My Free Life In Another World

My Free Life In Another World
Preparation and Riana Blackwell



*** POV 3 ***


"Sepertinya Yang Mulia tertidur lelap."


"Yang Mulia sudah memaksakan dirinya untuk bekerja. Bahkan terkadang waktu tidurnya terganggu."


Manstein dan Suigin tersenyum melihat tuannya tertidur lelap.


"Nyonya Alice apa perlu saay mengambilkan alas dan bantal untuk Yang Mulia?"


"Tidak perlu, terima kasih Jenderal Manstein."


"Baik."


"Admiral Yamamoto sepertinya juga tertidur."


Alice melihat Yamamoto yang memejamkan matanya dan bersender ke pohon besar.


"Saya selalu siap jika Anda membutuhkan saya."


Yamamoto membuka matanya dan menjawab. Alice pun tersenyum melihat Yamamoto yang memiliki kewaspadaan tingkat tinggi walaupun sedang tertidur.


"Tenang saja kau bisa beristirahat, kalian juga sebaiknya istirahat saja."


"Terima kasih, tapi kami memiliki kewajiban menjaga Anda."


"Dibawa santai saja, ini kan sudah jadi wilayah kita. Lagipula disini juga tidak ada ancaman musuh. Lihat Mayor Mathias sudah kesini."


Manstein dan Suigin bingung ingin menjawab apa, sedangkan Yamamoto hanya tersenyum tipis.


Mathias pun menghampiri mereka, lalu memberikan hormat.


"Saya telah membawa rancangan pembanguna gedung."


Seketika Yamamoto membuka matanya, Suigin dan Manstein juga tampak marah. Mathias pun bingung dan takut melihat atasannya memerhatikan dia dengan tatapan membunuh.


"Ikut aku."


"Ba-"


Mulut Mathias langsung ditutup oleh Suigin. Penyebab mereka marah memang karena Mathias datang dengan suaranya yang kencang. Itu akan menggangu tidur sang Raja.


Suigin merangkul Mathias dan menjauh dari pohon itu. Alice pun tersenyum melihat orang-orang tampak bahagia.


Walaupun sebenarnya mereka marah, tapi di pandangan Alice mereka hanya mengobrol.


"Apa kau buta!? Yang Mulia sedang tertidur dan kau malah berteriak disana."


"M-maaf pak. Saya tidak melihat Yang Mulia tertidur."


"Kau tau hukuman jika menggangu Yang Mulia bukan!?"


Mathias menelan ludahnya sendiri. Ia tahu hukuman apa yang akan diterima jika mengganggu Yang Mulia.


Apalagi ia adalah seorang pria berpangkat tinggi. Maka hukumannya juga akan semakin berat.


"Untuk kali ini akan ku maafkan. Karena Yang Mulia mungkin akan membutuhkanmu nanti."


"Terima kasih, Tuan Suigin."


"Kalau begitu berikan rancangan itu padaku."


Mathias pun memberikan sebuah tas pada Suigin.


"Tunggu disini, Manstein akan menemuimu."


"Baik!"


Suigin segera kembali membawa tas itu. Mathias berdiri tegak berdiam diri bawah terik matahari.


"Manstein kuserahkan dia padamu."


"Yup, terima kasih. Yang Mulia juga sudah memberikan tugas padaku. Aku akan mengurusnya dengan baik"


Suigin dan Manstein saling mengacungkan jempol. Yamamoto yang masih membuka matanya dan melihat rekan kerjanya bertingkah seperti anak kecil, ia hanya bisa menggelengkan kepalanya lalu tersenyum lagi.


'Semoga bocah itu tidak mati.'


Kata Yamamoto dalam hatinya.


Alice yang mengerti maksud 'Mengurus' pun tertawa kecil. Alice juga mendoakan keselamatan Mathias.


"Nyonya Alice, ini rancangannya. Apa kita akan membangunkan Yang Mulia?"


"Tidak perlu, letakkan saja di bawah pohon nanti aku sendiri yang akan menyerahkan padanya."


Suigin pun meletakkan tas itu di dekat Alice.


"Suigin, aku ingin kamu untuk menginspeksi ulang. Lalu membuat laporan apa saja yang kurang."


"As you wish."


Suigin langsung pergi setelah menerima perintah Alice.


"Yamamoto?"


"Saya siap menerima perintah."


"Kau bawa beberapa orang bersamamu dan mencari tempat yang bagus untuk membangun pelabuhan. Aku ingin kamu menemukan 2 lokasi untuk pembangunan pelabuhan. Pertama lokasi cocok dengan militer lalu yang kedua untuk umum."


"Ah tidak apa-apa. Tinggalkan saja kami disini. Berikan kami waktu berdua, hubungi juga Manstein untuk membantu para tentara."


"Baik."


Yamamoto juga pergi meninggalkan tempat itu. Setelah Yamamoto pergi, Alice bersandar di batang pohon. Walaupun ia merasa agak pegal karena pahanya menjadi bantal untuk Frantz, tapi angin yang sejuk dan segar membuat dirinya mengantuk.


Tidak lama kemudian Alice pun terlelap...


Kota Bartham semua pasukan masih terus berjaga di sekitar benteng. Serangan yang mereka kira akan datang semalam ternyata tidak terjadi.


Raeburn masih bingung dengan apa yang terjadi dari dalam hutan. Semalam ia melihat banyak ledakan dan api yang menjulang tinggi. Suara ledakan pun terdengar sangat keras.


"Apa sedang terjadi perebutan wilayah di hutan itu?"


