My Free Life In Another World

My Free Life In Another World
Episode 30 : Leviathan And Let's Take A Break



*** POV Frantz ***


 


 


Sesampainya di anjungan, aku begitu terkejut melihat monster itu.


 


 


"Apakah itu ular?"


 


 


"Tidak tuan, saya pikir itu adalah seekor naga laut."


 


 


"Jadi itu naga ya..."


 


 


Berarti itu benar leviathan kan? Bukankah itu gawat?


 


 


"Apa yang ia inginkan?"


 


 


"Itu Anad, Yang Mulia. Ia ingin bertemu dan berbicara dengan Anda."


 


 


"Jadi seperi itu... Kalau begitu aku akan kesana sekarang."


 


 


Aku keluar anjungan dan menuju ke menara pengawas. Sampai disana aku disambut, tapi aku hanya mengabaikan mereka.


 


 


"Fly."


 


 


Fly adalah ebuah mantra sihir terbang. Di dunia ini sihir masih memerlukan lafalan, tapi ternyata lafalan itu hanya untuk meningkatkan imajinasi. Jadi selama pengguna sihir tau sebab akibat dari sihirnya, ia tidak perlu lafalan.


 


 


Aku terbang menghampiri naga itu.


 


 


"Wahai putra sang dewa. Maafkan saya karena mengganggu waktu istirahat Anda. Nama saya Leviathan dan saya adalah penguasa lautan."


 


 


Ternyata memang Leviathan, apa dia cuma ingin mengucap salam?


 


 


"Sepertinya kamu sudah mengetahui identitasku."


 


 


"Tentu saja, saya tau. Dewa tertinggi telah memberitahu kami tentang Anda."


 


 


"Apakah Ayahku menyebarkan identitasku?"


 


 


"Tentu saja tidak, jika itu terjadi dunia ini akan segera hancur. Hanya makhluk yang berada di bawah perintah langsung darinya saja yang mengetahui identitas Anda sebenarnya."


 


 


Benar juga dengan apa yang dikatakan olehnya. Apalagi Kerajaan Agama di dunia ini, mereka pasti langsung mengagungkan diriku. Atau menganggap diriku sebagian dari mereka.


 


 


Itu akan sangat merepotkan dan mungkin akan menjadi peperangan besar.


 


 


"Aku mengerti... Lalu apa ada lagi? Aku ingin melanjutkan istirahatku."


 


 


Karena dia sudah tau identitasku, jadi aku harus bersikap sedikit arogan. Sifat arogan disaat seperti ini sangat dibutuhkan.


 


 


Dia sudah tau tingkat kedudukannya, jika aku tidak mengeluarkan sedikit sifat arogan, itu akan membuat dia ragu.


 


 


"Saya diberitahu kalau Anda kemungkina akan merubah ekosistem di lautan. Sebenarnya saya sangat marah dengan hal itu, tapi saya hanya akan menonton saja."


 


 


"Maaf kalau hal itu, aku akan berusaha tidak menghancurkan lautan."


 


 


"Terakhir, mungkin Anda akan bertemu dengan salah satu dari kami lagi."


 


 


"Maksudmu para bawahan Ayahku?"


 


 


"Ya."


 


 


"Terima kasih informasinya, aku akan meminta orang-orangku untuk berlebihan mengekploitasi lautan."


 


 


"Terima kasih juga karena Anda sudah mengerti. Kalau begitu saya undur diri."


 


 


Leviathan langsung kembali ke luat dan menyelam.Walaupun tubuhnya sangat besar, ternyata gerakannya cepat juga.


 


 


Sekarang waktunya kembali.


 


 


Setelah sampai di anjungan, aku kembali disambut oleh Kapten Kosaku dan Letnan Asada.


 


 


"Selamat datang, Yang Mulia."


 


 


"Ini selimut untuk Anda Yang Mulia."


 


 


Setelah Kapten Kosaku menyambutku, seorang tentara wanita memberikanku selimut yang cukup tebal.


 


 


"Terima kasih."


 


 


Wanita itu hanya tersenyum dan pergi.


 


 


"Yang Mulia, Anda sangat luar biasa!"


 


 


"Ya Anda sangat hebat, bisa berhadapan denan monster besar itu."


 


 


"Yang Mulia benar-benar Raja terhebat."


 


 


"Bahkan Leviathan, monster terkuat di lautan tunduk pada Yang Mulia."


 


 


Semuanya benar-benar meninggikan diriku. Tapi ada yang aneh, kenapa mereka tidak mengetahui kalau aku anak dewa? Apa Leviathan menggunakan sihir silence?


 


 


Seperti nama sihirnya, sihir silence akan membuat ruangan kecil agar suara yang di dalam tidak terdengar sampai luar. Begitu juga sebaliknya, suara yang dari luar tidak akan terdengar di dalam


 


 


"Apa ada kabar dari Armada 1, Kosaku?"


 


 


"Mereka berhasil membuat kontak dengan manusia ikan. Pertemuan juga akan diadakan secepatnya."


 


 


"Hmmm... Sepertinya rencana berhasil ya... Apa ada masalah?"


