
Malam ini terasa dingin...
Aku kira berlayar akan sangat menyenangkan, tapi ternyata hanya di awalnya saja. Walaupun dengan kapal impian ini aku mulai merasa bosan.
Pemandangan saat matahari tenggelam sudah sangat memanjakan mata dan malam ini juga sangat indah. Kurangnya polusi cahaya membuat bintang terlihat bertebaran di langit dan sangat indah.
"Yang Mulia, tolong masuklah ke dalam. Angin malam ini akan mempengaruhi kesehatan Anda."
"Tidak apa, aku ingin memandangi langit lebih lama lagi."
"Kalau begitu Pakailah selimut ini."
Aku menerima sebuah selimut yang lumayan tebal. Aku pun memakainya dan selimut itu cukup membut tubuhku hangat.
"Terima kasih. Kembalilah ke posisimu Letnan Asada, aku ingin sendiri disini."
"Baik Yang Mulia."
Letnan Asada Hiroshi, meninggalkanku di dek depan. Sungguh malam yang indah dan damai. Bagaimana keadaan di seberang sana ya? Apa para korban sudah di pulangkan?
Aku melihat jam yang di pergelangan tanganku.
"Ternyata sudah jam setengah 8... Mungkin lebih baik aku tidur."
Lewatkan saja...
*** POV 3 ***
"Apakah sudah sampai?"
"Ya, berhenti disini."
"Baiklah... Hubungi semua kapal"
Yamamoto meminta bawahannya untuk menghubungi semua kapal di armada 1.
"Disini Admiral Yamamoto, teman-teman kita sudah sampai. Semua kapal berhenti."
Setelah menerima perintah itu, semua kapal pun perlahan berhenti. Yamamoto berbalik dan melihat si pangeran ketiga.
"Sekarang tugasmu."
"Aku tau."
Pangeran ketiga tampak kesal, tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa. Dia tau apa yang akan ia hadapi jika melawan.
"Antarkan dia."
"Yes, Sir!"
Pangeran ketiga di jaga oleh 4 tentara, dua di depan dan dua lagi di belakang.
Sesampainya di dek pangeran itu langsung lompat begitu saja. Padahal ia belum di perintahkan untuk melompat.
Sebab akan sangat berbahaya jika dia hilang kendali dan terkena lambung kapal lalu pingsan. Jika di pingsan sudah pasti akan terkena baling-baling kapal.
Pangeran ketiga terus berenang ke dalam laut. Kapal destroyer mulai bekerja untuk mendeteksi sonar.
Pangeran ketiga juga sudah diberi pelacak oleh seorang suster yang bertugas merawatnya. Perawat itu diberi perintah langsung oleh Yamamoto, karena Yamamoto sudah menduga kalau Frantz menginginkan kerja sama dibandingkan perang. Itu juga bukan hanya sebuah pelacak sederhana, tapi juga sebagai bom mini. Walaupun bentuknya seperti kalung, daya ledaknya cukup untuk memisahkan kepala dengan badan.
Perangkat itu juga cukup berguna untuk mencari letak keberadaan kota bawah laut itu. Karena sonar yang dikirimkan kapal destroyer tidak mendapatkan apa-apa, kota itu sudah seperti terhalang sesuatu.
Akhirnya Reed sampai di pos pengawas bawah laut no 10. Tentu saja ia samapi disana langsung disambut dan dihormati.
"Hoi aku ingin menemui ayahku dengan 'alat itu'"
"Yang Mulia... Alat itu sudah dipakai 3 kali hari ini. Kami baru saja menggunakan yang ketiga."
"Bodo amat, aku ingin menghubungi ayahku. Cepat lakukan!"
"T-tapi Yang Mulia, alat itu akan hancur jika dipaksakan."
"Tcih, memangnya yang berkuasa itu siapa ha! Aku atau kau yang berkuasa!? Aku ingin itu maka harus itu!"
Prajurit yang melihat pimpinannya dimarahi oleh pangeran hanya bisa diam dan menunduk. Melawan perintah keluarga kerajaan sama aja dengan memberontak, jadi hukumannya adalah kematian.
"Nah gitu dong dari tadi."
Pemimpin prajurit itu tampak sangat marah, berbeda dengan sang pangeran. Ia tersenyum puas merasa dirinya masih berada di puncak.
Mereka masuk ke ruangan khusus. Mereka harus melewati 2 pintu untuk masuk ke dalam, yang pertama pintu dari karang dasar laut yang berat jika dibuka dan kedua menggunakan sihir khusus pada sebuah cincin yang diberikan langsung dari keluarga kerajaan.
"Ayahanda! Aku sudah kembali!"
Pangeran sangat bahagia melihat ayahnya lagi. Dia senang bukan karena kangen tapi ia senang karena masih bisa memiliki kekuasaan berkat ayahnya.