Raeburn bertanya pada seorang pemuda yang tampak spesialis pada kehutanan dan monster. Walaupun terlihat muda sebenarnya ia sudah cukup tua, karena dirinya seorang elf jadi umurnya lebih lama dari manusia.


"Menurut perhitunganku memang sedang terjadi perebutan wilayah. Bebagai buku mencatat disana menjadi tempat naga api dan naga hitam. Kedua naga itu selalu bertempur tapi naga hitam lebih hebat dibanding naga api. Jadi kemungkinan ledakan itu terjadi karena naga api mulai memberontak pada naga hitam."


"Jika naga api menang apa akan ada ancaman serangan monster?"


"Aku rasa akan lebih buruk, naga hitam sudah sangat tua sedangkan naga api masih naga dewasa."


"Jadi Malcer, bagaimana jika perhitunganmu salah?"


Raeburn menatap tajam elf yang bernama Marcel itu. Raeburn selalu mementingkan orang lain daripada dirinya sendiri.


"Benar salahnya perhitunganku, kita harus tetap segera melakukan investigasi."


"Kau benar, tapi kita tunggu knight dari ibukota dulu. Mereka membawa perintah Raja, kita juga harus memberikan mereka indormasi yang kita dapatkan."


"Kalau begitu aku akan mengatur para petualang dan membuat pengumuman."


"Aku akan mengatur pasukanku, terima kasih bantuanmu MArcel."


"Kita adalah teman, dan sekarang posisi kita sama. Tidak perlu berterima kasih, sampai nanti."


"Ya sampai nanti."


Mereka berdua keluar dari ruangan dan berpisah.


Sedangkan di ibukota kerajaan Starkt, Raja Claudio sedang bersama istrinya bersantai di halaman istana.


"My king, ada pesan dari mata-mata."


Zander menghampiri Claudio lalu meletakkan tangan kanannya di dadanya dan sedikir membungkuk.


"Apa itu dari ibukota kerajaan Duld?"


"Itu benar, Yang Mulia."


"Aku mengerti... Claudia, aku masih ada kerjaan."


"Aku mengerti."


Claudio pun menjauh bersama Zander. Mereka berjalan ke tempat latihan para prajurit.


"Yang Mulia, kerajaan Duld telah membeli banyak meriam. Mereka membeli total 100 meriam dan mendapatkan bantuan 100 meriam dari kekaisaran."


"Apa! Kekaisaran Edoath sudah benar-benar bosan."


"Ya saya juga tidak menyangka mereka akan membantu. Sepertinya ada sesuatu yang salah di kekaisaran."


"Kau benar, pasti disana adam salah besar."


"Apa kita harus mengirim mata-mata?"


"Tidak, untuk saat ini jangan dulu. Aku tau kekaisaran sedang memperhatikan kita. Jika kita mengirim mata-mata mereka akan segera mengetahuinya."


"Lalu apa yang akan kita lakukan."


"Kumpulkan para petinggi militer. Kita bertemu lagi di rapat militer."


Zander dan Claudio pun berpisah. Claudio langsung menuju tempat latihan para knight, karena memang letak rapat militer berada di sana. Sedagkan Zander berlari mencari para petinggi militer.


Para petinggi militer biasanya ada yang melatih, dirumah, dan bersantai. Jadi Zander menemui beberapa knight untuk meminta bantuan.


Sedikit kisah dari kota Zert. Sebuah kota pelabuhan milik kerajaan Starkt. Mereka memiliki penghasilan yang besar karena dekat dengan lautan. Banyak pedagang yang menggunakan kapal untuk membawa kargo.


Walaupun kota tersebut adalah kota yang kaya, tapi penduduknya sangatlah sengsara. Itu karena bangsawan yang memimpin rakyatnya adalah seorang koruptor.


"Dasar anak *******! Kau hanya sebuah tikus yang tidak tau tempat!"


"Hahahaha ibunya aja seorang *******, ******* yang menaiki ranjang tuannya hahahaha. Sudah untung dibeli dari tempat perbudakan eh malah naik ke ranjang tuannya. Benar-benar gak tau malu!"


Orang yang mereka hina adalah seorang perempuan bernama Riana, karena ayahnya bermarga Blackwell jadi Riana memiliki marga Blackwell. Walaupun begitu Riana adalah anak yang lahir dari seorang budak.


Sebenarnya ibunya Riana adalah seorang wanita cantik dikota itu, tapi kejadian buruk menimpanya. Sehingga ia menjadi budak, lalu di beli oleh ayahnya Riana.


Semua itu adalah rencana busuk Dedric Blackwell yang tidak lain adalah ayahnya Riana. Keseharian Riana selalu di buli oleh keluarga ayahnya. Tapi Riana tidak bisa melawan.


Riana sudah berumur 24 tahun, tubuhnya mewarisi kecantikan ibunya dan dia lebih pendek dari perempuan seumurannya. 18 tahun lalu ibunya meninggal karena sakit, sebenarnya disiksa tapi Riana tidak bisa melawan.


Kembali ke waktu sekarang, Riana disiram dengan air pel. Orang yang menyiramnya adalah putra ke 2 keluarga Blackwell.


Akhirnya semua orang pergi meninggalkan Riana yang basah. Riana pun kembali ke ruangan bobroknya di sebuah gudang kecil samping kandang kuda.


Dia mengambil baju kenangan ibunya dan memeluknya. Ia pun menangis sambil memeluk baju ibunya yang sudah lama meninggal. Ia selalu berharap seseorang akan membantunya. Hingga akhirnya ia terlelap karena lelah menangis.