 


 


"T-tidak ada Yang Mulia, semuanya berjalan lancar."


 


 


 


 


Lupakan saja, mungkin Yamamoto memiliki rencananya sendiri.


 


 


"Yasudah kalau begitu, apa persediaan masih banyak?"


 


 


"Cukup untuk 5 hari, Yang Mulia."


 


 


"Apa ada pulau terdekat?"


 


 


"Kebetulan kami menemukan pulau kecil."


 


 


"Bagus! Kita akan beristirahat satu hari di pulau itu."


 


 


"Maaf?"


 


 


"Kita akan beristirahat disana, aku ingin berenang di lautan tau."


 


 


"Tapi..."


 


 


"Apakah bisa?"


 


 


Kapten Kosaku terdiam dan terlihat kebingungan. Apakah itu berat? Dia menarik nafas dalam-dalam dan mengeluarkannya perlahan.


 


 


"Baik, Yang Mulia. Besok kita akan ke pulau kecil itu dengan kapal kecil."


 


 


"Terima kasih Kosaku, kamu memang bisa diandalkan."


 


 


"Anda berlebihan Yang Mulia."


 


 


"Sudah-sudah, aku ingin beristirahat. Jika memerlukan diriku, bangunkan saja seperti tadi."


 


 


"Baik Yang Mulia, kami akan berusaha untuk tidak mengganggu istirahat Anda."


 


 


"Terima kasih."


 


 


Aku meninggalkan anjungan dan kembali ke kamarku. Tentu saja sesampainya disana aku langsung rebahan.


 


 


Tidak lama kemudian aku pun tertidur.


 


 


Keesokannya aku bangun dan melihat sudah jam 7. Karena semalam aku tertidur dengan seragamku, jadi aku hanya mencuci muka saja.


 


 


Setelah itu aku keluar dan menuju anjungan. Sesampainya disana ada Kapten Kosaku sudah pasti, tapi aku tidak melihat Letnan Asada.


 


 


"Selamat pagi Yang Mulia."


 


 


"Ya pagi... Dimana Letnan Asada, biasanya dia di sampingmu?"


 


 


"Dia bersama beberapa kru sedang mengekplorasi pulau kecil disana."


 


 


"Oh jadi dari semalam kalian sudah bertugas."


 


 


"Tidak perlu khawatir Yang Mulia. Kami juga sudah beristirahat, sesuai perintah Anda. Kami melakukan 3 shift untuk bertugas."


 


 


"Walaupun begitu bukankah kalian akan kurang tidur?"


 


 


"Kami sudah terbiasa dan terlatih untuk seperti itu. Semua tentara memang memiliki kemampuan tidur terjadwal. Hal ini juga bisa menjadi latihan untuk kami jika sedang dalam pertempuran."


 


 


Aku bingung ingin membalas apa, aku tau semua tentara pasti mengalami pelatihan tidur yang hanya 1-3 jam saja.


 


 


"Baiklah aku mengerti, usahakan mereka bisa beristirahat full tanpa terganggu."


 


 


"Tentu Yang Mulia. Anda memang seorang pemimpin yang sangat pantas kami hormati."


 


 


"Jadi bagaimana pulau itu?"


 


 


"Sebentar Yang Mulia."


 


 


Kapten Kosaku menghubungi seseorang melalui radio kapal. Mungkin ia menghubungi Letnan Asada atau seseorang dari pulau kecil disana.


 


 


"Ya... Ya... Hm, kerja bagus. Ya kami akan kesana secepatnya. Terima kasih atas kerja keras kalian. Kalian bisa beristirahat disana."


 


 


Setelah itu Kapten Kosaku memutuskan radio. Lalu kembali menghadapku.


 


 


"Jadi?"


 


 


"Disana sudah ada tenda untuk istirahat para tentera dan tenda khusus untuk Anda."


 


 


"Bagus, kalau begitu ayo kesana sekarang."


 


 


"Baik Yang Mulia, tolong ikuti saya."


 


 


Kami pun keluar dari dari anjungan, kami terus turun hingga sampai di dek kapal.


 


 


Banyak tentara yang sedang berjemur ataupun bermain di dek kapal. Kapal Yamato memiliki dek yang luas jadi bisa digunakan untuk tempat istirahat. Ada juga yang sedang mancing dan membakar ikan tangkapannya.


 


 


"Sepertinya mereka senang."


 


 


"Itu semua berkat Anda."


 


 


Hehehe aku tidak tau itu sebuah pujian atau ejekan.


 


 


Kami turun dari dek dengan tangga tali. Dibawah ada perahu dayung, ya perahu yang biasa buat penyelamatan.


 


 


Aku berdiri di depan kapal dan beberapa orang mendayung. Rasa ini sangat luar biasa, seperti menjadi seorang pemburu di assasin creed atau bajak laut.


 


 


Hingga akhirnya aku sampai di pulau kecil itu. Ya tida terlalu kecil juga sih. Mungkin memiliki diameter sekitar 50 meter. Tentu saja aku langsung disambut dan diajak bermain oleh para tentara.