frantz beristirahat. Lalu ia mengetuk pintu agak keras.


"Yang Mulia, ini Letnan Asada."


"Hm? Ada apa?"


Frantz pun langsung terbangun. Frantz memiliki kewaspadaan tinggi walaupun dia tertidur. Ia bisa mendengar dan merasakan keadaan tubuhnya walaupun sedang tertidur. Lebih tepatnya ia menjadi lebih sensitif ketika tertidur.


Walaupun itu membuatnya lelah, tapi sejak dari bumi ia sudah terbiasa.


"Yang Mulia Anda diminta untuk ke anjungan kapal oleh Kapten Kosaku."


"Ah tunggu sebentar."


Frantz mencuci mukanya di westafel yang ada di kamarnya. Setelah itu ia memakai seragamnya. Ia menggunakan seragam angkatan laut yang ada di ruangan kapten. Tanpa ia duga ternyata baju itu pas dengannya.


Setelah berpakaian dan merapihkan diri ia membuka pintunya.


"Ada apa?"


"Ada monster besar yang menghalangi rute kita."


"Monster? Apa dia tidak menyerang kita?"


"Iya, monster itu seperti naga Shenlong yang memiliki ukuran panjang dan seperti ular. Monster itu juga tidak menyerang kita, ia hanya ingin bertemu dengan Anda."


"Apa! Ayo cepat kesana."


"Baik, Yang Mulia."


Seketika Frantz membayangkan sesuatu.


'Jangan katakan itu adalah Leviathan? Jika itu benar apa yang ingin ia lakukan?'


Itulah yang dipikirkan Frantz. Ia berjalan cepat ke anjungan kapal.