"Jadi kamu sudah kembali. Apa kamu menemukan sesuatu?"
Triden, sang Raja Seadom sebenarnya tau apa yang dipikirkan oleh putranya. Dia juga berharap putranya mati oleh pertempuran. Itulah sebabnya ia mengirim pangeran Reed untuk ke permukaan dan melihat makhluk baru yang saat ini ada di permukaan.
"Ayah, kamu harus percaya. Mereka adalah orang barbar. Mereka bahkan membuatku memakan makanan hancur."
"Jadi seperti apa makhluk barbar itu?"
Triden juga sudah tau apa yang terjadi di permukaan, itu karena skill unik yang diturunkan dari pendahulunya. Skill yang hanya diberikan pada Raja Seadom. Skil itu dapat melihat lautan yang ia ingin lihat, melalui penglihatan ikan-ikan.
"Tapi Ayah mereka bukan hanya barbar, mereka juga punya senjata yang sangat menyeramkan."
Secara kebetulan Triden juga melihat ledakan itu. Kebetulan juga ikan yang indranya di hubungkan dengan dia terkena dampak ledakannya. Itu membuat Triden memutuskan indra ikan itu dengan paksa, akibatnya ya Triden akan merasakan sakit.
"Lalu apa mereka meminta sesuatu?"
"Mereka bilang ingin kerja sama dan damai dengan kerajaan kita. Mereka juga mengancam akan membunuhku, ayah harus membantuku. Kerajaan kecil mereka mana bisa dibandingkan dengan kerajaan kita yang besar ini kan."
"Hmmm..."
"Apa ayah diam saja! Putramu dipermalukan dan direndahkan oleh mereka. Ayah hanya diam saja melihatku diperlakukan seperti itu!?"
"Tenanglah... Apa kau yakin sudah mengatakan semuanya? Kalung apa itu?"
"Ah ini, disana ada wanita yang sangat cantik dan dia berkata ingin memberikan kalung ini pada pacarnya tapi aku rebut. Terlihat bagus bukan?"
"Ya itu bagus, apa ada lagi yang ingin kau sampaikan?"
"Terakhir aku ingin pemimpin mereka mati ditanganku! ******** itu sudah menhinaku berkali-kali dan meremehkanku! Aku akan mengulitinya dan membuat dia "
Belum selesai pangeran itu berbicara, tiba-tiba saja kepala pangeran itu meledak. Tubuhnya yang kehilangan bagian kepala dan dada bagian atasnya itu pun roboh.
Sang Raja, Triden sangat terkejut melihat putranya tiba-tiba saja meledak. Pemimpin prajurit juga terkejut dengan ledakan itu, kalau itu sebuah sihir ia pasti bisa langsung mendeteksinya. Tapi ia tidak merasakan aliran sihir saat ledakan itu.
"A-apakah ada aliran sihir disana?"
"Ma-maaf Yang Mulia, s-saya tidak merasakan sedikit pun aliran sihir aktif."
Pemimpin prajurit itu takut disalahkan karena tidak bisa melindungi sang pangeran.
"Itu bukan salahmu. Itu salah dia karena telah menyinggung seseorang yang tidak boleh dia singgung. Kau perintahkan semua prajurit disana untuk tutup mulut tentang ini."
"Bagaimana kita memberitahu ke semua orang atas kematian Pangeran Reed?"
"Kalau begitu sebar saja informasi kalau Pangeran Reed mati dalam perburuannya melawan Megca"
Megca adalah monster laut seperti paus orca, namun memiliki ukuran panjang sekitar 18 meter seperti megalodon. Walaupun begitu monster itu cukup ramah jika tidak diganggu, tapi jika monster itu merasa diganggu ia akan menjadi sangat berbahaya. Monster itu adalah bawahan langsung dari hewan dewa penguasa lautan yaitu Leviathan.
"Baik Yang Mulia. Lalu apa yang akan kita lakukan dengan mereka?"
"Kau ke permukaan dengan membawa kain putih. Aku yakin mereka akan segera meluncurkan serangan. Kain putih di permukaan digunakan sebagai tanda menyerah."
"Apa kita akan menyerah?"
"Tentu tidak, kita akan terus mempertahankan Kerajaan ini. Namun dengan kain putih itu, aku percaya mereka tidak akan menyerang."
"Baik Yang Mulia, saya akan segera kesana."
"Semoga beruntung."
Setelah tampilan Raja Triden menghilang, alat komunikasi itu hancur berkeping-keping. Penggunaannya memang sehari bisa 3 kali, tapi tidak bisa dipaksakan lebih dari 3 kali dalam sehari.
Prajurit itu langsung berlari mengambil sebuah tongkat, lalu mengikat baju putih di tongkat itu. Setelah itu ia langsung berenang ke permukaan dengan cepat. Karena nasib kerajaan Seadom sudah berada di tangannya.